Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
Elis Kurniasih


Judul : Menaklukkan Bos Killer


Napen : Elis Kurniasih


Sepanjang malam, Alex kembali mengingat seorang wanita yang menabraknya di kantor. Sejauh ini, Alex baru melihat wanita itu. tapi menurut data yang ia minta dari HRD, wanita itu sudah bekerja lama di kantornya. Bahkan wanita itu juga sudah menjadi sekretaris senior di sana.


“Kenapa aku baru melihat dia?” tanya Alex pada dirinya sendiri sembari memegang dagunya di ruang kerja.


“Daddy …” teriak Aurel setelah membuka pintu ruang kerja sang ayah.


“Hai …” Alex langsung tersenyum saat melihat putri yang kini sudah genap enam tahun.


Aurel berlari ke arah sang ayah yang sedang duduk di kursi kerjanya. Alex pun memutar kursi itu ke arah sang putri yag sedang berlari dan membentangkan kedua tangannya.


“Ups.” Alex menangkap tubuh sang putri.


“Aku merindukanmu, Dad.”


“Sama, Daddy juga merindukanmu.”


Aurel duduk di pangkuan sang ayah. Sudah seharian Aurel tidak melihat ayahnya. Sang ayah berangkat lebih pagi dari dirinya, sehingga setelah sang ayah tiba di rumah, ia pun langsung mencari keberadaan itu.


“Bagaimana sekolahmu?” tanya Alex.


“Baik.”


“Apa ada orang yang menindasmu di sana?” tanya Alex lagi.


“Tidak.” Aurel menggeleng. “Justru mereka berebut ingin menjadi temanku.”


“Oh ya?”


Aurel mengangguk. “Itu karena aku baik.”


Aurel tertawa dengan memperlihatkan jejeran gigi susunya yang rapi.


Alex ikut tertawa lebar dan memeluk tubuh mungil itu. “Ya, kamu memang anak baik, karena kamu lahir dari ibu yang baik.”


Sekilas mata Alex memerah mengingat mendiang sang istri. Sungguh, ia merindukan sosok itu. Sosok yang mampu menenangkannya jika ia kesal dan marah-marah karena pekerjaan. Sosok yang membuatnya hilang lelah karena kepenatan dari rutinitasnya sehari-hari.


“Daddy …” panggil Aurel dengan melonggarkan pelukannya pada sang ayah.


Anak kecil itu mengusap pipi sang ayah. “Jangan sedih! Ada aku di sini, Dad," ucapnya lucu.


Aurel memasang wajah menggemaskan membuat Alex tersenyum.


Alex terharu dan memeluk tubuh mungil itu lagi. Ya, untung saja ia memiliki Aurel, reinkarnasi dari Anastasya. Mata Alex terpejam dan kembali mengingat kejadian di kantor siang tadi, karena selain Aurel ternyata ada satu orang yang mirip dengan mendiang sang istri. Bilqis Talitha. Nama itu yang ia temukan dari catatan curiculum vitae yang diberikan bagian HRD.


****


“Qis, ke ruangan saya sekarang!” pinta Dion pada sekeretarisnya.


“Iya, Pak.” Bilqis langsung berdiri dan melangkahkan kaki menuju ruangan yang tidak jauh itu.


Ceklek


Bilqis membuka perlahan pintu ruangan itu dan masuk.


“Duduk, Qis!” Dion mempersilahkan Bilqis untuk duduk di kursi yang ada di depannya.


Bilqis menurut dan mengikuti perintah itu. “Ada apa ya, Pak? Kok sepertinya serius banget.”


“Ya, ini memang serius,” jawab Dion sembari menatap Bilqis. “Kamu jadi sekretaris saya dah berapa tahun ya, Qis?”


“Tiga tahun, Pak.”


“Udah lama juga ya. Ah, sayang banget kita tidak lagi bisa kerja sama. Padahal saya udah cocok banget kerja bareng kamu. Kamu bisa diandalkan, pintar, dan cekatan.”


Bilqis langsung duduk tegang. “Saya tidak diberhentikan kan, Pak?” tanyanya polos membuat Dion tertawa.


