
"Sudah tidak ada jalan lain..." ucap Dokter dengan lirih, ia menyerahkan sebuah surat pernyataan pada Anggun.
Anggun menahan napas, air matanya mengalir deras hingga membahasi kertas itu. Dengan tangan yang gemetar, Anggun mengambil pulpen yang di berikan Dokter kemudian ia memberikan tanda tangannya di kertas itu dengan begitu berat hati.
"Ma, jangan kasih tahu mas Arsyad, ya. Tolong," lirih Anggun memohon pada ibunya yang hendak menghubungi Arsyad untuk memberi tahu bahwa anak dalam kandungan Anggun sudah tak bernyawa lagi. "Aku nggak mau dia tahu, Ma." Anggun berkata dengan pilu.
"Tapi dia harus tahu, Anggun. Di saat seperti ini seharusnya dia ada buat kamu, dia dukung kamu, bukan malah hilang," seru Bu Husna yang juga tak bisa membendung air matanya.
Cucu pertamanya telah pergi bahkan sebelum terlahir ke dunia ini, semesta merenggutnya dengan paksa, dengan kejam, dari orang-orang yang sangat mengharapkan kehadirannya. Dan sekarang, ia pergi, pergi seperti Ummi Ridha, meninggalkan semua yang telah di usahakan untuknya. Kini semuanya tampak sangat sia-sia, tak ada yang tersisa, tak sedikitpun ada yang tersisa.
"Anakku satu-satunya ikatan yang tersisa antara aku dan mas Arsyad, Ma. Aku nggak mau sampai dia tahu anak kami udah nggak ada, apa kata dia nanti, Ma," lirih Anggun dengan hati yang terkoyak.
Saat ini ia terpaksa harus mengangkat janin dalam perutnya karena janinnya bukan hanya tak berkembang tapi juga tak lagi memiliki detak jantung, tak lagi bernyawa. Satu-satunya kekuatan yang Anggun punya kini sudah di renggut darinya begitu saja, semua yang dia harapkan, inginkan, sudah tak ada yang tersisa.
"Sudah saatnya melakukan operasi, Bu Anggun," ucap Dokter kemudian. "Tegarlah, Bu. Saya yakin, di balik ini semua, ada hikmah besar yang akan Tuhan berikan pada ibu."
***
Lahore, Pakistan.
Di Pakistan kini sudah memasuki waktu magrib, Javeed yang biasanya langsung shalat kini justru hanya duduk termenung seolah ia kehilangan gairah hidup. Ibunya pun sudah tahu bahwa putranya itu telah patah hati.
"Kan sudah aku peringatkan, Jav. Aira itu baru saja bercerai, bahkan dalam perutnya masih ada janin mantan suaminya, tapi kamu terlalu naif, berfikir Aira bisa kamu taklukan dengan mudah."
"Aku tahu nggak mudah menaklukan dia, aku cuma nggak nyangka aja secepat ini aku terhempas dan terlempar, bahkan sebelum aku mengepakkan sayapku," lirih Javeed sambil tersenyum kecut.
Sang ibunda begitu prihatin melihat keadaan Javeed yang sedang terluka untuk pertama kalinya karena cinta pertamanya, namun sayangnya ia tak bisa melakukan apapun untuk meringankan perih di hati Javeed yang sedang patah hati.
"Ikhlas, Nak. Nggak semua yang kita mau bisa kita miliki, nggak semua yang kita cintai bisa kita miliki, kamu harus belajar menerima semua itu. Lagi pula, kalau memang kamu mencintai Aira dengan tulus, ikhlaskan dia untuknya. Jika kebahagiaanmu adalah Aira, maka izinkan Aira bahagai meski dengan orang lain. Dan berbahagialah kamu karena sudah mengizinkan ia bahagai meski tak bersamamu."
Javeed terdiam, ia teringat kembali dengan tatapan penuh cinta Arsyad pada Aira juga pada Via, bahkan Via dan Aira juga menatap Arsyad penuh kerinduan dan cinta yang sama besar. Mereka memang tampak seperti keluarga yang memliki ikatan cinta yang kuat, namun menyadari semua itu, Javeed justru punya tanda tanya besar dalam benaknya, apa yang membuat mereka sampai bercerai bahkan dalam keadaan Aira hamil?
