
"Papa sulit memahami seorang wanita, tapi Papa berjanji akan selalu belajar untuk memahami mu nak." Bisik Liam, dengan mengusap lembut pipi tembem putri nya.
"Bagi setiap orang, Papa adalah cinta pertama anak perempuan. Tapi bagi Papa sendiri, kamu adalah cinta kedua setelah Mama mu."
''Nak, kamu adalah harta berharga untuk Papa. Sampai kapan pun selama Papa masih hidup, Papa akan menjagamu dengan sepenuh hati."
''Maafin Papa, Papa memang tak memiliki banyak waktu bermain dengan mu. Dengan kedua tangan ini Papa ingin kau mengejar mimpimu setinggi mungkin." Doa Liam.
"Kebahagiaan terbesar bagi Papa adalah kebahagiaanmu, putri Papa, tercinta."
Ungkap Liam, yang merasa bersalah. Melihat putri nya tak mendapatkan kasih sayang dari Mama kandung nya sendiri. Liam memejamkan kedua mata sesaat, ucapan di masa lalu kembali muncul.
''Jika kamu tidak menginginkan seorang anak itu dari ku. Biarkan dia tumbuh dan ikut dengan ku, biarkan dia menjadi tanggung jawab ku sendiri nanti nya''
''Aku menyesal, pernah berkata demikian rupa. Tetapi aku tak pernah menyesal, kamu hadir di hidup Papa.'' Mengecup kening putri nya sebelum keluar.
Maya melihat Liam ayang baru keluar dari kamar putri nya. ''Tiara belum bangun, ?'' Tanya Maya, yang lagi sibuk memasak sup ayam. Dia sengaja tadi memasak untuk makan malam mereka bertiga.
''Belum, '' Jawab Liam cuek.
''Apa makanan yang aku pesan sudah datang.?'' Tanya Liam tanpa menoleh ke arah Maya.
Maya menghentikan gerakan nya, ketika dia ingin mencicipi sup yang dia buat sendiri.
''Kamu sudah pesan makanan.?''
''Iya, apa belum datang,?''
''Belum. ''Tanya Maya menelan rasa kecewa.
"Beritahu aku kalau makanan yang aku pesan sudah datang."
Maya mengangguk, "Iya, "
Mendengar jawaban dari Maya, Liam segera melangkah pergi dari hadapan Maya.
...***************...
Arka meraih tangan istri nya. ''Please, kali ini maafin aku. Aku tak bermaksud, menganggap mu tidak ada, sayang. Sebenar nya tadi aku mau diskusi dulu dengan mu, namun, Papa selalu mendesak ku, dengan alasan, Mama kita akan cepat sembuh kalau mendengar berita ini. Kamu tau kan kondisi Mama kemarin sempat memburuk.'' Jelas Arka berkata jujur.
Memang Mama nya kemarin sempat memburuk dan selalu mengigau nama Yolla terus-menerus. Tanpa pikir panjang dia berani membongkar rahasia pernikahan nya tanpa diskusi dulu dengan istri nya itu.
''Sudah kan, aku mau makan.'' Menepis pelan tangan Arka dari tangan nya.
Dret
Dret
Arka menatap sendu panggilan masuk di dalam ponsel nya. Gara-gara dia aku dan istri ku salah paham. Namun, kalau di pikir lagi, Maya tidak sepenuh nya bersalah.
Dia datang hanya ingin berkunjung, dan soal memeluk, tidak ada salah nya kan. Toh kita berdua sudah bersahabatan sangat lama. Bukan nya peluk-memeluk itu hal yang wajar ketika bertemu kawan lama, pikir Arka.
''Ya hallo, '' Jawab Arka, yang akhir nya menjawab panggilan masuk dari Maya.
''Apa kamu sudah makan malam,?'' Tanya Maya.
''Memang nya kenapa. ?'' Tanya Arka.
''Kalau belum, tadi aku buat sup ayam, dan kebetulan sekali tidak ada yang memakan nya.''
''Hmm, bagaimana kalau kamu kasih ke orang lain saja.? Soal nya Aku, aku_____''
''Kamu tau kan ini pertama kali nya aku memasak,? Setelah empat tahun aku di kurung di ruangan itu.'' Ucap Maya sedih.
''Di mana Liam, ? Kenapa tidak makan bersama Liam saja.?''
''Ku pikir tadi sih begitu, namun dia sudah memesan makanan dari luar lebih dahulu.''
''.... ''
''Please Arka, dari pada masakan yang aku buat mubazir, kamu mau kan, makan masakan buatan aku.'' Bujuk Maya.
Arka menjadi tak tega ke pada sahabatan nya itu, ''Ok, kita bertemu di luar, nanti aku chat lokasi nya. Namun aku datang tidak sendirian May, kamu gak apa-apa kan.?''
Maya tersenyum senang, ''Aku tak masalah, ya udah aku siap-siap dulu.''
Hmmm
Tut
Arka berjalan mendekat ke arah istri nya, yang sudah duduk dan bersiap untuk makan malam.
''Sayang, mau gak kita makan malam di luar.'' Ajak Arka ragu, pasal nya Yolla istri nya itu sudah menyendok makanan nya dan tinggal di masukan ke dalam mulut nya.