
"Aku kembali padamu...." Aira tersenyum dan tanpa sadar ia meneteskan air mata harunya saat Arsyad mengucapkan kalimat sindiran dengan maksud rujuk itu. Tatapan keduanya bertemu, menatap penuh cinta juga kerinduan. Kedua mata Arsyad memberi tahu betapa ia bahagia saat ini, bahkan ia pun tak mampu membendung air mata harunya.
Setelah melaksanakan sholat magrib, Abi Gabriel mengundang Om Sahir ke rumahnya untuk menjadi saksi rujuknya Arsyad dan Aira. Dan walaupun ia masih menyimpan kekecewaan pada Arsyad, namun Abi Gabriel juga merasa sangat bahagia saat melihat kebahagiaan di raut wajah Aira, hingga rasa bahagia itu mengalahkan rasa kecewanya.
Aira hendak mencium tangan Arsyad seperti saat ia mencium Arsyad setelah akad nikah mereka dulu, namun tanpa di sangka, Arsyad justru menarik tangan Aira dan mengecupnya penih cinta. Ia juga menangis, hingga air matanya membahasi tangan wanita yang kini sah menjadi istrinya kembali.
"Aku milikmu, Sayang. Aku serahkan semua yang aku punya untukmu," ucap Arsyad lirih. Aira begitu tersentuh akan tangis bahagia Arsyad.
Ia pun memeluk Arsyad dan keduanya sama-sama menangis. "Aku juga milikmu," Balas Aira dengan suara tercekat.
Arsyad menangkup kedua pipi Aira dengan lembut kemudian ia mengecup kening istrinya cukup lama. Seolah ingin menyalurkan cinta yang ia rasakan lewat kecupan itu.
Sementara Abi Gabriel dan Ummi Firda hanya menyaksikan penyatuan kembali dua insan yang memang saling mencintai itu. Ummi Firda juga tak kuasa menahan air matanya melihat berseminya cinta Aira dan Arsyad. Hal itu mengingatkan dirinya pada kisah cintanya, dulu ia juga hampir meninggalkan sang suami setelah tahu kebohongan besar yang di simpan sang suami. Namun, cintanya jauh lebih besar dari rasa kecewanya. Bahkan, meskipun ia tahu nyawanya bisa saja melayang jika ia terus bersama sang suami. Namun sekali lagi, cintanya lebih besar dari rasa takutnya.
Karena itulah, Ummi Firda tidak terkejut dan tidak akan menghalangi jika memang Aira ingin kembali pada Arsyad, karena ia sangat mengerti bagaimana rasanya mencintai seorang pria apalagi pria itu adalah pria pertamanya.
"Aku jadi ingat sama kita dulu, Bang," ucap Ummi Firda sambil menatap sang suami. Yang di tatap pun langsung membuang muka sambil mengucek matanya, tak mau ketahuan bahwa sebenarnya ia juga menangis haru.
"Kenapa?" Tanya Ummi Firda sambil mencengkram pipi sang suami, kemudian memaksa Abi Gabriel menatapnya. "Kamu nangis juga?" Tanyanya sambil tersenyum samar.
"Nggak, cuma kelilipan. Rumahnya berdebu kayaknya, besok harus di bersihkan semuanya," elak Abi Gabriel sambil melingkarkan lengannya di pundak sang istri. Ummi Firda langsung menyenderkan kepalanya di pundak sang suami.
"Mereka bahagia banget, Bang," lirihnya penuh haru.
"Kenapa kalian semua menangis?" Tanya Via di tengah suasana haru itu.
"Nggak apa-apa, Sayang. Kami hanya sedang bahagia," jawab Arsyad sembari mengulurkan tangannya pada Via yang saat ini duduk di pangkaun bi Sri. Via langsung melompat dari pangkuan bi Sri dan berlari menghampiri Arsyad.
"Kok menangis kalau bahagia? Kan seharusnya tersenyum dan tertawa," kata Via sembari melemparkan tatapan Bingung nya pada semua orang. "Via kalau senang pasti tersenyum dan tertawa." lanjutnya.
"Orang menangis saat bahagia karena bahagianya sudah sangat luar biasa, Sayang," jawab Arsyad sembari menaikkan Via ke pangkuannya. "Sekarang, Abi dan Ummi dan bahagia, karena kita akan tinggal bersama lagi seperti dulu," papar Arsyad yang tampaknya membuat Via semakin bahagia.
"Benarkah? Kita akan tinggal seperti dulu? di rumah nenek yang dulu?" Tanya Via dan Arsyad mengangguk sambil tersenyum lebat. "Astagfirullah..." seru Via kemudian sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Aira sembari menyeka air matanya sendiri.
"Kenapa nenek nggak ikut kesini, ya?" Tanya Via yang seketika membuat suasana kembali sedikit canggung. Bahkan para orang dewasa itu kini saling melempar tatapan, seolah meminta jawaban dari satu sama lain.
