Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #56 - Terungkap


Atas dasar paksaan ketiga temannya, akhirnya Jibril ikut menghadiri acara pernikahan tetangga Om Sahir dan tentu ia juga memakai Shadi Ka Joda. Dimana itu membuat ketiga temannya merasa iri karena Jibril terlihat jauh lebih tampan dalam balutan pakaian itu.


"Kita hanya sebentar, aku benar-benar lelah," kata Jibril.


"Iya, aku juga cuma penasaran bagaimana pernikahan orang Pakistan." Arkan menjawab sambil celingkan kemana-mana.


Pesta itu di adakan dengan sangat mewah dan megah, dekorasi, pakaian pengantin, semuanya terlihat luar biasa. Dan seperti yang mereka tahu, akan ada tari menari disana.


Om Sahir membawa Jibril dan ketiga temannya menemui sang tuan rumah dan Om Sahir memperkenalkan mereka sebagai keluarganya dari Indonesia. Mereka di sambut dengan sangat hangat dan di persilakan menikmati pesta, bahkan ketiga teman Jibril ikutan menari ria.


Sementara di sisi lain, Javeed memperhatikan Jibril sejak Jibril memasuki pesta. Javeed ingin tahu, apakah Zeda Humaira Emerson itu ikut atau tidak.


"Aku rasa dia janda," gumam Javeed sekenanya sambil terkekeh. Bagaimana ia tak mengira janda? Rasanya sangat aneh seorang wanita bersuami pergi ke luar negeri bersama kakaknya dan tidak membawa suaminya. Ataukah itu liburan keluarga?


"Ck, kenapa aku harus terlambat? Kemana saja aku selama ini?" Javeed terkekeh sendiri membayangkan Aira.


Jibril menikamati pesta itu dan ia tampak senang, ini sesuatu yang baru untuknya dan ia sangat menyayangkan Aira yang tak bisa datang dan bergabung bersama mereka.


Saat Jibril hendak meminum minuman yang di sajikan untuknya, tiba-tiba seorang gadis berlari ke arahnya sambil tersenyum lebar. Gadis itu memegang roknya yang panjang lebar, rambut hitamnya tergerarai bebas dan selendangnya tergantung indah di sisi tubuhnya. Bahkan, pergerakan itu seperti slow motion yang membuat Jibril waktu berputar sedikit lambat.


Jibril tercengang karena wanita itu berlari ke arahnya, dan ia semakin tercengang saat wanita itu berdiri tepat di depannya, wanita itu mengatur napasnya yang tersenggal sementara senyum masih tersungging indah di bibirnya.


"Hai, My name is Elizabeth. Will you marry me?"


"Huh?"


Wanita itu berlutut di depan Jibri yang membuat otak Jibril langsung blank, ia tak tahu harus bereaksi seperti apa atau bagaimana. Ia hanya bisa menahan napas apalagi saat tanpa sadar ia menatap mata wanita yang mengaku bernama Elizabeth itu.


Namun tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan yang membuat Jibril kembali ke alam sadarnya, perempuan yang bernama Eliza itu pun kini sudah berdiri dan bergegas meninggalkan Jibril begitu saja.


"Well done, Eliza." puji seseorang disana, Elizabeth tersenyum dan ia mengucapkan terima kasih dalam bahasa Inggris.


Apa yang ia lakukan ini hanyalah sebuah prank untuk memeriahkan pesta, namun tanpa ada yang menyadari, bahwa prank itu justru menyerang hati seseorang.


Sementara Elizabeth, gadis itu kini justru ikut menari sambil tertawa bahagia bersama teman-temannya seolah tak berdosa. .


"Gila!" seru Bayu yang juga sempat shock melihat ada gadis cantik yang melamar teman kulkasnya.


"Kalau itu serius dan bukan prank, aku sih ngak nolak," sambung Arkan.


..._____...


Indonesia


Setelah mandi, Arsyad naik ke atas ranjangnya yang sederhana dan ia memeriksa ponselnya karena tadi ia belum sempat melihat isinya setelah ponselnya di perbaiki.


Arsyad tersenyum saat melihat foto Aira, ia sungguh sangat merindukan mantan istrinya itu.


Setelah mengirim pesan itu, Arsyad mengernyit bingung karena ada banyak pesan di pesan masuk dari nomor Aira sementara sebelumnya tidak ada.


