Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #88 - Tiada Yang Sempurna


"Kamu yakin masih mau memperjuangkan dia? Aku lihat dia benar-benar menutup hati lho sama kamu, Jav." untuk yang ke sekian kalinya ibunya Javeed memperingatkan putranya itu agar tak terlalu berharap pada Aira, namun sepertinya Javeed tak mau berhenti begitu saja.


Saat ini, Javeed sedang sedang membuat gelang dari manik-manik mutiara untuk ia berikan pada Via juga Aira.


"Selama dia bukan istri orang lain, aku akan memperjuangkan dia, aku nggak akan berhenti sampai dia menerima atau menolakku," jawab Javeed percaya diri.


"Ingat! Sakitnya karena jatuh cinta lebih sakit dari pada jatuh di aspal," seru ibunya namun Javeed hanya terkekeh.


"Masak? Yang aku rasa, jatuh cinta luar biasa indah, Ma. Penuh warna, menakjubkan," ujar Javeed yang membuat sang ibu hanya bisa menghela napas berat.


Benar, jatuh cinta itu rasanya luar biasa indah dan penuh warna, membuat seseorang merasa terbang tinggi ke angkasa. Namun, saat berjalan di atas nama cinta, barulah seseorang akan sadar, di samping cinta adalah perasaan terindah, cinta juga adalah luka yang begitu menyakitkan.


Setelah Javeed membuat kedua gelang itu, kini dengan semangat ia pergi ke rumah Aira sebelum ia pergi ke toko seperti biasa.


Sesampainya di rumah Aira, seperti biasa Javeed akan mengucapkan salam dengan suara lantang. Tak berselang lama, pintu terbuka menampilkan wajah berbinar Via. "Om..." seru Via girang. "Om bawa apa sekarang buat Via?" Tanya Via tanpa basa basi yang langsung membuat Javeed tertawa geli, bocah ini sepertinya sudah hafal bahwa Javeed takkan datang dengan tangan kosong.


"Coba tebak, Om bawa apa?" Tanya Javeed yang menyembunyikan gelangnya di punggungnya.


"Kue? Mainan? Buku? Baju? Selendang?" Tebak Via namun Javeed selalu menggelengkan kepala, Via cemberut, ia mencebikan bibirnya bahkan kini pipinya mengembang seperti bakpao.


"Terus apa dong?" Tanya Via sambil bersandekap tangan di dadanya, tampak sangat lucu dan menggemaskan.


"Tutup mata dulu," pinta Javeed, Via pun langsung patuh seperti biasa. "Sekarang buka mata," seru Javeed. Via perlahan membuka matanya dan seketika pupil matanya melebar melihat sepasang gelang manik mutiara di depannya.


"Via suka?" Tanya Javeed.


"Suka, Om," jawab Via yang benar-benar antusias, bahkan kini ia menjulurkan tangannya pada Javeed, meminta Javeed memakaikan gelang itu di tangannya, dengan senang hati Javeed pun melakukannya.


Sementara di dalam, Aira sibuk membuat sarapan untuk ia dan Via. Setelah selesai menyusun sarapan di meja makan, Aira menyusul Via keluar.


"Hai, Javeed. Kamu nggak ke toko?" Tanya Aira sembari melangkah mendekati Javeed dan Via.


"Ini mau ke toko, aku kesini mau kasih hadiah kecil buat kamu dan Via," ucap Javeed, senyum manis tersunngging di bibirnya seperti biasa.


"Hadiah apa lagi? Nanti kamu bangkrut lho kasih hadiah terus untuk Via," gurau Aira yang kini sudah berdiri tepat di hadapan Javeed.


"Ini hadiahnya, Ummi. Cantik, 'kan? Via suka," sambung Via sembari menunjukan gelang yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Oh, cantik sekali, Sayang," kata Aira.


"Ini buat kamu..." Javeed juga menyodorkan satu gelang yang tersisa untuk Aira, Aira hanya memandang gelang itu, tampak ragu untuk menerimanya.


"Aku rasa nggak usah," ucap Aira kaku, ia melakukan segala cara agar Javeed tak mendekatinya, tak berharap padanya, tapi Javeed justru dengan begitu gigih melakukan segala cara untuk mendekati Aira.


"Ini hanya hadiah kecil, Aira. Bukan sesuatu yang istimewa, aku sering kasih hadiah begini sama semua orang kok," ucap Javeed yang tentu saja berbohong. Selama ini hidup Javeed hanya berputar antara toko roti dan ibunya di rumah. "Ambil, Ai. Kalau kamu suka, pakai. Kalau kamu nggak suka, kasih aja ke orang lain," ucap Javeed terlihat pasrah padahal dalam hati ia sangat berharap Aira memakainya.


