Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #39 - Kembali Tersenyum


Anggun menempati kamar yang berada tepat di kamar samping Ummi Ridha, walaupun ini menyedihkan baginya namun Anggun mencoba bersabar dengan harapan suatu hari nanti Arsyad akan luluh padanya.


Tadinya, Anggun ingin sekali menempati kamar Via karena kamar itu tepat di samping kamar Arsyad, namun Arsyad tak mengizinkannya. Ummi Ridha pun juga tak mengizinkan dengan alasan kamar itu kecil, karena memang benar kamar yang di tempat Anggun sedikit lebih besar.


Sementara Arsyad, pria itu masih tak bisa tidur padahal jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Ia hanya memikirkan Aira dan Aira, seolah kepalanya akan meledak akan hal itu.


Arsyad memandangi foto Aira penuh rindu, belum sehari mereka berpisah, namun rindu itu sudah menggali lubangnya sangat dalam, menenggelamkan Arsyad ke dasar tanpa ampun.


"Seandainya Allah memisahkan kita dengan kematianku, itu akan lebih baik, dari pada kita berpisah dengan pengkhianatanku." air mata Arsyad kembali mengalir begitu saja, sampai membasahi bantalnya.


Arsyad teringat dengan liontin Aira, ia ingin memakainya, mungkin dengan begitu perasaan nya akan sedikit lebih baik. Namun saat Arsyad mencari liontin itu, ia tak menemukannya.


Arsyad panik, karena di meja, di laci, dan di semua tempat, liontin itu tak juga ia temukan.


"Apa mungkin di buang?" Arsyad menggumam kesal, ia pun segera turun dan berjalan tergesa-gesa menuju kamar ibunya tanpa perduli ini sudah malam dan mungkin sang ibu sudah tidur.


Arsyad mengetuk pintu kamar berkali-kali sambil terus memanggil ibunya.


Sementara itu, Ummi Ridha sangat terkejut mendengar suara Arsyad, ia pun segera membuka pintu karena ia takut terjadi sesuatu pada putranya itu. "Ada apa?" Ummi Ridha bertanya dengan kening yang berkerut dalam.


"Dimana liontinku?" Tanya Arsyad tajam.


"Linton apa?" Ummi bertanya dengan bingung, apalagi melihat kemarahan di mata Arsyad?


"Ya liontin yang ada di kamarku, Ummi. Pasti Ummi buang, 'kan?" tuding Arsyad.


Anggun yang belum tidur langsung keluar dari kamarnya setelah mendengar keributan Arsyad.


"Mas, ada apa?" Tanya Anggun sembari mendekati Arsyad.


"Oh, jangan-jangan kamu yang ambil liontin di kamarku?" Tuduh Arsyad yang membuat Anggun melongo bingung.


"Liontin apa, Mas? Aku belum ke kamar kamu," jawab Anggun.


"Jangan bohong!" seru Arsyad. "Kalau bukan kalian, siapa lagi? Cuma kalian yang ada di rumah ini!"


Ummi Ridha terperangah mendengar ucapan Arsyad, ini pertama kalinya anaknya itu berbicara seperti orang tak beradab seperti ini. Kemudian ia teringat kedatangan Aira dan Via sebelum mereka pergi, kemudian ia berkata." Mungkin Aira yang ngambil, dia sempat kesini," ucapnya kemudian.


"Aira?" Gumam Arsyad.


"Iya, Mas. Katanya dia mau ngambil tas Via," sambung Anggun.


Arsyad menatap Anggun dan Ummi Ridha dengan tajam, seolah ia tak percaya dengan apa yang di katakan kedua wanita itu. "Kami nggak bohong, dia datang bersama ibunya," ucap Anggun lagi yang menyadari arti tatapan Arsyad.


Arsyad terdiam sejenak, berharap memang Aira yang mengambil kalungnya. Setelah itu, ia kembali ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Apa dia marah-marah jam 1 malam hanya karena itu?" Gumam Anggun tak percaya, Ummi Ridha tak menjawab dan ia masih sedikit shock karena Arsyad membuatnya terbangun di tengah malam begini hanya karena hal sepele.


"Ummi...."


