
Aira membagikan makanam, pakaian bahkan uang pada anak-anak jalanan di Lahore. Dan ia melakukan ini sebagai bentuk rasa syukurnya atas sadarnya Arsyad dari komanya.
Aira di temani Nida juga Om Sahir dan kedua orang itu tampak takjub dengan apa yang di lakukan Aira. "Kak Aira nggak bicara sama dia, hubungan kalian pun sudah berakhir. Tapi Kak Aira masih melakukan ini untuknya?" Tanya Nida antara takjub dan bingung.
"Entahlah, Nid. Hatiku menginginkannya," jawab Aira sembari memperhatikan anak-anak jalanan yang kini makan dengan lahap. "Aku nggak bisa ada di samping dia, menemaninya, dan aku nggak bisa menjaga dia dengan tanganku. Karena itulah, aku hanya bisa menjaganya dengan do'aku."
Nida menatap Aira yang kini tampak berbinar, Nida masih tidak percaya jenis cinta dan hubungan apa yang di miliki oleh Aira. Tapi satu yang Nida tahu, Aira seperti berada di sebuah sumur dengan sisi terbatas namun juga luas secara bersamaan. Sehingga membuat dia terjerat namun juga bebas berenang.
"Kak Aira itu aneh," kata Nida sambil terkekeh. "Kak Aira itu seperti orang yang terjerat akan sesuatu hal, tapi juga bebas dalam hal yang sama. Kalau misalnya neh, tapi semoga nggak ya. Misalnya aku nikah, terus cerai, ya berarti hubunganku dan dia sudah selesai. Nggak akan lagi aku perduli tentang dia." Aira tersenyum simpul mendengar ucapan Nida.
"Terkadang fikiran dan hati itu nggak sinkron, Nid. Fikiran kita maunya apa eh hati kita rasanya apa. Aku juga pengen lepas dari dia, tapi seolah masih ada benang samar yang terus mengikat kami berdua." kini tatapan Aira lurus pada Via yang juga makan bersama anak-anak itu, mereka tidak saling berbicara karena tak mengerti bahasa satu sama lain, tapi mereka tetap bermain dan tertawa bersama entah karena apa.
Aira teringat bagaimana hubungannya dengan Arsyad berakhir, awalnya Aira berfikir Arsyad mengkhianatinya tapi nyatanya tidak. Kemudian Aira berfikir Arsyad membuangnya dan sekali lagi nyatanya tidak. Misteri datang silih berganti tanpa bisa di terka dan selalu terjawab dengan sendirinya.
Aira menghela napas kemudian melanjutkan ucapannya. "Berkali-kali aku terlempar darinya, tapi berkali-kali pula fakta membuatku kembali menoleh padanya."
"Em, sepertinya cinta adalah sesuatu yang sulit, Kak. Aku harap aku selamat dari hal seperti itu," ucap Nida meringis yang membuat Aira terkekeh.
"Cinta adalah sumur luka yang sangat dalam, Nida. Kamu bisa berusaha menghindarinya, tapi pasti suatu hari nanti kamu akan berpapasan dengannya."
...🌱...
^^^Jakarta, Indonesia. ^^^
"Ummi dimana?" Tanya Arsyad dengan lemah pada Fahmi.
Sudah 48 jam sejak ia sadar dari komanya namun sang ibu tak pernah datang menjenguknya walau sebentar saja.
Tak hanya itu, Anggun dan kedua orang tuanya juga tak menunujukan batang hidungnya sedikit pun sejak Arsyad siuman dan itu membuat Arsyad semakin merasa kecewa pada mereka.
Fahmi sudah bercerita apa saja yang terjadi selama Arsyad koma karena satu bulan bukanlah waktu yang sebentar, banyak yang terjadi. Namun tentu Fahmi melewatkan satu cerita, yaitu kematian Ummi Ridha.
Anggun pergi entah kemana dan entah karena apa, apakah takut pada Arsyad atau takut pada dirinya sendiri yang mungkin akan kembali menjadi racun bagi hidup orang lain.
Arsyad terkejut mendengar Anggun pergi karena bagaimana pun Anggun masih mengandung anaknya, Arsyad memang meninggalkan Anggun namun ia tak ingin menelantarkan anaknya.
Arsyad masih begitu lemah saat ini, bahkan ia tak bisa duduk sendiri dan itu membuatnya merasa frustasi.
"Di rumah," jawab Fahmi lirih tanpa berani menatap mata Arsyad.
"Kemarin di rumah, tadi malam di rumah, hari ini juga di rumah." Arsyad menggumam bingung dan cemas, rasanya tidak mungkin ibunya tidak datang untuk menjenguknya. "Fahmi, aku pinjam ponselmu, aku mau telfon Ummi," kata Arsyad namun Fahmi enggan memberikannya.
