Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #75 - Noda Adalah Bukti Manusiawi


"Apa menurutmu seorang kekasih bisa mencintai dengan sempurna?"


"Nggak bisa."


"Kenapa?"


"Orang tua kita aja nggak akan bisa mencintai dengan sempurna padahal mereka melakukan segalanya untuk kita, apalagi hanya seorang kekasih yang baru kita kenal saat kita dewasa, yang bahkan belum melakukan apapun untuk kita."


"Bukankah cinta orang tua adalah cinta yang paling sempurna? Kelak, jika kita memilki seorang anak, kita pasti akan mencintainya dengan sempurna."


"Aku tahu, nggak akan ada perasaan yang setulus perasaan orang tua. Tapi, Mas. Kita itu manusia, di samping hati nurani, ada hawa nafsu, kita nggak akan sempurna dalam hal apapun karena memang hakikatnya kita adalah makhluk, selalu punya batas."


Arsyad menoleh, menelisik wajah cantik Aira yang selalu mampu menenangkannya, bak rembulan di malam hari. "Kenapa liatin aku begitu?" Aira mengalihkan pandagannya, pipinya merona setiap kali Arsyad menatapnya dengan intens seperti ini. Hatinya bergetar indah.


"Jadi, jika suatu hari nanti kamu menemukan kecacatan dalam cintaku, apakah artinya cintaku tidak tulus?" Aira tak menjawab, ia hanya tersenyum dengan kedua tangannya yang menangkup pipi Arsyad kemudian Aira mengecup kening Arsyad penuh cinta.


Arsyad menitikan air matanya, merasakan kehangatan ciuman sang istri yang terasa hingga ke relung hatinya yang paling dalam.


"Dokter...." Anggun berteriak memanggil Dokter saat ia melihat jari jemarin Arsyad yang bergerak, kelopak mataya pun bergerak-gerak seolah ingin terbuka, air mata juga mengalir di sudut mata Arsyad hingga membasahi bantalnya.


"Dokter..."


"Arsyad bergerak..." Anggun memberi tahu dengan antusias saat Dokter dan Suster datang memeriksa.


Suster pun meminta Anggun keluar agar mereka bisa memeriksa keadaan Arsyad. Dokter mengecek detak jantung Arsyad yang perlahan stabil dan itu membuat mereka takjub.


"Detak jantungnya mendekati sempurna," ucapnya. Ia pun mencoba memanggil Arsyad yang tampaknya masih berjuang untuk membuka mata.


"Cinta yang tulus adalah cinta yang tidak punya alasan atas keberadaannya, Mas. Itu sih menurut aku, karena kita hanya manusia, tidak akan ada yang benar-benar sempurna. Janji bisa di ingkari dengan berbagai alasan, kita bisa saling meninggalkan dengan berbagai alasan. Bahkan, bisa saja akan ada sejuta alasan yang bisa membuat cinta kita ternoda, cacat, padahal kita tak menghendaki hal itu."


"Jika kamu menemukan noda dalam cintaku." Arsyad menggengam tangan Aira dengan lembut, mengecupnya penuh kasih. "Jangan tinggalkan aku, tapi peluklah aku, Sayang. Bantu aku menghilangkan noda itu, bimbing aku menghilangkan kecacatan itu."


"InsyaAllah, dan jika aku tak mampu, semoga Allah sendiri yang membantumu, Mas."


"Aira..."


"Aira..."


Kembali, Arsyad kembali menyebut nama itu, nama yang selalu datang dalam mimpinya, yang membuat ia enggan terjaga dan memilih terlelap dan tenggelam dalam mimpi itu karena di sanalah ia bersama Aira.


Dokter langsung menyuruh Suster untuk memanggil Anggun, dan saat Anggun masuk, ia langsung mendekati ranjang Arsyad, Anggun mendengar dengan jelas Arsyad yang memanggil nama Aira.


"Bu Anggun, apa wanita yang bernama Aira itu belum bisa datang?" tanya Dokter dan Anggun hanya bisa menggeleng lemah, karena sampai detik ini Aira masih belum membalas pesannya, Fahmi juga sudah memberi tahu Anggun bahwa Aira sudah menghubungi Fahmi dan kini Anggun mengerti, Aira takkan pernah mau terkoneksi dengan Anggun.