"Sebaiknya kamu kembali ke kamar, Anggun. Ini sudah malam," ujar Ummi Ridha, ia menutup pintu kamarnya begitu saja, membuat Anggun sedikit tercengang.


"Apa ini?"


***


Jibril mengintip ke dalam dan melihat Aira yang sedang melaksanakan sholat, sementara Via sudah tertidur di atas ranjangnya.


Jibril hendak menutup pintu itu kembali namun ia mengurungkan niatnya, ia pun masuk ke kamar Aira dan melangkah dengan sangat pelan, Jibril duduk di tepi ranjang.


Setelah selesai sholat, Aira kembali melantunkan do'a dengan begitu lirih, dan tak lupa, ia berdo'a untuk kebahagiaan Arsyad. Jibril yang mendengar do'a itu hanya bisa tersenyum kecut.


Setelah selesai berdo'a dan merapikan mukena nya, Aira duduk di samping Jibril, ia mengambil buah anggur di piringnya.


"Kamu masih sempat mendo'kannya?" Tanya Jibril yang juga menikmati anggurnya.


"Aku nggak rugi dengan mendo'kannya," jawab Aira yang membuat Jibril terkekeh.


"Kamu benar, do'a yang di panjatkan untuk orang lain akan kembali pada yang berdo'a."


"Hem," jawab Aira sambil menikmati anggur yang terasa sangat manis itu, bahkan ia terlihat sangat lahap, seperti orang lapar.


"Kamu lapar, Dek?" Tanya Jibril bingung dan Aira menggeleng. "Tapi kamu makannya lahap," imbuhnya sembari melirik buah anggur yang kini hanya tersisa beberapa biji saja di piring.


"Manis, Kak. Beli dimana?" Tanya Aira, Jibril sedikit mengernyitkan keningnya karena tak biasanya Aira makan seperti orang rakus.


"Beli di pasar," jawab Jibril, ia mengambil sisa anggur di piring itu yang membuat Aira cemberut. "Maaf ya, tapi ini kan Kaka yang ambil, yang beli juga Kaka, masak kamu yang habisin," tukas Jibril yang langsung membuat Aira cemberut.


"Besok aku beli deh, lebih banyak lagi," rengeknya.


"Kaka bercanda." Jibril berkata sembari menyuapkan sisa anggur yang tersisa ke mulut Aira dan itu membuat Aira tersenyum senang.


Jibril bisa bernapas lega karena ia melihat sang adik baik-baik saja, apalagi selama ini Micheal selalu mengadu bahwa keadaan Aira sangat buruk, tentu saja Jibril khawatir. Aira pun merasa jauh lebih baik setelah ia berada di rumah ini, sedikit beban tersingkir dari hatinya.


"Kak..." panggil Aira lirih.


"Hem..."


"Kaka kapan nikah? Sudah lebih dari 30 tahun lho usianya."


"Nanti, kalau sudah ada wanita yang mau melamar kaka."


"Haha..." Aira tertawa geli mendengar jawaban Jibril itu. "Mimpi kali, Ka. Nggak ada wanita yang mau melirik pria dingin dan kaku seperti kakak, apalagi melamar."


"Ada, kalau Allah sudah berkehendak, pasti ada." Aira mencebikkan bibirnya, karena baginya itu benar-benar lucu.


"Kenapa kalian ngobrol tengah malam?" kaka beradik itu langsug menoleh saat mendengar suara Ummi Firda.


"Aku nggak bisa tidur, Ummi," jawab Jibril santai.


"Terus kamu mengajak adikmu mengobrol? Ini jam satu lebih, Jay. Nanti Via juga terganggu. cepat kembali ke kamarmu!"


***


Tak ada lagi yang bisa di harapkan, tak ada lagi yang pantas di pertahankan. Bahkan, jika hanya sekedar air mata.


Arsyad menandatangi surat cerainya dan sama seperti Aira, ia pun menitikan air matanya.


Dan sama seperti Aira yang tak mau tahu soal sidang perceraiannya, Arsyad pun begitu. Ia menyerahkan semuanya pada pengacaranya, Aira tidak menuntut harta apapun, meskipun Aira dan Arsyad sudah memiliki anak adopsi. Persidangan ini akan berjalan dengan cepat dan lencar, karena dari kedua belah pihak melakukannya tanpa drama apapun, hanya perceraian.