"Apa Ummi sakit?" Tanya Arsyad dan Fahmi menggeleng. "Terus dia kemana? Dia tahu 'kan aku sudah sadar?" Tanya Arsyad lagi dan Fahmi mengangguk.
"Ya Allah..." Arsyad menghela napas berat. "Katakan yang sebenarnya, Fahmi. Ummi kemana?" Tanya Arsyad tegas. Fahmi membuang muka, tak sanggup melihat raut wajah Arsyad yang tampak sangat tersika.
"Fahmi...!" seru Arsyad dan bersamaan dengan itu ponsel Fahmi berdering, Fahmi langsung merogoh ponselnya dari sakunya dan seketika bibirnya tersenyum saat tahu siapa yang telfon.
"Apa itu Ummi?" Tanya Arsyad namun Fahmi justru meletakkan jarinya di bibirnya, meminta Arsyad agar tak berbicara. Fahmi menjawab panggilan itu mengaktofkam loudspeakernya.
"Assalamualaikum, Fahmi. Bagaimana keadaan mas Arsyad..."
Jantung Arsyad berdebar kencang, hating bergemuruh dan seluruh tubuhnya menegang mendengar suara lembut dari seberang telfon.
Suara yang masih tak berubah, yang mampu menggetarkan jiwa Arsyad. "Fahmi, apa kata Dokter? Apa dia baik-baik aja?" suara Aira terdengar begitu cemas, menyentuh relung hati Arsyad yang paling dalam.
Setelah semua yang terjadi, seperti inikah sikap Aira? Masih perduli padanya?
"Fahmi...."
"Kamu dengar aku?" Tanya Aira.
Arsyad tak mampu berkata-kata, ia terlalu bahagia dan terharu mendengar suara Aira kembali setelah sekian lama.
"Terima kasih banyak, Fahmi. Terima kasih kamu sudah menjaganya."
Kedua mata Arsyad berkaca-kaca mendengar ucapan Aira, ia menggigit bibirnya yang bergetar. "Kamu masih nggak ada rencana pulang?" Tanya Fahmi kemudian.
"Aku sedang sibuk sekarang, Fahmi. Sudah dulu, ya." Fahmi tahu Aira hanya menghindari pertanyaannya namun Fahmi tak bisa menahan Aira. Apalagi Arsyad memberi isyarat agar membiarkannya saja.
"Okay, akan aku kabari lagi nanti bagaimana keadaan Arsyad." kata Fahmi.
"Terima kasih," ucap Aira. "Assalamualaikum."
"Waalaikum salam, Aira." Fahmi memutuskan sambungan telfonnya dan Arsyad pun menjawab salam Aira dengan lirih.
"Waalaikum salam, Humaira," ucap Arsyad sambil tersenyum samar.
🌱
Lahore, Pakistan.
"Kata Nida, kamu pergi bagi-bagi makanan ke anak jalanan, kenapa nggak ngajak aku?" Tanya Javeed sembari membungkus roti belanjaan Aira dan Via.
"Kamu nggak bilang mau ikut," jawab Aira sembari melihat-lihat gambar roti yang ada di toko.
"Kamu ngidam?" Tanya Javeed saat Aira menatap satu roti bertoping Strawberry.
"Bukan ngidam sih, cuma pengen nyoba. Yang itu kayaknya aku belom pernah makan," kata Aira. "Tadi aku cari udah kosong." lanjutnya cemberut.
"Ya udah, besok aku buatin khusus buat kamu," ucap Javeed sembari memberikan kantong plastik yang sudah berusia beberapa roti pada Aira.
"Via yang mau bawa..." seru Via sambil meloncat-loncat yang membuat Javeed terkekeh. "Syukriya (Terimakasih)," kata Via setelah Javeed memberikannya.
"Wah, sudah bisa bahasa urdu ya," kata Javeed gemas.
"Dia sering nonton film animasi, aku rasa dia belajar dari sana," kata Aira.
Javeed memperhatikan Aira yang hari ini tampak sangat berbeda pancaran matanya.
"Kamu terlihat seperti orang yang bahagia, Ai. Aku senang melihatnya, semoga kamu selalu bahagia" ucap Javeed tulus.
"Syukriya," ucap Aira meniru Via. "Kami pulang dulu."
"Khuda Hafez."
**TBC...
SkySal mengadakan give away ke dua neh.
Tapi kali ini ada yang berbeda.
Hanya akan ada 1 pemenang dengan hadiah pulsa sebesar 100. 000 rupiah.
Syaratnya gampang banget, berikan gift sebanyak mungkin ke Novel Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
Dan jika kamu berhasil mendapatkan julukan Diamond fans, maka kamu berhak mendapatkan pulsa 100.000.
Jika hanya Gold, maka hadiahnya pulsa 50.000
Keren kan? **