Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #124 - Rencana Pulang


Anggun tersenyum sinis setiap kali ia mendapatkan sejumlah uang dari Aira, ia merasa di hina dan di rendahkan namun ia mencoba mengabaikan perasaannya itu. Ia menganggap uang yang di berikan Aira adalah nafkah yang Arsyad berikan untuk anaknya.


Obesesi Anggun yang terbungkus dengan kata cinta itu telah menutup semua akal sehatnya. Dan rasa iri pada Aira pun telah menutup hati nuraninya.


Dan saat ini, rasa iri itu semakin menjadi saat Arsyad mulai sangat jarang menghubunginya bahkan sering sekali tak menjawab telfonnya, Anggun yakin Arsyad pasti sibuk menemani Aira dan putra mereka.


Sementara di sisi lain, Arsyad seolah kehilangan ketenangannya setelah apa yang di katakan ayah mertuanya, kecurigaan terpancing dengan begitu mudah karena sebelumnya ia telah di bohongi berkali-kali oleh Anggun.


Biasanya, setiap hari Arsyad menanyakan keadaan Baby Maita walaupau ia tak berinteraksi dengan intim, namun sejak muncul kecurigaan itu, kini ia semakin malas menghubungi Anggun. Bahkan sering sekali Arsyad mengabaikan telfon Anggun.


Namun Aira masih berusaha berkomonikasi seperti biasa dengan anggun apalagi belum terbukti bahwa anak itu bukan anak Arsyad.


Aira dan Arsyad menjalani hari yang sama setiap hari, dengan menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya.


Javeed benar, Arsyad sangat beruntung memiliki Aira, Via dan baby Ali. Tanpa mereka, takkan ada yang berarti dalam hidup Arsyad.


Mungkin Arsyad bukan ayah yang baik untuk anak Anggun, Arsyad tahu itu. Bahkan ia tak merasa bahagia saat mengetahi Anggun hamil, beda halnya dengan saat ia mengetahui Aira hamil.


Arsyad senang saat mendengar Anggun melahirkan, namun ia merasa begitu bahagia saat Aira melahirkan.


Dulu, Arsyad melakukan semua itu padahal tak ada dugaan apapun terhadap anak Anggun, dan setelah ia menduga itu bukan anaknya? Rasa menjadi ayah dari anak Anggun seolah hilang begitu saja. Katakanlah itu bagian dari hawa nafsunya, sisi egonya.


Saat ini Arsyad sedang menatap wajah putranya yang sedang tertidur lelap setelah di susui oleh Aira, sementara Aira sedang mandi sekarang.


"Sayang sekali nenek nggak bisa lihat kamu, Sayang," kata Arsyad sembari mencolek gemas pipi Aby Ali.


"Abi..." teriak Via yang mengejutkan Arsyad.


"Sshhtt, jangan teriak," kata Arsyad setengah berbisik pada Via. "Adik bayi lagi tidur, Sayang."


"Opsss..." Via langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan kecilnya, ia berjalan pelan-pelan menuju ranjang dan ikut memperhatikan adik bayinya itu.


"Abi..." panggil Via berbisik pada Arsyad. "Apa benar sebentar lagi kita mau pulang?" tanya Via dan Arsyad hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Iya, Sayang. Setelah adik bayinya berusia satu bulan, kita pulang."


Pupil mata Via langsung melebar mendengar ucapan sang ayah, ia langsung turun dari ranjang, mengambil kalender dan menghitung hari sejak baby Ali di lahirkan.


"Abi, satu bulan itu satu lembar kalender ini, 'kan?" tanya Via sambil menunjukan kalender.


"Iya," jawab Arsyad sambil terkekeh. "Satu bulan itu 30 hari."


"Ohhhh." bibir Via membentuk huruf o kecil yang sekali membuat Arsyad terkekeh.


Seharusnya mereka pulang saat baby Ali setidaknya berusia 3 bulan, namun karena Arsyad dan Aira sudah tak sabar ingin tahu fakta tentang anak Anggun, mereka pun memutuskan untuk pulang lebih cepat dari rencana awal.


Via yang senang dengan kabar itu langsung menelepon Tanvir untuk memberi tahu.


***


Jakarta,, Indonesia.


"Mama..." teriak Tanvir sambil berlari menuruni tangga.


"Jangan lari, Tanvir. Nanti jatuh, sakit lho," tegur Zenwa.


"Mama, kita nggak usah ke Pakistan, Via sama adik bayinya sudah mau pulang sebentar lagi," kata Tanvir yang membuat Zenwa mengernyit bingung.


"Kata siapa?" Tanya Zenwa.


"Kata Livia, Mama," jawab Tanvir girang.


"Tapi kok cepat banget?"


TBC...