"Apa karena tiketnya mahal jadi nggak ikut kesini?" Celetuk Via. "Kata Jihan, Ummi dan Abi kaya, harusnya bisa beli tiket." lanjutnya yang justru seketika membuat Abi Gabriel dan Ummi Firda tertawa.
Suasana yang tadinya haru, canggung, kini kembali mencair karena ucapan random Via.
"Gara-gara tadi siang video call sama Jihan itu, Ummi," jawab Aira.
"Terus kalau Abi sama Ummi kaya, kenapa nenek nggak di bawa kesini?" Tanya Via lagi.
"Sayang..." Arsyad mengapit dagu Via, membuat Via langsung mendongak dan menatap matanya. "Nenek sudah pergi," ucapnya dengan suara bergetar, tak kuasa menahan kesedihan saat kembali mengingat mendiang sang ibu.
"Pergi kemana?" Tanya Via penasaran.
"Meninggal, Sayang," jawab Arsyad dan bersamaan dengan ucapannya itu, ia kembali menitikan air mata namun tangan mungil Via langsung menyeka nya.
"Jangan menangis, Abi. Kata bunda Kinan, orang meninggal itu tinggal di istananya Allah, mereka sehat dan bahagia," jawab Via yang membuat Arsyad terenyuh.
"InsyaAllah, Sayang."
"Arsyad..." seru Abi Gabriel, kini ia duduk tegak, menatap Arsyad dengan tegas. "Untuk kedua kalinya, Aira menyerahkan dirinya sepenuh hati sama kamu, dan kali ini tidak karena orang lain. seperti yang kalian inginkan, hubungan kalian bukan karena persetujuan, tapi karena keinginan hati kalian. Jadi ingat satu hal, Arsyad. Kebahagiaan Aira bukan hanya tanggung jawab yang harus kamu penuhi, tapi juga kewajiban yang harus kamu laksanakan!" Arsyad mendengarkan dengan seksama apa yang di tegaskan oleh ayah mertuanya itu, ia mencernanya dengan baik.
"Dan ingat! Satu kesalahan itu manusiawi, tapi jika sampai terjadi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, itu kebodohan, kejahatan, dan kamu uda nggak berhak dapat kesempatan lagi setelah itu."
"Dulu aku juga pernah ada di posisi kamu, walaupun apa yang kita rahasiakan berbeda, tapi besarnya rahasia itu adalah sama." Abi Gabriel menoleh, menatap sang istri dengan lembut kemudian menggengam tangannya, mengecupnya penuh cinta. "Dulu semuanya aku rahasiakan dari dia. Identitasku, pekerjaanku, bahkan statusku yang sebenarnya sudah menikah dan memiliki anak. Dia sangat marah, kecewa tapi dia nggak bisa pergi dan membenciku, karena rasa cintanya yang begitu besar." kedua mata Ummi Firda berkaca-kaca saat mengingat masa-masa yang tak mudah itu.
"Dan kamu tahu, Arsyad.." kini Abi Gabriel kembali menatap Arsyad namun tangannya masih menggengam tangan sang istri. "Saat itu usianya masih 18 tahun, dia masih remaja, seharusnya bermain dengan teman-temannya. Tapi aku menariknya dalam lingkaran hidup yang begitu rumit, dimana bukan hanya hatinya yang terluka, tapi juga fisiknya, nyawanya terancam. Walaupun begitu, dia mencintaiku sepenuh hati, menjagaku sepenuh jiwa."
Aira ikut menitikan air mata membayangkan posisi ibunya saat itu." Apa yang Aira lakukan sekarang semata-mata karena cinta, dan wanita penuh cinta seperti itu adalah aset berharga dunia akhirat yang harus kita jaga. Jangan kamu menyakitinya hanya karena dia pasti memaafkan kesalahan besarmu, justru malu lah kamu jika kamu sampai menyakitinya sementara kesalahan terbesarmu pun dia maafkan."
Abi Gabriel mengeratkan genggaman tangannya pada tangan sang istri, bahkan kedua matanya sudah rabun karena air mata yang ia bendung. Beda halnya dengan sang istri yang sudah menangis dalam diam, Ummi Firda kembali bersender ke lengan suaminya yang selalu memberikan pelukan hangatnya.
Begitu juga dengan Aira, ia begitu mengagumi cinta kedua orang tuanya yang luar biasa.
Hati Arsyad pun begitu tersentuh mendengar kata-kata ayah mertuanya, ia langsung menatap Aira dan menggenggam tangan Air dengan kuat. "Insyaallah, aku akan menjaga hatinya, kebahagiaannya, perasaannya. Dan jika aku tak mampu, semoga Allah yang menjaga semua itu karena aku mencintainya karena Allah."
TBC...