"Saya punya rekaman suaranya, Dok." Anggun berkata sembari mengeluarkan ponselnya kemudian ia memutar rekaman suara Aira yang ia dapat dari Fahmi. Setelah Arsyad mendengar suara Aira saat itu, Dokter mengatakan perlahan Arsyad mengalami kemajuan karena itulah Fahmi merekam suara Aira san memberikannya pada Anggun, bahkan Anggun sering memperdengarkan rekaman itu pada Arsyad dengan harapan Arsyad bisa tersadar.


Kedua mata Anggun terasa panas dan berkaca-kaca saat melakukan itu, namun bibirnya tersenyum, merasa lega dan bahagia melihat perkembangan Arsyad.


...🌱...


Jibril yang sudah sampai di rumahnya di berondong dengan berbagai pertanyaan oleh Umminya.


"Ya Allah, masih sempat-sempatnya anak itu belanja," gumam Ummi Firda.


"Oleh-oleh katanya buat Ummi dan Abi, ada buat Mbak Zenwa dan Tanvir juga," jawab Jibril sambil tersenyum.


"Adikmu disana sendirian, Jay. Dan kamu masih bisa tersenyum?" Tanya Ummi Firda yang membuat Jibril justru tersenyum lebih lebar sementara Abi Gabriel hanya mendengarkan ocehan istrinya.


"Ummi tahu nggak kenapa aku tersenyum?" Tanyanya menatap mata sang ibu dan tentu saja ibunya itu menjawabnya dengan gelengan kepala. "Karena aku bangga menjadi kakak dari seorang Aira, yang begitu kuat, tegar, tabah. Di saat kita semua, yang hanya melihat dia saja udah nggak sanggup rasanya membayangkan jadi dia. Sedangkan dia? yang mengalami dan menjalani hantaman ombak tak terduga ini, begitu kuat, lebih kuat dari yang kita tahu. Dia menangis, tapi dia nggak putus asa. Dia sedih, tapi nggak pernah terjebak dalam kesedihan. Lalu, kenapa kita harus berhenti tersenyum sementara dia terus berusaha tersenyum?"


Ummi Firda dan Abi Gabriel terhenyak mendengar apa yang di katakan Jibril, dan itu benar, kenapa mereka harus berhenti tersenyum sedangkan Aira sendiri selalu berusaha tersenyum?


...🌱...


^^^Lahore, Pakistan.^^^


Aira dan Via saat ini sedang jalan-jalan bersama Nida dan tentu saja bersama Javeed yang semakin hari semakin lengket dengan Via. Mereka menikmati jajanan jalanan di kota Lahore.


Javeed membawa Via pada penjual accessories, Javeed memilihkan beberapa gelang tangan dan gelang kaki untuk Via, anak itu tampak sangat senang apalagi ketika Javeed memberikannya gelang untuk menari yang akan berbunyi saat Via bergerak.


"Via suka?" Tanya Javeed dan Via mengangguk antusias.


Melihat wajah bahagia Via, tentu saja itu juga membuat Aira sangat bahagia.


Sementara Nida, ia berjalan berdampingan dengan Aira.


"Anaknya Kak Aira laki-laki apa perempuan?" tanya Nida penasaran.


"Kata Dokter sih kemungkinan laki-laki, tapi aku sendiri nggak begitu penasaran laki-laki atau perempuan. Apapun jenis kelaminnya, yang penting sehat dan lahir dengan selamat," tutur Aira panjang lebar.


Nida menatap Aira dengan tatapan yang berbeda, seolah ia ingin menanyakan sesuatu namun masih ragu.


"Kenapa, Nid?" Tanya Aira yang menyadari tatapan tak biasa Aira.


"Kak, maaf kalau aku lancang tapi aku benar-benar penasaran. Emm suami Kak Aira kenapa nggak ikut kesini?" Cicit Nida yang membuat Aira justru tersenyum.


"Dia di jalannya dan aku di jalanku." jawaban ambigu Aira itu tentu saja membuat Nida semakin penasaran dan semakin tak mengerti apa yang di maksud Aira.


"Maksudnya? Apa kalian berpisah?" Tanya Nida lagi.


"Sepertinya begitu," jawab Aira lirih. "Jalan kami masih panjang, sekarang jalan kami berbeda."


"Dan nanti?"


"Aku nggak tahu, nggak ada yang tahu apakah jalan di depan sana adalah persimpangan yang bisa membuat kami kembali bersama atau justru sebaliknya."


TBC...