
"Kesalahan yang dia lakukan memang sangat menyakitkan, Ai. Tapi coba selami lagi hatinya dan hatimu, apakah dia mengkhianatimu atas kehendak hatinya, nafsunya atau karena alasan yang lain? Dia memang salah karena dia itu manusia, Ai. Dan dia sedang bersuha memperbaiki kesalahannya, kenapa kamu harus mengeraskan hatimu padanya setelah usaha yang dia lakukan agar bisa bertemu denganmu?"
Aira terhenyak mendengar apa yang di katakan Hulya, ia speechless, karena apa yang Hulya katakan bener adanya.
"Maaf ya, Ai. Bukan maksud aku menggurui kamu atau nggak faham dengan rasa sakit kamu, Ai. Sumpah ya, Ai. Aku itu juga benci banget sama Arsyad, aku tuh udah caci maki dia saking kesalnya sama bocah itu setelah tahu apa yang dia lakukan sama kamu. Cuma, setelah melihat keadaan Arsyad pasca perceraian kalian, sampai dia menceraikan Anggun, aku justru kasihan sama dia. Kadang aja, kita yang perempuan serba salah jika di hadapkan pada suami dan orang tua kita, padahal sudah jelas hak suami lebih besar atas diri kita dari pada orang tua, apalagi jika berada di posisi seorang putra? "
"Entahlah, Hul. Aku ... aghh...." Aira kembali merintih saat kembali merasakan tendadangan di perutnya,
"Kenapa, Ai?" Tanya Hulya dengan suara yang terdengar panik.
"Nggak apa-apa, cuma bayiku sering nendang tiba-tiba," kata Aira.
"Oh, biasa itu, Ai. Susah hamil besar ya, Ai. Aku nggak bisa lupa sulitnya saat hamil Jihan," kekeh Hulya.
"Aku dulu iri banget sama kamu, Hulya. Karena kamu cepat hamil," ucap Aira yang juga terkekeh.
"Asal kamu tahu aja, dulu Jihan itu hadir karena aku lupa minum pil KB. Aku sebenarnya belum siap punya momongan, Ai." Aira melotot terkejut mendengar pengakuan sahabatnya itu.
"Masak? Padahal aku liat kamu bahagia banget saat hamil Jihan, wajah kamu berbinar, makanya aku iri banget," lirih Aira.
"Ya itulah hidup, Ai. Orang iri pada casing aja, dulu aku juga iri sama hubungan kamu dengan Arsyad. Aku malah sering banding-bandingin mas Fahmi sama Arsyad, hehe."
Aira dan Hulya sama-sama tertawa karena baru menyadari kekonyolan mereka yang iri satu sama lain tanpa tahu apa yang terjadi di balik apa yang membuat mereka iri.
"Tapi sampai sekarang, sejujurnya aku masih iri sama Arsyad, Ai," ujar Hulya yang membuat Aira langsung berhenti tertawa. "Aku nggak tahu, apa mas Fahmi bisa mencintaiku seperti Arsyad mencintaimu. Begitu banyak luka dan rintangan, itu sama sekali tidak menyurutkan cintanya sama kamu."
Aira hanya bisa terdiam mendengar apa yang di katakan Hulya hingga terdengar suara ketukan pintu yang di susul dengan suara Via yang memanggilnya.
"Via manggil, nanti aku telfon lagi," kata Aira. "Assalamualaikum."
"Waalaikum salam, titip salam untuk bidadari kecilmu itu ya," kata Hulya.
"Iya," jawab Aira kemudian ia memutuskan sambungan telfonnya.
Aira membuka pintu yang langsung di suguhkan dengan senyum manis Via yang duduk di pangkuan Arsyad.
"Kenapa kamu selalu duduk di pangkuan Abi, Vi?" Aira langsung menyelipkan tangannya di ketiak Via kemudian menurunkan Via dari pangkuan Arsyad.
"Suka, Ummi. Bisa jalan nggak usah melangkah, hehe." jawab Via sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ada apa?" Tanya Aira kemudian pada Via dan ia enggan menatap Arsyad.
"Katanya mau belanja?" Sambung Arsyad. "Aku juga nggak bawa baju banyak, cuma 3 lembar, Bi Sri juga nggak bawa baju banyak, soalnya ribet di jalan," keluh Arsyad.
"Ya siapa suruh kamu kesini dalam keadaan seperti ini," sela Aira.
"Kan kamu sudah tahu jawabannya, Sayang. Masih terus di tanya," ucap Arsyad. "Aku kesini untuk menyusul kamu dan anak-anakku."
