Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #142 - Bukan Akhir Kisah Kasih Kita (TAMAT)


"Ya Allah, ampuni dosa nenek. Terima lah amal kebaikannya, dan berikan dia tempat terbaik di sisi-Mu."


"AAMIIN..."


Arsyad dan Aira dengan serempak mengaminkan do'a Via saat mereka sedang berziara. Arsyad mengusap nisan yang bertuliskan nama ibunya itu dengan pelan, sambil tersenyum dia berkata, "Ummi, semoga Ummi tahu bahwa sekarang aku dan keluarga kecilku sudah bahagia, Ummi. Terima kasih karena kalau bukan karena Ummi, mungkin aku nggak akan mendapatkan bidadari seperti Aira."


Meskipun satu tahun lalu telah berlalu, namun Arsyad masih merasa baru kemarin ia menghabiskan waktu bersama ibunya sehingga rasa sakit karena kehilangan ibu masih begitu menyesakkan sampai sekarang.


"Inysaallah ummi pun sudah bahagia disana, Mas." Aira mengusap pundak suaminya itu dengan lembut.


Setelah selesai ziarah, mereka langsung pulang karena Aira meninggalkan baby Ali pada bi Sri.


Sesampainya di rumah, mereka di kejutkan dengan kehadiran kedua orang tua Aira juga Tanvir yang saat ini sedang bermain bersama adik bayinya. "Loh, Ummi sama Abi kesini? Kok tiba-tiba?" Tanya Aira yang terlihat senang itu.


"Abi ada pekerjaan yang nggak bisa di ganti dan nggak bisa di tunda, Ai. Abi sudah dari tadi pagi sampai kesini cuma takdir langsung ke kantor, ini Abi baru pulang dari kantor," tutur sang ayah yang saat ini menimang cucunya.


"Oh begitu, mau nginep disini atau nginep di rumah Kak Micheal?" Tanya Aira.


"Mau nginep disini aja, masih kangen sama cucu Ummi yang tampan ini," jawab Ummi Firda sambil mencubit gemas pipi baby Ali yang semakin hari semakin tembem itu.


Aira segera meminta bi Sri menyiapkan kamar untuk kedua orang tuanya itu, setelah itu Aira bersiap menyiapkan makan malam namun Arsyad melarangnya. Arsyad me ngajak Aira menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya dan soal makanan Arsyad bisa memesannya dari restaurant.


Aira pun menuruti perintah suaminya itu, ia menemani kedua orang tuanya mengobrol ringan hingga sampai pada topik sekolah Via.


"Sudah aku daftarkan, Bi. Minggu depan sudah masuk," kata Arsyad.


"Di sekolah mana? Abi mau dia di kirim ke sekolah internasional, Syad," tukas Abi Gabriel.


"Ke sekolah Tanvir aja, Om," sela Tanvir. "Jadi Tanvir bisa jagain Livia nanti," imbuhnya yang membuat Arsyad terkejut.


"Baguslah, benar kata Tanvir, biar ada yang jaga juga," ucap Abi Gabriel bisa bernapas lega.


Kini kedua bocah itu terlihat bahagia karena mereka akan satu sekolah, bahkan Tanvir sudah mulai mewanti-wanti Via sejak sekarang dan memberi tahukan beberapa hal padanya." Di sekolah itu tidak boleh nakal, kalau ada tugas harus di kerjakan. Terus, kalau ada yang mau berteman, jangan asal mau aja. Harus di lihat dulu, orangnya baik apa tidak untuk di jadikan teman. Karena biasanya, mereka itu mau nyontek, atau mau nyuruh-nyuruh."


Para tetua yang mendengar nasihat bijak Tanvir itu cukup kagum, sementara Livia dengan polosnya hanya mengangguk saja.


Dalam kebersamaan itu, ada banyak yang mereka bicarakan, dari hal ringan sampai hal yang begitu penting. Aira juga menceritakan bagaimana Arsyad memberinya kejutan bahkan sampai mau di kerjai oleh Arkan karena membuat Arsyad mengeluarkan uang yang tak sedikit. Namun bagi Arsyad, sebanyak apapun uang yang harus ia keluarkan demi keluarganya itu sama sama tidak ada nilainya. Jawaban itu cukup untuk memancing kembali rasa kagum dan kepercayaan kedua orang tua Aira untuk menantu mereka.


Meskipun sempat tertoreh luka yang mengakibatkan kekecewaan yang mendalam, namun mereka bukanlah orang-orang pendendam yang akan memelihara amarah dan benci dalam hatinya.


Arsyad sangat bersyukur karena mendiang ibunya memilihkan Aira untuknya, meskipun dalam satu langkah yang tak pasti, mendiang ibunya juga yang membuat ia hampir kehilangan Aira. Namun pada akhirnya, pada langkah yang pasti dan atas izin Tuhan, Arsyad kembali mendapatkan Aira dan itu adalah misteri takdir yang tak bisa Arsyad terka namun tetap indah pada akhirnya.


Aira pun demikian, ia sangat berterima kasih pada mendiang ibu mertuanya yang telah memilih dirinya untuk Arsyad seperti seorang ratu. Meskipun pada satu kesempatan ia di campakkan bak debu, namun takdir yang Maha Kuasa berpihak padanya. Ia di kembalikan pada Arsyad dan kini ia menjadi ratu lebih dari sebelumnya.


Aira juga berterima kasih pada Anggun, luka yang Anggun torehkan justru membuatnya lebih kuat, melatih hatinya lebih luas dan sabar serta mengajarkan Aira bahwa takdir takkan selalu indah seperti harapannya namun Aira harus tetap menerima dan belajar ikhlas.


Di dunia ini, sesungguhnya tak ada hal yang buruk selama manusia bisa memandangnya dari sisi yang baik, mengambil hikmah dan pelajaran yang tak biasa.


Terkadang, satu orang yang menyakiti bisa memberikan satu pelajaran berarti yang tak bisa di berikan oleh seribu orang yang mencintai.


Seperti Anggun, yang mengajarkan Aira banyak hal. Cinta itu anugerah, tak perduli pada siapa cinta itu berlabuh. Namun tindakan yang mengatas namakan cinta yang menentukan, apakah itu masih cinta yang murni ataukah hanya nafsu belaka. Apakah itu sebuah anugerah ataukah sebuah kutukan.


Dan jika cinta itu anugerah, bisakah Livia memiliki anugerah yang sama dari seorang Tanvir?


...TAMAT...