"Terima kasih, ini cantik," ucap Aira kemudian.


"Kembali kasih," jawab Javeed dengan senyum lebar. "Ya udah, aku mau ke toko dulu." Javeed mengusap kepala Via dengan sayang.


"Baik-baik di rumah, ya. Kalau ada apa-apa, langsung telfon aku." Aira menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan Javeed yang benar-benar berlagak seperti kepala keluarga.


🌱


Bandung, Indonesia.


Anggun meremas jari jemarinya guna menahan perasaannya yang membuncah, ia begitu gugup saat Dokter melakukan pemeriksaan pada kandungannya, keringat dingin bercucuran di kening Anggun. Bu Husna yang melihat kegugupan Anggun langsung menggenggam tangan Anggun.


"Kamu tenang, jangan gugup begitu. Kram perut saat hamil itu hal biasa, Anggun," hibur Bu Husna namun Anggun masih tak bisa tenang.


Sejak tadi malam, Anggun merasakan ada yang aneh dalam perutnya, ia merasakan kram luar biasa, perutnya juga sering sakit tanpa sebab.


"Saya harap ini hanya diagnosa, Bu. Tapi..." raut wajah Dokter tampak berbeda, keningnya berkerut, ia menatap Anggun dengan sendu. "Maafkan saya, tapi dari pemeriksaan, kemungkinan anak Bu Anggun akan cacat saat lahir nanti, dia punya kelainan."


Seluruh tubuh Anggun langsung lemas tak bertenaga saat mendengar apa yang di katakan Dokter, detak jantungnya seolah berhenti, aliran darahnya seperti membeku. Begitu juga dengan bu Husna, ia tercengang, tak percaya dengan apa yang di katakan Dokter. "Janinnya seperti terhambat berkembang, detak jantungnya juga sangat lemah."


"Tidak mungkin, Dok. Selama ini kami menjaga Anggun dengan sangat baik, kami memenuhi kebutuhan gizinya dengan sangat baik," kata Bu Husna tak terima.


"Ada banyak faktor yang membuat janin memiliki kecacatan, Bu. Bukan hanya sekedar kurangnya gizi, bahkan stres yang berlebih juga bisa menjadi penyebabnya."


"Nggak, aku nggak mau bayiku cacat!" Seru Anggun dengan derai air mata. "Aku mohon dokter, lakukan sesuatu. Aku nggak mau bayi ini cacat."


"Bu Anggun tenang dulu, nanti kita lakukan pemeriksaan sekali lagi. Semoga saja diagnosa pertama ini salah."


...🌱...


Sementara itu, Arsyad pun juga melakukan check up rutinnya. Dokter Patrick melakukan pemeriksaan secara menyeluruh pada Arsyad apalagi Arsyad yang masih bersikres ingin pergi ke Pakistan. Ia harus memastikan Arsyad bisa melakukan penerbangan tanpa di dampingi Dokter.


"Perkembanganmu bagus, masalahmu sekarang tinggal kaki," kata Dokter Patrick. "Itu yang paling penting, kamu harus banyak beristirahat dan jangan banyak menggerakan kakimu kalau ia ingin pergi."


"Hem," jawab Arsyad.


Dokter Patrick menatap Arsyad, raut wajah pria itu kini tampak berubah, tampak lebih berbinar daripada hari-hari biasa.


"Aku bingung, apa masalah rumah tangga yang di alami oleh orang-orang seperti kamu dan Aira? Kalian sama-sama kaya, nggak akan ada perbedaan status dan kasta, nggak ada yang menjadi penghalang cinta kalian." Arsyad menahan senyum mendengar apa yang di ucapkan Dokter Patrick, karena kata-kata seperti itu sudah sering ia dengar. Banyak yang mengatakan bahwa Arsyad dan Aira adalah pasangan serasi yang di impikan oleh pasangan yang lain, namun di dunia ini tak ada yang sempurna dan sekarang Tuhan memperlihatkan ketidak sempurnaan itu.


"Kamu boleh pergi ke Pakistan karena satu-satunya masalahmu sekarang hanya patah tulang kaki, tidak ada yang perlu di khawatirkan," ujar Dokter Patrick kemudian yang membuat Arsyad langsung menghela napas lega, ia mengucapkan syukur tanpa henti.


"Bulan ini bisa, 'kan?"