
Bola mata Lula kini sibuk, mencari laki-laki yang di sebut Papa oleh anak kecil yang sedang bersama nya saat ini.
''Tante, Tante, Dio lelah,'' Adu Dio.
''Baiklah, kita harus turun dan segera pulang.''
''Gendong Tante, ''
''Baiklah, '' Pasrah Lula, menggendong Dio menuju abang pemilik permainan ini. ''Ini bang uang nya, berdua. '' Beritahu Lula.
''Terima kasih neng, besok datang lagi, yah.''
Lula tersenyum mengangguk, ''Kalau ada uang nya Bang.'' Canda Lula.
''Ah sih neng, selalu ada tuh neng.''
''Iya, ya, ya, aku pergi dulu Bang.'' Pamit Lula berlalu pergi dari abang pemilik mainan tersebut.
''Dio, '' Panggil Lula.
''Dio, Papa kamu sebelah mana, ?'' Tanya Lula, tanpa dia sadari anak yang di panggil Dio sudah terlelap di pundak nya.
''Dio, ''Ulang Lula kembali.
''Hai, mau di bawa kemana anak ku. ?'' Panggil Bian, yang tiba-tiba sudah berada di belakang Lula yang berjalan.
''Aku mau bawa dia ke Papa nya, asal kamu tau.'' Jawab Lula sedikit ketus.
''Bawa sini, biar Aku saja yang menggendong nya.'' Pinta Bian.
''Harus dong, kamu kan Papa nya, bukan aku.'' Kesal Lula, ''Seharusnya kamu tuh berterima kasih kepada ku, karena aku yang sudah membantu mu mengajak anak kamu bermain.'' Sindir Lula.
''Cepat, ini anak kamu ambil,!''
''Iya, ya sabar dong, bagaiman cara nya aku ambil alih. Gak mungkin kan kedua tangan ku masuk ke dalam situ.'' Tunjuk Bian pada bagian dada Lula, karena posisi Dio memeluk Lula, dengan kepala di taruh di pundak nya.
Lula mengikuti arah telunjuk, laki-laki yang di sebut Papa oleh anak yang berada di dalam gendongan nya.
Kedua mata Lula melebar, ''Dasar mesum, ''
Bian tak terima, di katain mesum oleh gadis yang baru dia kenal ini, ''Aku bukan laki-laki yang mesum, Aku hanya memberitahumu, bagaimna Aku mengambil alih anak ku saja.?'' Kesal Bian.
''Ya, ya udah, begini saja. Kamu tadi kesini naik apa?''
''Naik mobil, ''
''Bagus,''
''Bagus apa nya. ?''
''Ya bagus, biar Aku gendong anak kamu sampai ke tempat mobil kamu.'' Terang Lula kesal.
Setelah terdiam beberapa waktu, Bian buka suara. ''Ide kamu tidak terlalu buruk.''
''Ide Aku memang solusi yang terbaik, dan sekarang cepat tunjukan di mana letak mobil kamu.''
''Baiklah, baiklah, mobil Aku sebelah situ,'' Tunjuk Bian, di mana tempat mobil nya terparkir.
''Hai, hati-hati jalan nya. Kamu sedang membawa anak ku, jangan sampai dia terjatuh gara-gara kamu.'' Teriak Bian, melihat punggung seorang gadis yang menggendong ponakan nya itu kian menjauh dengan terburu-buru.
''Cepat tunjukan, yang mana mobil mu.'' Tanya Lula yang tak sabaran.
''Sabar dikit kenapa,? Kalau menolong seseorang itu harus ikhlas.'' Membuka kunci pintu mobil nya secara otomatis.''Masuk lah, pelan-pelan jangan sampai membangunkan dia.''
Dengan gerakan pelan-pelan, Lula menaruh kepala Dio terlebih dahulu di atas kursi penumpang. ''Akhir nya,'' Gumam Lula, sambil menggerakkan tangan nya yang terasa pegal.
''Uh, anak kamu benar-benar berat.'' Ucap Lula pelan.
Bian menaikan ujung alis nya ke atas, ''Kau mengatai anak ku berat gitu, !''
''Memang kenyataan nya seperti itu,'' Jawab Lula jujur.
''Kamu aja yang terlalu kurus, bukan anak ku yang berat.'' Ejek Bian.
''Terserah kamu saja, Aku pergi dulu bye, bye.'' Berbalik badan ingin segera pergi.
''Tunggu, '' Cegah Bian, menarik pundak gadis itu.
''Apa lagi, ?''
''Siapa nama kamu, ?'' Tanya Bian.
''Apakah pertanyaan kamu perlu Aku jawab.?''
''Banget,''
''Baiklah, panggil saja Aku Lula.''
''Kamu sedang mencari pekerjaan. ?'' Tanya Bian lagi, setelah menutup pintu mobil nya.
''Kok kamu tau, ?''
''Aku hanya menebak, dari segi penampilan mu dan di tambah satu map coklat yang selalu kamu pegang. Itu sudah kelihatan, kalau kamu sedang melamar pekerjaan.'' Jelas Bian.
Lula menepuk jidat nya sendiri, ''Lalu, urusan dengan kamu apa ?'' Bingung Lula.
''Aku memiliki sebuah Cafe, jika kamu mau, kamu bisa menjadi pelayan di sana.'' Tawar Bian.
''Serius, ''
''Apa raut wajah Aku sedang bercanda.?'' Geram Bian.
Lula mengamati wajah Bian dengan seksama. Tak sengaja kedua mata mereka saling bertemu hingga beberapa waktu.
DEG.
Lula membuang muka terlebih dahulu, ''Kenapa dengan jantung ku.?'' Pikir Lula.
Ehem, Lula berdehem menormalkan detak jantung nya. ''Tulis alamat Cafe kamu di sini, biar besok aku datang melamar bekerja di tempat Cafe kamu.'' Menyerahkan ponsel nya ke pada laki-laki itu. ''Sekalian dengan nama kamu,''
Hmm