Mantan Suami

Mantan Suami
# 89


Arka terkejut, dengan cepat dia ikut berlari menghampiri istri nya yang terus memuntahkan isi perut nya.


Dengan perlahan, Arka memijat tengkuk istri nya dengan lembut.


Hoek


Hoek


''Udah, '' Melihat istri nya membersihkan bagian sudut bibir nya dengan tisu, pemberian Bibi nya.


Belum sempat mendongakkan kepala nya, perut Yolla kembali di aduk-aduk.


Hoek


Hoek


Satu jari Yolla terangkat, menunjuk Arka suami nya itu untuk pergi menjauh dari dia berada.


Arka yang masih bingung, apa yang di maksud oleh istri nya itu. Hanya diam di tempat nya.


Bibi yang melihat arahan gerakan tangan Nyonya nya, dengan berinisiatif membuka suara nya. ''Maaf Tuan, mungkin Nyonya Yolla menyuruh Tuan pergi menjauh.'' Ucap Bibi sambil menunduk sedikit takut, yang sedari tadi masih setia berdiri di tempat nya. Sejak Tuan dan Nyonya nya sedang berdebat soal aroma parfum.


Arka menoleh ke arah Bibi nya, dan beralih cepat ke arah istri nya yang masih menggerakkan satu jemari nya dengan gerakan yang sama.


Arka bergerak mundur lima langkah dari Istri nya berada. ''Apa sudah jauh.?'' Dengan lima langkah Arka pikir ini jarak yang sudah jauh.


Gerakan jemari Yolla menggeleng kuat, yang bertanda belum atau masih kurang jauh.?


Langkah kaki Arka kembali mundur, dan sekarang di tambah tiga langkah kaki lagi. ''Apa segini masih kurang juga.?'' Tanya Arka, memperhatikan jarak di antara dia dengan istri nya itu. Jika di hitung sudah delapan langkah kaki Arka mundur ke arah belakang.


''Kalau jarak kita sejauh ini, lalu, bagaimana cara nya aku membantu kamu, sayang.'' Keluh Arka.


Yolla luruh di atas lantai dengan deru nafas tak teratur. Memegang perut nya yang sedikit lega, setelah isi nya di keluarkan semua, meskipun hanya air yang rasa nya pahit.


''Apa kamu baik-baik saja.?'' Panik Arka, yang ingin bergerak maju membantu istri nya luruh ke lantai.


''Stop, ja jangan kesini Mas, aku, aku baik-baik aja.'' Ucap Yolla terbata, dengan mengatur nafas nya yang masih naik turun.


''Tapi______''


Satu jari Yolla terangkat kembali dengan gerakan cepat. Membuat Arka bungkam seketika. ''Lebih baik, Mas ganti baju dulu, sebelum membantu ku.'' Saran Yolla.


Arka tak langsung menjawab nya, karena dia masih bingung apa yang sebenar nya yang terjadi saat ini.?


''Baiklah, aku akan berganti baju dulu. Dan kamu, dan kamu jangan pergi kemana-mana sebelum aku kembali lagi kesini.'' Pesan Arka, dan langsung bergerak balik badan melesat pergi menjauh untuk berganti baju.


''Jangan memakai parfum lagi Mas, aku tidak suka dengan aroma nya.''


''O oke sayang,'' Pekik Arka, dengan suara yang sedikit berat. ''Parfum,'' Ulang Arka. Bagi Arka tiada hari tanpa parfum. Bahkan dia memiliki beberapa botol parfum kecil yang bisa dia bawa kemana-mana.? Dan sekarang ini istri nya melarang dia memakai parfum.


''Seperti nya, aku harus membawa istriku pergi membeli parfum yang baru, parfum yang dia sukai.'' Pikir Arka, membiarkan langkah kaki nya membawa tubuh nya menuju kamar mereka berdua.


Tak ingin berlama-lama, Arka bergerak cepat mengambil kemeja putih dan segera dia pakai dengan terburu-buru.


Setelah selesai mengancingkan kemeja putih nya, Arka meraih Jas putih tanpa berniat memakai nya dan berlari cepat turun ke bawah dengan langkah besar nya.


''Apa kamu baik-baik saja, ?'' Tanya Arka, menghampiri istri nya yang sudah duduk di kursi meja makan. Satu tangan nya terangkat menyentuh kening istri nya. ''Tidak panas.'' Gumam Arka.


Yolla tersenyum dan di susul anggukkan kepala nya pelan, ''Aku baik-baik saja, Mas. Tadi aku hanya tidak suka dengan aroma parfum kamu yang menyengat di indra penciuman ku.''


''Bukan nya, parfum ini yang dulu kamu sukai ya. Kenapa sekarang kamu baru protes,? '' Heran Arka yang masih bingung, dengan tingkah istri nya pagi ini.


''Sudah, jangan di bahas lagi Mas. Lebih baik kita sarapan pagi.'' Ajak Yolla, meminum susu hangat yang baru di buatkan oleh Bibi nya.


''Mau aku ambilkan, '' Tawar Yolla.


Arka menangguk, ''Boleh, ''


''Ok, '' Jawab Yolla, dengan meraih piring suami nya.


Dengan telaten, Yolla mengambilkan nasi serta lauk nya ke dalam piring tersebut. ''Apa mas mau, telur dadar yang baru di buat oleh Bibi.?''


''Terserah kamu saja,''


''Ok, nih sudah lengkap, tinggal makan. '' Menaruh piring di depan suami nya.


''Apa kamu yakin, tidak apa-apa.?'' Masih belum yakin Arka kembali bertanya.


''Yakin Mas, Mas tidak lupa kan, aku ini calon Dokter.''


Arka mengangguk pelan, ''Kasih tau aku, kalau ada apa-apa.?'' Mengusap lembut pipi istri nya.


''Pasti nya.''


''Aku harus memastikan sesuatu, '' Pikir Yolla.