
Ummi Firda melirik Aira yang saat ini sedang membuat adonan donat bersama Via, sementara ia dan Jibril membicarakan apa yang di katakan ibu pengajian tentang Aira.
"Apa kita bawa ke rumah sakit aja, Ummi? Biar di periksa sama dokter," kata Jibril.
"Ngapain harus ke rumah sakit kalau cuma mau periksa hamil apa nggak, bisa pakak tes peck," kata Ummi Firda.
"Tes peck apa? Apa ada yang jual di toko? Biar aku belikan sekarang," kata Jibril yang membuat sang ibu tertawa dan langsung menabok pipinya dengan centong yang ia pegang.
Saat ini keempat manusia itu memang sedang sibuk di dapur, apalagi Aira yang tiba-tiba ingin donat katanya.
"Belinya di apotek," ujarnya. "Tapi nggak usah beli, Jay. Kalau hasilnya negatif, Aira bisa semakin sedih," lirihnya.
"Aku juga berfikir begitu sih, Ummi. Kasihan Aira, tapi bagaimana kalau dia beneran hamil? Biasanya dugaan ibu-ibu itu benar."
Ummi Firda hanya terdiam dan masih terus mengawasi pergerakan Aira, di satu sisi ia sangat berharap Aira hamil, namun di sisi lain, ia tak berani meminta Aira memeriksa nya. "Biarkan saja, jangan suruh dia tes atau apapun itu, kecuali jika dia mau sendiri," tukas Ummi Firda kemudian dan tampaknya Jibril setuju.
"Ummi, kita bikin donat yang seperti apa?" Tanya Via sembari membuatkan adonan itu.
"Yang enak, seperti yang kita beli Sayang," jawab Aira. Karena memang benar, ia benar-benar ingin makan donat yang sangat enak.
"Sini, Kakak bantu..." Jibril datang dan bergabung dengan adik dan keponakaannya itu.
...****************...
Arsyad bekerja seperti biasa dan ia juga masih mengunjungi sekolah seperti biasa, namun kini ia menunjukan sikap yang tak biasa, Arsyad lebih dingin dan seolah lebih suka menyendiri. Senyum ramah yang dulu tersungging di bibirnya untuk para karyawan maupun para guru kini sudah tak ada lagi, hanya ada senyum tipis yang bahkan tak sampai ke matanya.
Dan itu membuat orang-orang di sekitarnya merasa bingung, apalagi kini Arsyad tak pernah lagi datang bersama Aira seperti biasa.
Hari ini Hulya dan Jihan datang untuk makan di restuaran Arsyad karena Fahmi ingin makan bersama mereka. "Mama, Tante Aira nggak kesini?" tanya Jihan sembari mengunyah makanannya.
"Nggak, Sayang," jawab Hulya sambil tersenyum kemudian melirik Fahmi sekilas.
"Kenapa? Padahal Jihan mau ketemu Via, Mama. Apa tante Aira sibuk?" Tanyanya.
Arsyad yang melewati meja Hulya dan Fahmi tanpa sengaja mendengar ucapan anak kecil itu, ia pun mendekati Jihan dan mengusap kepala Jihan dengan lembut.
"Tante Aira lagi liburan, Sayang. Pulang kampung," ucap Arsyad.
"Oh, begitu. Kapan pulang lagi, Om?" Arsyad langsung melirik Hulya juga Fahmi yang kini justru hanya mengedikan bahu.
"Secepatnya," Jawab Arsyad akhirnya sambil tersenyum tipis.
Sementara itu, Anggun yang saat ini berada di mobil merasa takut untuk turun dan masuk ke restaurant namun Ummi Ridha terus membujuknya.
"Ayo, Anggun. Memangnya kamu nggak lapar?" Tanya Ummi Ridha.
"Kita makan di tempat lain aja, Ummi. Aku gugup," kata Anggun.
"Gugup kenapa? Kita datang ke sini untuk makan, mau ketemu Arsyad juga nggak apa-apa. Toh kamu istrinya," ujar Ummi Ridha meyakinkan yang akhirnya membuat Anggun luluh.
Kedua wanita itu pun masuk ke restaurant Arsyad dan mereka melihat Arsyad yang sedang berbicara dengan Jihan.