“Hahahaha … kamu ada-ada aja. Siapa yang berhentiin karyawan bagus seperti kamu. Yang ada kamu tuh bakal naik jabatan.”


“Naik jabatan?” tanya Bilqis bingung.


“Ya, kamu diminta CEO buat jadi sekretarisnya,” jawab Dion.


“What?” Bilqis terkejut. “Jangan becanda ya, Pak! Ga lucu banget deh.”


Dion pun tertawa. “Loh, saya ga becanda. Kemarin HRD minta seperti itu. Sir Alex tidak ingin orang baru untuk sekretaris yang menggantikan Alana. Dia ingin sekretaris senior yang ada saja dan dia menunjuk kamu.”


“Ngga … Ngga …” Bilqis langsung menggoyangkan kesepuluh jarinya di depan Dion. “Saya belum se kompeten itu untuk mendampingi CEO, Pak.”


Dion menatap Bilqis. “Tapi menurut saya, kamu kompeten kok.”


Bilqis merasa minder di depan Alex, bukan karena dirinya yang merasa tidak mampu bekerja serta menjadi sekretaris yang baik untuk pria itu, hanya saja ia khawatir tidak mampu berhadapan dengan pria tampan seperti Alex, ditambah status dudanya yang menggoda serta tubuhnya yang atletis. Bisa-bisa Bilqis tidak pernah bisa fokus bekerja.


Bilqis membayangkan wajah Alex dan gayanya saat berjalan. Walau ia dan Alex tidak pernah bertatapan langsung, tapi Bilqis sering melihat pria itu dari balik dinding. Diam-diam Bilqis selalu mencuri pandang pada CEO tampan yang berstatus duda beranak satu itu. Entah mengapa jantung Bilqis berdetak kencang saat melihat wajah tampan itu. Alex mengingatkan Bilqis dengan aktor drama china yang memiliki pacar seorang alien.


“Hei, kenapa bengong?” tanya Dion pada Bilqis yang senyum sendiri. “Qis, Bilqis!” Dion melambaikan tangannya di depan wanita itu.


“Ah, iya pak.” Bilqis tersentak dan sadar.


“Yah, kamu di ajak ngobrol malah bengong. Senyum-senyum sendiri lagi.”


Dion menggelengkan kepalanya.


Usai berbicara, mereka kembali dengan pekerjaannya. Lalu, tak lama kemudian Dion kembali memanggil sekretarisnya.


"Qis,” panggil Dion dari balik pintu ruangannya.


“Ya, Pak.” Bilqis langsung menoleh ke sumber suara itu.


“Sir Alex memanggilmu. Dia memintamu untuk ke ruangannya.”


Bilqis langsug mengernyitkan dahi. “Sekarang, Pak?”


“Ngga, tahun depan,” jawab Dion.


“Ih, bapak. Saya serius,” sahut Bilqis cemberut.


“Saya juga serius. Pake tanya lagi, ya sekarang lah.”


“Iya, Pak.” Bilqis langsung berdiri dan segera melangkahkan kaki menuju lift.


Jantungnya dag dig dug karena ini adalah kali pertama ia bertatap muka langsung dengan duda tampan itu.


“Relaks, Qis. Tenang!” Sepanjang jalan menuju ruangan Alex, Bilqis terus mengurut dadanya dan berusaha menetralkan jantungnya yang terpacu cepat, hingga ia tiba di depan pintu ruangan CEO.


Bilqis menarik nafasnya. Ia kembali menetralkan jantungnya. Cukup lama Bilqis berdiri di depan pintu itu hingga saat ia memegang handle pintu, pintu itu pun terbuka.


Dug


Kepala Bilqis menyundul dada bidang pemilik ruangan itu.


“Ups, maaf Sir.” Bilqis tersenyum getir sembari mendongakkan kepalanya.


Alex pun hanya berdiri tegap dan tak menjawab. Lalu, pria itu kembali masuk dan berjalan menuju kursi kebesarannya itu. Bilqis pun mengikuti langkah itu dan ikut masuk ke dalam ruangan, tapi saat menuju kursi yang ada di depan meja si Bos, Bilqis malah tersandung.


“Aww …” pekiknya yang hampir saja tersungkur ke lantai.


