
Dret
Dret
Dret ponsel Papa Bagio bergetar. Dengan cepat Papa Bagio menoleh melihat dan terpampang jelas nama rekan bisnis nya menelpon.
''Aku naik ke atas dulu, Ma, Arka. Rekan bisnis Papa menelpon. '' Pamit Papa Bagio, mengecup pipi sang istri berlalu menjauh dari mereka berdua.
''Iya, Pa. '' Jawab Mama Dania.
Sedangkan Arka mengangguk sebagai jawaban nya, karena dia sedang meminum kopi hitam rutintas setiap pagi nya.
Sepeninggal Papa Bagio pergi ke ruang kerja nya. Kini di ruang meja makan tersebut hanya ada mereka berdua.
Ehem, Mama Dania yang sudah tak sabaran ingin bertanya. Kini dia membuka suara lebih dulu sebelum putra nya. Mumpung ada kesempatan berdua dengan putra nya itu, pikir Mama Dania.
''Hmm, apa maksud dari omongan mu tadi Arka?'' Tanya Mama Dania berusaha santai.
Arka melirik ke arah Mama nya dan beralih lagi ke ponsel nya.
''Omongan Arka yang mana sih Ma.?'' Balik tanya Arka, dia masih ingin berpura-pura tak tau ke arah mana Mama nya bertanya.?
''Ayolah, jangan berpura-pura tak tau, apa yang Mama maksud. ?'' Mama Dania sedikit kesal.
''Oooh, Arka tak menyangka loh Ma. Kalau Mama tega menghancurkan masa depan seseorang yang jelas-jelas tak salah dalam hal ini.'' Kini Arka lebih fokus menatap Mama nya dengan meja di antara mereka berdua.
''Dia yang memulai duluan, jika kamu lupa. ''
Mama Dania terdiam menatap ke arah putra nya dengan sorot penyesalan. Namun dia berusaha tak memperlihatkan hal itu, apa lagi di depan putra nya itu. ?
Dia juga sudah menduga, rahasia di balik ruang jenazah itu cepat atau lambat Arka akan mengetahui nya.
Karena dia yakin, Bodyguard yang bernama Liam akan membuka suara secepat nya.
''Jika kamu tau Arka, Mama sudah mengetahui segala rencana Liam untuk membongkar semua nya dangan kamu.'' Batin Mama Dania sedih.
''Aku sudah berusaha memberi kenyamanan untuk dia, sebagai bentuk maaf ku. Dan untuk melepaskan dia, Mama belum nyakin kalau dia tidak pergi menjauh dari kamu.'' Pikir Mama Dania yang masih ada rasa takut.
Pengkhiatan yang di lakukan oleh mantan tunangan dari putri nya, kini mulai berputar di kepala nya. Yang sekarang ini membuat kepala nya sedikit pusing.
''Aku ke kamar dulu, '' Pamit Mama Dania, yang ingin cepat segera pergi ke dalam kamar nya. Untuk mengambil sesuatu, sesuatu yang setiap pagi nya dia harus meminum nya.
''Aku sudah membawa dia pergi dari sana, Ma. '' Ucap Arka tiba-tiba, ketika Mama Dania meminta izin masuk ke dalam kamar nya.
Langkah kaki Mama Dania berhenti sejenak tanpa menoleh sedikit pun. Tak selang lama langkah kaki itu kembali melangkah tanpa kata yang keluar dari mulut Mama Dania.
Arka yang melihat respon dari Mama Dania yang seperti nya menghindar. Dia mendengus kesal.
''Apa Mama berusaha menghindar, ?'' Lanjut Arka lagi. Yang tiba-tiba mengingat ucapan Bodyguard Liam kemarin di Rumah Sakit.
''Cek dulu kesehatan Nyonya Dania, karena yang ku tau, Nyonya Dania memiliki trauma pada penghianatan.''
''Penghianatan, '' Pikir Arka, dengan mengingat-ingat masa lalu.