Ummi Ridha dan Anggun menghampiri Arsyad namun tampaknya itu membuat Arsyad kesal.
Arsyad melirik Anggun yang kini justru tersenyum manis padanya. "Silakan duduk!" Arsyad mempersilahkan Anggun dan Umminya duduk di meja di samping Hulya.
Sementara Hulya menatap Anggun dengan sinis, ia menampakkan dengan jelas ketidak sukaannya pada Anggun dan itu membuat Anggun merasa terintimidasi.
Arsyad memanggil salah satu pelayannya. "Tolong catat pesanan mereka!" perintah Arsyad kemudian ia pergi begitu saja yang membuat Anggun dan Ummi Ridha melongo. Apalagi saat Anggun memanggilnya berkali-kali, namun Arsyad tak menoleh sedikitpun, membuat Anggun merasa hamil sendiri.
Hulya yang melihat itu tersenyum puas, sambil menyuapkan makanan ke mulutnya, ia menatap Anggun dengan tajam seolah berkata. "Rasakan!"
Bercerai dengan Aira membuat Arsyad seolah kehilangan arah dan jati dirinya, ia tahu apa yang ia lakukan pada Anggun juga tidak benar, namun Arsyad tidak tahu harus memperlakukan Anggun seperti apa.
Lembut seperti pada Aira? Itu tidak bisa, karena Anggun tidak mencintainya dengan lembut seperti Aira, yang mencintai dengan ikhlas tanpa memiliki obsesi untuk memiliki.
Haruskah ia belajar mencintai Anggun? Bagaimana bisa? Seluruh hatinya masih di penuhi dengan nama Aira dan Aira.
Arsyad pergi ke panti asuhan untuk sedikit menghibur diri, tak lupa ia berbelanja sebagai oleh-oleh.
Arsyad di sambut oleh ibu Kinan dengan hangat.
"Aku harap liburan Via dan Bu Aira menyenangkan dan mereka segera kembali, teman-teman Via sudah merindukan Via katanya," ujar bu Kinan sambil tersenyum.
Arsyad hanya tersenyum samar, tak tahu harus menanggapi ucapan ibu Kinan seperti apa. Ia kesini juga untuk mengobati rindunya pada Via.
...****************...
" Yah, gagal," keluh Aira karena donat buatannya justru bantet.
"Iya, Ummi. keras," sambung Via sambil cemberut.
"Ck, aku maunya donat yang empuk dan ringan itu, kenapa malah jadi begini ya." Aira masih menggumam kesal sambil memperhatikan donatnya yang gagal total.
"Nanti Ummi belikan saja, Aira," ujar Ummi Firda sembari menatap curiga pada Aira, kini ia juga mulai mencurigai bahwa sang putri memang sedang mengandung.
"Kamu nggak pengen makan sesuatu yang ... emm seperti mangga muda begitu?" cicit Ummi yang justru membuat Aira terkekeh sambil menggeleng.
"Buat apa mangga muda? Kecut, aku nggak suka," jawabnya.
"Berarti nggak hamil, orang hamil biasanya ngidam mangga muda," gumam Ummi Firda.
"Kamu pernah mual, nggak? pusing? atau sensitif dan terhadap rasa dan aroma gitu?" Tanya Ummi lagi. Aira terdiam sejenak, mengingat apa yang ia rasakan belakangan ini, kemudian ia menggeleng.
Belakangan yang ia rasakan hanya sakit hati, terluka, rapuh.
"Kenapa?" Tanya Firda kemudian. "Ummi juga berfikir aku hamil?" Tanya Aira lirih.
"Bukan begitu, Sayang. Hanya saja..."
"Ummi, kalau aku hamil, Alhamdulillah. Aku sangat senang, kalaupun nggak, ya sudah, mau bagaimana lagi? Aku sudah punya anak meskipun belum bisa melahirkan." hati Ummi Firda terenyuh mendengar is penuturan Aira, apalagi saat ia menatap mata Aira, terlihat jelas hatinya tak sekuat kata-katanya. Ia masih rapu dan terluka di dalam sana.
"Benar juga, anakmu luar biasa lagi. Luar biasa cantik, luar biasa cerdas. Nikmat Tuhan mana lagi yang bisa kita dustakan, iya, kan?"
"Hem, begitulah."