Alex yang hendak duduk di kursinya pun, hendak menghampiri Bilqis untuk menahan tubuh Bilqis agar tidak tersungkur ke lantai, tapi akhirnya Bilqis dapat menyeimbangkan tubuhnya sehingga Alex pun tidak menghampiri wanita itu.


“Ah, kau ceroboh sekali,” ujar Alex menggelengkan kepala dengan wajah datarnya.


“Maaf, Sir.” Bilqis tersenyum malu. Sungguh kesan pertama yang buruk. Bilqis pun merutuki itu.


Alex duduk di kursinya. “Ada apa ke ruanganku?”


“Hah! Ada apa?”


“Hei, aku bertanya padamu kenapa kamu bertanya lagi?” tanya Alex kesal.


“Hmm … tadi Pak Dion nyuruh saya ke ruangan Bapak. Memang ada apa?”


“Ah, ya. Saya lupa. Saya mau bilang kalau kamu yang akan menggantikan posisi sahabatmu. Bukankah dia rekomendasimu?”


Bilqis mengangguk. “Kalau begitu kamu harus bertanggung jawab menggantikan posisinya.”


“Tapi bukankah masih banyak sekretaris senior yang lebih kompeten dibanding saya, Sir?” tanya Bilqis polos.


“Jadi kau tidak mau?” Alex balik bertanya dengan tatapan mengintimidasi.


Bilqis langsung menggeleng, membuat Alex membulatkan matanya. Tapi seketika kepala Bilqis berubah menjadi mengangguk. “Mau, Sir. Mau.”


“Tenang saja gajimu akan dinaikkan seiring posisimu yang naik,” kata Alex lagi dengan melipat kakinya.


Bilqis mengangguk patuh dan menatap si Bos yang sedang menatapnya. “Oke dua hari lagi kamu pindah ke lantai ini.”


“Apa dua hari lagi?” tanya Bilqis.


Alex mengangguk. “Ya, rapihkan pekerjaanmu dengan Dion dan langsung berbenah ke sini.”


“Satu minggu, Sir. kasih saya waktu satu minggu untuk berbenah,” kata Bilqis nego.


Alex diam.


“Kalau begitu tiga hari,” kata Bilqis lagi dengan menaikkan tiga jarinya ke atas, tapi Alex tetap diam dan hanya menatapnya.


“Baiklah, dua hari,” kata Bilqis lemas dan sedikit menunduk.


Selain kakinya dilipat, kedua tangan Alex pun dilipat di dada. “Ada lagi?” tanyanya.


Bilqis menggeleng. “kalau begitu keluar dari ruanganku dan kembali bekerja.”


“Ish dasar bos killer,” umpat Bilqis dalam hati sembari berdiri. “Baik Sir, saya permisi.”


Alex hanya menganggukkan kepala tanpa melihat ke arah Bilqis. Namun, setelah membalikkan tubuh untuk mendekati pintu dan meninggalkan ruangan ini justru Alex melihat ke arah punggung itu. tapi ia kembali meluruskan pandangannya saat Bilqis membalikan tubuh untuk menutup pintu. Bilqis melihat wajah arogan itu sedang tidak melihatnya padahal ia hendak berpamitan sekali lagi.


Sepanjang jalan, Bilqis mengumpat. Ia tidak bisa membayangkan memiliki bos seperti Alex. Ia memang senang gajinya akan naik, tapi sepertinya adrenalinnya pun harus naik. Ia harus mempersiapkan mental untuk melalui hari-harinya sebagai sekretaris dari bos killer itu.


Di ruangan, Alex tersenyum mengingat tingkah polah Bilqis tadi. Walau wajahnya mirip dengan mendiang sang istri tapi kepribadiannya sangat berbeda. Anastasya elegan, lembut, dan tidak ceroboh. Tapi Bilqis sepertinya berbanding terbalik. Setiap kali bertemu dengan wanita yang mirip mendiang sang istri, ada saja kelakuan minus yang terjadi pada wanita itu. namun, hal itu membuatnya tersenyum.


“Bilqis Talitha,” gumam Alex menyebut nama wanita yang baru saja keluar dari ruangannya.