Arsyad memeriksanya dan kedua bola matanya langsung melotot sempurna, hatinya bergetar hebat. Arsyad langsung beranjak dari tidurnya, ia duduk dengan tegak sembari terus menscroll layar ponselnya itu ke atas dan ke bawah, seolah ia tak percaya dengan apa yang tertulis disana.


Air mata Arsyad menetes begitu saja, membasahi layar ponselnya, kini Arsyad terisak dan ia membiarkan dirinya menangis tersedu-sedu.


"A-Aira ... ha-hamil?" Arsyad menangis histeris saking bahagianya membaca pesan itu, apalagi saat ia melihat ada foto hasil USG yang di kirim Aira. Arsyad mengecup foto itu berkali-kali.


"Ya Allah, Aira-ku hamil, dia hamil, istriku hamil...." Arsyad meletakkan ponsel itu di dadanya, memeluknya sambil terisak tanpa henti.


Ia sangat bahagia, namun... Arsyad kembali membaca pesan itu dan seketika hatinya terasa begitu sesak, sakit dan perih. Sekarang ia mengerti kenapa semua keluarga Aira marah bahkan seolah memusuhinya.


"Teganya...." Arsyad menggengam ponselnya dengan erat, matanya yang masih di penuhi air mata itu kini tampak sangat marah, rahangnya mengetat dan Arsyad langsung menyambar kunci mobilnya.


Arsyad tahu, yang melakukan ini bukan ibunya tapi pasti Anggun. Arsyad tahu, seandainya sang ibu tahu Aira hamil, dia juga pasti akan bahagia dan bukannya melakukan hal sekeji ini. Jadi tersangka yang sudah pasti adalah Anggun.


Arsyad melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah Anggun karena ia tahu saat ini Anggun sedang berada di rumahnya sendiri. Ibunya sempat memberi tahu Arsyad bahwa Anggun pulang untuk sementara waktu.


Sesampainya di rumah Anggun, Arsyad langsung menggedor pintu tanpa memikirkan bahwa ini sudah malam dan orang-orang sudah pasti tidur.


Arsyad berteriak memanggil Anggun dan itu membuat kedua orang tua Anggun terkejut, begitu juga dengan Anggun.


"Anggun! Aku mau bicara sama kamu!" Teriak Arsyad, wajahnya masih basah karena air mata yang tak bisa ia bendung.


Anggun langsung lari keluar begitu juga dengan orang tuanya.


"Mas? Ada apa?" Tanya Anggun dengan kening berkerut dalam.


"Apa ini, huh?" Teriak Arsyad sembari menunjukan pesan Aira.


Seketika Anggun terdiam dengan kedua mata yang terbuka lebar. "Kamu gila, huh? Setega itu kamu? Sejahat itu kamu? PEREMPUAN MACAM APA KAMU INI?" Arsyad berteriak penuh emosi tepat di depan wajah Anggun. "KAMU TAHU BERAPA LAMA AKU DAN AIRA MENUNGGU INI HUH?" DAN SEKARANG KAMU MENGHANCURKAN KAMI!"


"Arsyad!" Teriak Pak Arif yang tak terima anaknya di perlakukan seperti ini apalagi di waktu hampir tengah malam begini. "Kalau ada masalah itu di bicarakan baik-baik! Bukan teriak-teriak di luar rumah dan tengah malam begini!"


"Pa, Ma! Kalian masuk aja!" seru Anggun kemudian cemas.


"Masuk bagaimana? Kalian berdua juga masuk dan bicarakan masalah kalian!"


"Udah nggak ada lagi lagi perlu di bicarakan!" Arsyad mendesis tajam. "Aku cuma tanya! Kenapa kamu lakukan ini, huh? kenapa?"


...-------...


Halo semuanya, terima kasih buat semua yang sudah setia mengikuti kisha cinta Aira sejauh ini. Dan jauh sebelum Novel ini launching, aku sudah kasih pengumuman bahwa Novel ini SEQUEL MANDIRI yang artinya TIDAK ADA HUBUNGANYA DENGAN NOVEL YANG LAIN. TIDAK ADA SANGKUT PAUTNYA. Kehadiran Javeed pun bukan melanjutkan kisah dari MAKMUM PILIHAN MICHEAL EMERSON, tapi hubungan Aira di sini semuanya di mulai dari nol, baik dengan Arsyad maupun dengan Javeed. Walaupun begitu, aku bisa pastikan novel ini tetap akan membuat kalian BAPER 😍. Mau bukti? yuk, kita buktikan bersama dengan mengikuti terus MAHLIGAI CINTA ZEDA HUMAIRA EMERSON INI.