
Arka berulang kali melirik jam tangan yang dia pakai sekarang ini. Terlihat sangat jelas kalau dia sedang gelisah menunggu Yolla istrinya itu.
Satu jam lebih Arka menunggu istri nya di ruang tamu, dengan salah satu tangan nya berada di pinggang, tangan yang lain mengusap wajah nya frustasi.
''Seharusnya kamu sudah sampai, sayang. Bahkan kamu tadi lebih dulu pulang ketimbang aku.'' Pikir Arka.
''Apa tuan ingin ku buatkan minuman. ?'' Tawar Pak Lukman, yang sedari tadi berdiri tak jauh dari tuan nya.
''Apa pak Lukman yakin, kalau istri ku belum pulang.?'' Tanya Arka memastikan lagi. ''Siapa tau dia sudah berada di dalam kamar nya.?'' Lanjut Arka.
''Sungguh tuan, Nona Yolla belum pulang sejak tadi pagi.''
''Bahkan, sejak tadi sore saya memotong rumput di depan rumah. Saya tak melihat Nona masuk atau sebuah mobil yang berhenti di depan rumah ini.'' Ucap Pak Lukman jujur.
''Kalau tuan masih ragu, Kenapa Tuan tidak mengecek nya langsung ke dalam kamar Nona Yolla.'' Heran Pak Lukman.
''Kenapa kalian semua memanggil istri ku sebutan Nona,? Apa kalian lupa dia itu istri ku.?''
''Maaf Tuan, Nona Yolla sendiri yang melarang kami menyebut nya panggilan Nyonya.'' Ucap Pak Lukman sambil menundukkan kepala nya ke bawah.
''Hahh, terserah kalian. '' Pasrah Arka.
''Terima kasih Pak, sudah mengantar ku sampai di rumah dengan selamat.'' Ucap Yolla tersenyum tulus..
''Sama-sama neng, apa ini tidak berlebihan neng.?''
''Apa nya Pak, ?''
''Uang nya, ''
''Ambilah Pak, bapak tadi sudah menunggu ku terlalu lama.''
''Ini benaran neng, '' Tersenyum senang, supir taksi tersebut.
Yolla mengangguk, ''Iya Pak.''
''Terima kasih, sekali lagi neng.''
Di kira mobil taksi sudah pergi menjauh, Yolla ingin segera masuk ke dalam kamar nya. Membersihkan tubuh nya yang terasa lengket dan bau seharian ini.
Grep
''Sayang, '' Bisik Arka, memeluk erat pinggang istri nya. Menaruh dagu di atas pundak nya dan menghirup dalam-dalam aroma yang selalu bikin rindu.
Eh, Yolla terkejut ketika di peluk tiba-tiba dari belakang seperti ini.
''Sebentar, aku kangen banget sayang.''
''Please, '' Mohon Yolla.
''Ok, aku lepas.''
Yolla segera melangkahkan kaki nya menuju anak tangga, dan di ikuti oleh suami nya dari arah belakang.
Ceklek
''Akhir nya, '' Melemparkan tubuh nya di atas sofa panjang yang dekat dengan ranjang nya.
''Kamu dari mana, ? Kenapa sepatu kamu terkena tanah basah.?'' Tanya Arka, yang tak sengaja melihat bekas sepatu yang di pakai istri nya itu.
''Dari Makam, '' Jawab Yolla jujur, beranjak dari tiduran nya dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
''Jam segini,''
''Iya, ''
''Kenapa tidak mengajak ku,? Aku bisa menemani kamu ke sana.'' Ucap Arka yang bersandar pada dinding kamar mandi.
''Aku tidak kepikiran ke situ, Mas, lain waktu saja.'' Jawab Yolla dari dalam kamar mandi.
...****************...
Ceklek
Yolla keluar dari kamar mandi, dengan rambut di gulung ke atas dengan handuk. Memperlihatkan leher jenjang putih yang terpampang jelas di depan mata.
Glek, Arka menelan saliva nya sendiri berulang kali. Dengan aroma vanila mengoar di indra penciuman nya, dan aroma sampo dari rambut Yolla tercium jelas hidung nya.
''Apa Mas akan mengikuti aku berganti baju, ?'' Sindir Yolla halus, pasal nya sejak tadi suami nya itu selalu mengikuti nya dari belakang.
''Eh hmm tidak, aku tunggu di atas ranjang.'' Ucap Arka, yang justru masuk ke dalam kamar mandi.
''Mas, ''
''Iya,'' Balik tubuh menghadap istri nya.
''Itu kamar mandi loh, ''
Arka tersenyum kaku, ''Iyah, aku, aku mau membersihkan dulu tubuh ku.'' Jawab nya sedikit gugup.