"Terserah lah," gumam Aira. Ia hendak kembali masuk ke kamarnya namun kemudian ia kembali menatap Arsyad." Sholat dzuhur dulu, baru kita belanja." lanjutnya yang membuat Via dan Arsyad memekik girang bersamaan.
Bahkan kedua insan beda generasi itu langsung melakukan tos yang membuat Aira melongo.
"Mandi ... mandi ... Kita jalan-jalan...." seru Via kegirangan sambil melompat-lompat, Arsyad tertawa geli melihat tingkah anaknya itu.
"Emangnya kamu nggak pernah bawa dia jalan-jalan?" Tanya Arsyad.
"Oh, soalnya dia kegiranagn kayak nggak pernah di ajak jalan-jalan," gumam Arsyad sambil mencebikkan bibirnya.
"Mungkin dia girang karena kali ini kita jalan-jalan bersama," tukas Aira masih dalam mode ketus yang membuat Arsyad tersenyum simpul.
...🌱...
Jakarta, Indonesia.
Hulya bisa bernapas lega setelah berbicara dengan Aira, yang bisa ia berikan untuk sahabatnya itu hanya doa dan dukungan.
Saat ini Hulya sedang menemani Fahmi bekerja, lebih tepatnya, Hulya juga bekerja di restaurant atas permintaan Arsyad karena mungkin Arsyad akan lama di Pakistan.
Sementara Fahmi, pria itu menatap istrinya sambil meringis, apalagi setelah mendengar nasehat bijak Hulya pada Aira.
"Kenapa sih, Mas? Liatin aku kayak liat fenomena alam begitu," tukas Hulya.
"Kamu kok pintar sih milih kata-kata nashetin Aira? Dapat dari mana?" tanya Fahmi yang membuat Hulya langsung menatap tajam suaminya itu.
"Dari hatu nurani lah, Mas," ketus Hulya.
"Oh gitu, ya?" Gumam Fahmi dan Hulya mengangguk tegas. "Tapi kok bisa nasehatin kayak gitu dari hati nurani? Padahal ancamanmu sangat mengerikan sama aku kalau sampai aku melakukan apa yang Arsyad lakukan," cicit Fahmi. Hulya langsung menajamkan tatapannya pada Fahmi yang membuat nyali Fahmi langsung menciut.
"Kalau kamu mau nikah lagi, sana! Tapi ingat! Kamu boleh ketemu Jihan cuma kalau kamu lagi sekarat! Atau aku hanya akan bawa Jihan ketemu kamu kalau kamu sudah ada di liang lahat, sudah di kubur! Cuma buat ngirim yasin aja!" Fahmi langsung menelan ludahnya mendengar ancaman mengerikan Hulya, padahal tadi istrinya itu terdengar bijak sekali saat berbicara dengan Aira.
"Astagfirullah, tuh 'kan, sadis."
"Ya karena nggak ada alasan buat aku ikhlasin kamu poligami dan nggak ada alasan kamu poligami kecuali nafsu!"
...🌱...
Lahore, Pakistan
"Mau kemana?" tanya Javeed yang melihat Aira sekeluarga keluar dari rumah.
"Mau belanja, Om." Via menjawab dengan semangat, bahkan ia segera menghampiri Javeed yang baru saja turun dari mobilnya. "Ayo, Om. Kita belanja," ajaknya.
"Sayang, Om Javeed baru pulang, mungkin dia masih capek," kata Aira.
Tatapan Javeed justru tertuju pada Arsyad yang juga menatapnya saat ini. Dan tanpa di sangka, Javeed justru tersenyum manis kemudian berkata, "Ayo, kita belanja di tempat biasa, ya. Habis itu kita makan di tempat makan favorit Via." Arsyad tercengang mendengar ucapan Javeed yang tampaknya sudah sangat akrab dengan Via. Kini tatapan Arsyad beralih pada Aira.
"Dia tetangga kita, dia yang selama ini bantu aku jagain Via dan sering bawa Via jalan-jalan," kata Aira seolah mengerti apa yang ada dalam benak Arsyad.
"Katanya kamu di titipkan pada kenalan Abi," ujar Arsyad.
"Sudah, jangan cemburu sama aku," sambung Javeed masih dengan senyum manisnya. "Aku sama Aira memang dekat kok, kami cuma teman."
"Teman? Sejak kapan kamu punya teman cowok, Humaira?"
**TBC...
Jangan lupa baca ini juga, ya☺️ Di jamin nggak akan nyessel. 😘**