Sementara di sisi lain, Aira pun sedang siap-siap sholat bersama Via dan Bi Sri, tentu juga dengan Arsyad namun Arsyad tak menjadi imam di karenakan ia hanya bisa sholat di atas kursi rodanya. Setelah selesai sholat dan berdizirki, Aira dan Bi Sri pun menyiapkan makan malam untuk mereka sementara Via dan Arsyad kini sedang nonton tv. Ayah dan anak itu seperti lem saja, begitu lengket, enggan terlepas. Bahkan sejak tadi Aira Via terus berada di kamar Arsyad, berceloteh ria tanpa lelah.
"Nyonya, apa tidak sebaiknya Nyonya jangan bekerja, kan nanti Nyonya capek," kata Bi Sri yang kasihan melihat Aira yang perutnya sudah besar hingga membuat Aira tampak kesulitan bergerak.
"Nggak apa-apa kok, Bi. Aku udah biasa masak sendiri," kata Via namun tiba-tiba terdengar Arsyad memanggilnya.
"Aku lagi pengen masak, nggak capek kok," ucap Aira lirih, ia menghindari tatapan Arsyad dan terus pura-pura menyibukan diri.
Arsyad mendorong kursi rodanya mendenkati Aira, ia menarik ujung baju Aira hingga Aira kembali menoleh. "Via yang minta temenin, Humaira. Ayolah, sudah lama kita nggak bisa menghabiskan waktu bersama seperti ini," bujuk Arsyad, ia menatap Aira dengan begitu sendu, membuat hati Aira bergetar seperti dulu, saat pertama kali Arsyad menatapnya setelah akad nikah, penuh cinta.
"Ummi..." teriak Aira yang datang sambil berlari. "Ummi, ayo kita nonton tv sama-sama, seperti waktu di rumah duu" ajak Via bahkan kini ia menarik-narik baju Aira.
"Via, Ummi masak dulu, Sayang," kata Aira, ia melempar tatapan sendu nya pada Via.
"Kan sudah ada Bi Sri, Ummi. Ayolah..." rengek Via manja, Aira menatap Via yang kini menampilkan wajah memelasnya.
"Ya udah, Ummi cuci tangan dulu," kata Aira kemudian yang membuat Via bersorak girang, ia menatap Arsyad dan mengedipkan matanya pada Arsyad, Arsyad pun melalukan hal yang sama.
Ingin menghabiskan waktu bersama seperti dulu memang murni keinginan Via, namun ide nonton tv bersama adalah ide dari Arsyad.
Ini hari pertama Arsyad kembali bersama Aira dan Via, lalu mana mungkin Arsyad membiarkan Aira memasak? Tak menemaninya yang sudah merindukan Aira.
Kini Aira, Arsyad dan Via berjalan menuju ruang tengah, dimana tv sudah menyala menampilkan film kartun kesukaan Via.
Arsyad hendak berpindah dari kursi rodanya ke sofa, biasanya ia bisa, selalu bisa, namun kini ia berpura-pura tak bisa, bahkan Arsyad merintih lirih seolah kesaitan hingga ia menarik perhatian Aira. Tanpa fikir panjang Aira langsung membantu Arsyad. "Hati-hati, Mas," pintanya.
"Terima kasih," ucap Arsyad setelah ia berhasil duduk selonjoran di sofa.
Aira tak menjawab, ia hanya menyunggingkan senyum tipisnya sebelum akhirnya ia duduk di samping Via.
"Astagfirullah, aku lupa ponselku belum di aktifkan," kata Arsyad kemudian.
"Biar aku ambilkan," ucap Aira menawarkan diri.
"Terima kasih, Ponselnya ada di tasku," tukas Arsyad, Aira hanya menggumam. Ia pun bergegas ke kamar Arsyad dan mengambil ponsel Arsyad.
Setelah itu, ia kembali ke ruang tengah kemudian memberikan ponselnya pada Arsyad. Dengan cepat Arsyad meng-aktifkan ponselnya dan ia mengernyit saat melihat ada beberapa panggilan dari nomor ibunya Anggun.
Tbc...