
Acara yang di persiapkan Arsyad berjalan dengan sangat lancar, semua orang menikmati acara itu bahkan Micheal memuji ide Arsyad cukup brilliant.
Dan pagi ini, Arsyad yang mungkin kelelahan masih tertidur setelah tadi bangun hanya untuk sholat subuh. Aira membiarkannya dan meminta Via tak menganggu ayahnya itu.
Begitu juga dengan Fahmi dan para karyawan restaurant lainnya, sepertinya hari ini mereka harus istirahat total setelah seharian banting tulang dan memeras keringat tanpa henti.
Sama seperti Aira, Hulya pun tak mengganggu sang suami.
"Bi..." panggil Aira pada bi Sri yang saat ini sedang menucuci baju, tak berselang lama Bi Sri datang tergopoh-gopoh menghampiri Aira yang duduk di sofa. "Bi, nggak usah lari juga kali. Aku nggak buru-buru," kekeh Aira karena ART-nya itu selalu datang berlari saat ia memanggilnya.
"Hehe, ada apa, Nyonya?" Tanya Bu Sri.
"Tolong jagain baby Ali sebentar, ya. Aku mau buat puding, biasanya mas Arsyad suka puding," tukas Aira.
"Loh, saya bisa buat, Nyonya. Nyonya juga pasti capek," ucap Bi Sri.
"Nggak kok." Aira beranjak dari tempat duduknya. "Via, bantu Bi Sri jaga adik bayinya, ya. Ummi mau buat puding yang enak," ujar Aira yang langsung di angguki Via.
Aira segera membuat puding agar saat Arsyad bangun nanti, puddingnya sudah siap di makan.
Sementara di kamarnya, Arsyad justru terbangun saat ia meraba sisi ranjangnya dan tak menemukan Aira di sana. Arsyad langsung terperanjat bangun dan kedua matanya yang tadi masih ngantuk kini sudah terbuka lebar. "Sayang..." teriak Arsyad seperti anak kecil yang mencari ibunya.
Arsyad segera beranjak dari ranjangnya kemudian ia turun ke bawah dengan tergesa-gesa. "Bi, Humaira dimana?" Tanya Arsyad pada Bi Sri.
"Di dapur, Tuan. Ada apa?" Bi Sri menampilkan wajah bingungnya karena Arsyad tampak cemas.
Arsyad memeluk Aira dengan sangat erat, ia menenggelamkan wajahnya di leher Aira dan menghirup aroma manis sang istri. "Mas, ada apa?" Aira bertanya dengan lembut karena ia meraskan gelagat yang tak biasa dari Arsyad.
"Aku mimpi kamu ninggalin aku," ujar Arsyad dengan suara parau, Aira mengerutkan dahinya, kemudian ia berbalik badan setelah mematikan kompor.
Aira menangkup pipi Arsyad dengan tangan mungilnya, ia membelai pipi suaminya yang di tumbuhi bulu-bulu halus itu. Sambil tersenyum lembut Aira berkata, "Itu cuma mimpi, Mas. Cuma bunga tidur."
"Aku tahu, tapi hatiku merasa takut dan cemas." Arsyad membawa tangan Aira ke dadanya dimana jantungnya berdebar kencang. "Kamu bisa rasakan? Aku sampai deg degan." Aira tertegun merasakan detak jantung suaminya yang sangat cepat.
"Kamu minum dulu, ya." Aira berkata sembari mengambil gelas dan Arsyad masih terus menempel padanya. Kini Aira menyerahkan gelas berisi air itu pada sang suami, membantunya meminumnya. "Bismillah..."
"Sudah lebih baik?" Tanya Aira setelah Arsyad meminum tiga teguk.
"Masih cemas," rengek Arsyad manja sambil memeluk sang istri. Aira tersenyum simpul karena sepertinya Arsyad mengambil kesempatan ini untuk bermanja ria padanya. "Sayang, kamu ngapain? Temenin aku di kamar, ya."
"Aku lagi buat puding," jawab Aira sambil mengusap kepala Arsyad, merapikan rambutnya yang berantakan. "Kamu tunggu di depan sebentar."
"Nggak mau, maunya begini terus." Arsyad bersikeras dan tetap memeluk Aira dengan manja. Aira tak melarangnya, ia menyelesaikan pudingnya dengan Arsyad yang masih menempel padanya seperti anak tuyul. Hingga tiba-tiba terdengar suara Via yang mengejutkan keduanya.
"Abi..." Arsyad menoleh namun ia enggan melepaskan diri dari sang istri tak perduli Aira yang mencoba melepaskan pelukan Arsyad. "Kok Abi manja-manjaan sama Ummi? Kan Abi sudah besar," tukas Via bingung.
"Lagi pengen manja, Sayang. Via temenin adik bayi gih, jangan sampai nangis," usir Arsyad dengan halus dan dengan polosnya Via mengangguk setuju.
"Kamu ini, ada-ada aja," gumam Aira sambil terkekeh.