
Setelah melakukan penerbangan kurang lebih 14 jam, akhirnya kini Aira dan seluruh keluarganya sudah sampai di Indonesia.
Mereka langsung pulang ke rumah yang ada di desa dan mereka di sambut dengan riang oleh Jibril dan keluarga besar Ummi Firda. Mereka menyambut anak pertama Aira dengan penuh haru, bahkan beberapa tetangga juga berdatangan ke rumah Aira untuk melihat baby Ali.
Berbagai pujian dan do'a baby Ali dapatkan dari orang-orang yang menghormati dan menyeyangi keluarganya, bahkan tak sedikit orang yang memberikan hadiah sebagai bentuk rasa bahagia mereka atas kehadiran bayi itu, meskipun mereka tahu, hadiah apapun bisa baby Ali dapatkan dengan mudah mengingat siapa orang tuanya.
"Wah, jadi ini bayi yang dulu membuat neneknya shock..."
"Iya, Tiy. Udah keluar, ganteng, 'kan. Mirip kakeknya, blasteran lho."
Dokter Tiya terkekeh mendengar apa yang di a katakan oleh temannya itu, ia masih ingat dengan jelas bagaiamana ekspresi wajah Aira dan Ummi Firda saat ia menyatakan bahwa Aira memang hamil.
"Ya Allah, Nak. Kamu emang ganteng sih, aduh." dokter Tiya menggendong baby Ali dan ia menciumnya tanpa henti, seolah dokter Tiya memang sangat gemas dengan bayi itu.
"Nama lengkapnya siapa, Ai?" Tanya dokter Tiya kemudian.
"Ali Zubair Ibrahim, Tante." Aira menjawab sembari mengikat rambut Via kemudian setelah itu ia memerintahkan Via agar tidur di kamarnya, karena Via pasti lelah setelah dari perjalanan yang cukup jauh.
"Tidur di kamar ya, Vi. Nanti Ummi sama adik bayi nyusul," ujarnya namun Via menggeleng sambil cemberut padahal ia tampak sangat kelelahan. "Kenapa?" Tanya Aira.
"Nanti adik bayinya di ambil orang, kenapa semua orang kesini?" bisik Via yang langsung membuat Aira tertawa kecil.
"Nggak, Sayang. Mereka kesini cuma mau mengantar hadiah untuk adik bayi, bukan mengambilnya," jelas Aira.
Sementara dokter Tiya kini masih terus menimang baby Ali yang masih tertidur lelap. "Ai, dia tidurnya nyenyak banget neh. Kamu bawa ke kamar aja, biar nggak terganggu," kata dokter Tiya.
"Iya, Sayang. Kamu juga pasti lelah banget, istirahat ke kamar gih," ujar Arsyad dan Aira pun mengangguk mengerti.
Ia segera mengambil baby Ali dari gendongan dokter Tiya kemudian ia membawanya ke kamar, Via pun mengekorinya dari belakang begitu juga dengan Arsyad.
Mereka bertiga masuk kamar untuk beristirahat apalagi besok pagi mereka berencana akan ke bandung untuk menemui Anggun.
Ummi Firda baru teringat bahwa ia punya teman dokter yang mungkin bisa membedakan anak yang baru di lahirkan dengan normal dan tidak, kini ia ingin tahu apakah dugaanya benar atau itu hanya perasaannya saja.
"Tentang apa?" Tanya dokter Tiya dengan kening sedikit mengernyit karena temannya itu terlihat sangat serius.
"Ini loh, kamu sudah biasa lihat anak baru lahir, 'kan? Neh, coba tebak, anak ini baru di lahir atau sudah lama, terus lahirnya normal apa nggak." Aku dokter Tiya semakin mengernyit bingung mendengar ucapan absurd Ummi Firda, namun ia tetap ia melihat foto bayi yang di tunjukan oleh Ummi Firda.
"Yang pasti bayi ini sudah di atas satu bulan sih, kenapa? Bayinya siapa itu?" Tanya dokter Tiya.
Ummi Firda terdiam sejenak, karena sampai detik ini tak banyak orang yang tahu bahwa Arsyad sebenarnya punya dua wanita dalam hidupnya, bahkan sampai detik ini dokter Tiya pun tak tahu penyebab perpisahan sementara Arsyad dan Aira.
"Emm, sebenarnya dia itu anaknya Arsyad tapi dari wanita lain," cicit Ummi Firda setengah berbisik yang langsung membuat dokter Tiya melotot terkejut.
"A-apa?" ia bertanya tak percaya. "Tapi bagaimana bisa? Bukannya..."
"Panjang ceritanya, Tiy." Ummi Firda kembali berbisik, ia pun kini menceritakan apa yang terjadi, sampai kelahiran anak Anggun yang katanya prematur dan itu membuat dokter Tiya terperangah.
"Kami nggak mungkin tanya langsung ke orangnya karena kami takut kembali di bohongi, jadi kami berencana besok akan menemui dia," kata Ummi Firda.
"Aku nggak bisa memastikan karena ini cuma foto, Fir." dokter Tiya berkata sembari kembali melihat foto yang ada di ponsel Arsyad, dan seketika keningnya berkerut saat ia melihat satu foto terkahir. "Ini 'kan Anggun, Fir. Kamu kenal?" Tanyanya.
"Kenal lah, dia istri kedua Arsyad," jawab Ummi Firda.
"Hah?" Pekik dokter Tiya. "Dia yang buat aku pulang terlambat dari Bandung, Tiy. Dia yang aku bilang anaknya meniggal saat dalam kandungan."
"Hah?"
TBC...