Mantan Suami

Mantan Suami
# 72


...Jendela hijau berdecit ngilu....


...Tirai tertutup....


...Hijau memenuhi ruang....


...Suhu dingin mendekap tulang....


...Aku terjaga, melihat sekitar....


...Mereka bukan pasien biasa....


Alat penunjang merayap di tubuhnya.


...Kabel-kabel tertata di badan....


...Pipa karet menyumbat kerongkongan....


...Infus terpasang, malah lebih dari satu....


...Mereka pejuang hidup....


...Dalam lelap mereka berjuang....


Ada keputusan di atas Sana.


Ada takdir yang akan menyapa.


Kehidupan atau Kematian.


...Waktu akan menjawab....


Tidak sia perjuangan mereka.


...Karena Allah Maha Pemberi. Keputusan terbaik....


Tiada Sia-sia bagi hamba yang berjuang.


...****************...


Yolla berdiam diri di sebelah ranjang Mama Dania Tidur atau masih belum sadar, dia kurang tau.


Pasal nya dia masuk tadi belum sempat atau dia memang lupa bertanya, ? Tentang kondisi Mama Dania yang sudah sadar atau belum sadar ke pada Papa Bagio atau Mas Arka yang menunggu di luar.


Tangan Yolla terulur ingin menyentuh tangan Mama Dania, dengan sedikit ragu.


Terdengar hembusan nafas dari bibir manis milik Yolla, sebelum jemari nya benar-benar bersentuhan dengan tangan Mama Dania.


Meskipun, dia sedikit sakit atas perilaku dan ucapan Mama Dania.


Namun di lubuk hati nya yang paling dalam, rasa perikemanusiaan rasa sayang masih ada ke pada orang yang pernah dia panggil Mama selain Mama kandung nya sendiri.


Tanpa Yolla sadari, karena sibuk ngelamun. Kedua kelopak mata milik Mama Dania terbuka lebar dengan sempurna sekaligus berkaca-kaca.


''Sesakit itukah kamu tak ingin menyentuh ku.'' Lirih nya, namun sangat jelas di indra pendengaran telinga Yolla.


Yolla tersenyum manis sebelum mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan dari Mama Dania tersebut.


''Ku kira tidak perlu, karena Yolla yakin Mama pasti tau betul apa yang aku rasa kan.?'' Lanjut Yolla, yang masih tersenyum manis. Sesekali mengusap lembut punggung tangan Mama Dania.


''Ya, kamu benar.''


''Maaf, ''Lirih Mama Dania, satu kata yang tidak pernah keluar dari mulut pedas wanita yang berusia lima puluh tahun ke atas itu.


''Seperti nya indra pendengaran ku sejak masuk ke dalam sini tiba-tiba rusak, deh Ma.'' Canda Yolla, menyentuh telinga nya sendiri.


''Mama tau gak, Yolla tuh paling senang mendengar suara pedas dari bibir Mama, setiap kali kita bertemu, Tidak dengan sekarang.'' Ucap Yolla di susul dengan tertawa ringan.


Sedangkan di dalam mata nya menyimpan kesedihan yang mendalam.


Yolla di ingatkan kembali di masa lima tahun yang lalu. Datang ke Rumah Sakit yang masih mengenakan seragam sekolah SMA menangis histeris di depan ruang ICU.


Kedua orang tua nya yang baru keluar dari ruang ICU dengan keadaan meninggal dunia.


''Benarkah,''


Hmmm, Yolla mengangguk.


''Mau kah kamu kembali lagi dengan putra ku.?'' Ucap Mama Dania penuh harap. ''Mama janji, Mama akan berubah.''


''Mama kan belum sehat, lebih baik Mama beristirahat dulu dan jangan terlalu banyak pikiran.''


Mama Dania menggeleng cepat, tanda tak setuju. Apa yang Yolla ucapkan.? ''Mama akui, kalau Mama selama ini telah membuat mu menderita atas sikap Mama.'' Ucap Mama mulai menangis.


''Pengkhianatan yang telah putra ku lakukan di hotel waktu itu, sudah Mama balas dengan cara Mama sendiri, sayang.''


''Aku tau Ma, Namun apa yang kita lihat belum tentu benar Ma.?''


''Tapi aku tidak suka pengkhianatan.''


''Semua orang, tidak cuma Mama sendiri.''


''Bukan nya Mama ingin berubah. ?''


Mama Dania menoleh ke arah Yolla yang sedang menatap nya juga.


''Demi Yolla, ''


''Iyah asalkan kamu mau menjadi istri putra ku lagi.''


''Lepaskan Maya, karena ada anak kecil menunggu nya.''


''Bukan nya dia sudah bebas.''


Membuat Yolla menautkan kedua alis nya.


...****************...


MOMY SIU sedikit sibuk, tak sempat menulisπŸ™πŸ™πŸ™.


Baca juga, Bukan Suami Pengganti sambil menunggu up di sini 😘