Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #52 - Berpisah


Arsyad yang masih tak bisa menghubungi keluarga Aira berencana akan terbang ke desa Aira. Ia sungguh tak mengerti kenapa semua orang memusuhinya bahkan ia tak di izinkan bertemu dengan Via, dan ia ingin mencari tahu hal itu, karena bagaimana pun juga, ia masih ayah Via.


Namun sayangnya Arsyad tak bisa pergi dalam minggu ini karena ia sedang sangat sibuk mengurus restaurant juga mengurus pembelian rumahnya.


Pagi ini, Arsyad dan Fahmi menemui seseorang yang akan menjual rumahnya.


Arsyad melihat-lihat rumah itu namun ia merasa tak cocok, rumah itu terlalu besar dan mewah.


"Aku ingin rumah yang sederhana aja, dan yang pasti..."


"Rumah yang nyaman di tempati, aku juga suka kalau di rumah itu ada kebun bunganya, Mas. Segar gitu lihat bunga."


Arsyad tersenyum saat teringat dengan apa yang pernah Aira katakan tentang rumah impiannya.


"Aku ingin rumah yang ada kebun bunganya," kata Arsyad.


"Kamu mau beli rumah atau mau menyewa sementara?" tanya Fahmi.


Arsyad terdiam sejenak, awalnya ia berfikir hanya ingin menyewa rumah.


"Aku mau beli," kata Arsyad kemudian. "Rumah yang klasik, ada kebun bunganya dan tidak usah terlalu besar."


"Itu kriteria rumah impian Aira, 'kan?" tanya Fahmi dan tentu ia tahu rumah impian Aira, dan Arsyad hanya menjawabnya dengan senyuman. "Astagfirullah, kalau kamu terus melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Aira, ya makin sulit kamu melupakannya, Arsyad."


"Entahlah, aku cuma mengikuti hatiku, Fahmi."


"Terserah kamu aja lah." Fahmi menggumam kesal, ia sudah membantu Arsyad mencari rumah namun Arsyad tak juga menemukan yang ia mau. "Oh ya, kenapa kamu nggak bangun rumah aja sekalian? Yang sesuai keinginan kamu."


"Iya juga sih."


...----------------...


"Ummi mau kemana ?" Tanya Anggun yang melihat Ummi Ridha sangat rapi.


"Aku mau menemui arsyad ," jawab Ummi Ridha yang membuat Anggun langsung merasa senang.


"Ummi mau menyuruh mas Arsyad pulang?" Anggun bertanya dengan antusias.


"Entahlah, Ummi pergi dulu." Anggun hanya tersenyum sambil mengangguk, ia mengantar Ummi Ridha sampai ke mobilnya.


Ummi Ridha masih sangat kecewa pada Arsyad, namun rasanya ia pun tak sanggup jika harus berjauhan lebih lama lagi dengan putra satu-satunya. ia juga merasa kasihan pada putranya itu yang saat ini pasti sedang terombang-ambing.


Saat di lampu merah, Ummi Ridha melihat seorang wanita yang memakai cadar di mobil yang ada di samping mobilnya, dan itu kembali mengingatkan Ummi Ridha pada Aira. Entah kenapa setiap kali ia berpapasan dengan perempuan bercadar, ia seolah melihat Aira dan akan selalu teringat dengan Aira.


Sesampainya di restaurant, Ummi Ridha langsung bergegas ke ruangan Arsyad namun ia tak menemukan Arsyad disana, ia mencari Fahmi untuk menanyakan keberadaan Arsyad namun ia juga tak menemukan Fahmi.


"Arsyad sama Fahmi dimana?" Ummi Ridha bertanya pada salah satu karyawan disana.


"Pak Arsyad sama pak Fahmi pergi keluar, Bu,"


"Sudah lama?'


"Dari pagi, Bu."


Ummi Ridha hanya mengangguk mengerti kemudian ia kembali ke ruang kerja Arsyad, Ummi Ridha membereskan barang-barang Arsyad yang berserakan disana.


" Ummi...." Seru Arsyad yang tampak terkejut melihat keberadaan sang ibu di ruang kerjanya.


"Aku mau ke ruanganku dulu," kata Fahmi dan Arsyad pun mempersilahkan.


Setelah Fahmi pergi, Arsyad langsung mendekati sang ibu dan mencium tangannya. "Ummi apa kabar?" Tanya Arsyad dengan lembut.


"Kamu nggak mau pulang, Arsyad?" Tanya Ummi Ridha yang membuat Arsyad tersenyum.


"Ummi mau aku pulang?" Arsyad justru balik bertanya.


"Kamu udah lama nggak pulang, kamu juga nggak kasihan sama Anggun?" Arsyad menghela napas berat, ia pun duduk di sofa begitu juga dengan Ummi nya.


"Arsyad, apa kamu nggak bisa rujuk dengan Anggun? Ummi nggak tega lihat dia seperti itu, Arsyad. Kasihan dia." Ummi Ridha menatap putranya itu dan tampak memohon.


"Justru karena aku kasihan sama dia, Ummi. Makanya aku menceraikan dia, aku nggak mau mengikat dia dalam pernikahan rumit seperti ini. Dia juga berhak mencari kebahagiaan nya di luar sana."


"Tapi dia mencintaimu, Arsyad."


"Tapi aku nggak..." Ummi Ridha menatap Arsyad dengan sendu.


"Sejak kapan kamu jadi keras kepala begini?"


"Astagfirullah, Ummi. Aku bukannya keras kepala, aku cuma merasa ini yang terbaik untuk semuanya. Bahkan, keputusanku ini sudah terlambat, sangat terlambat. Aku terlanjur kehilangan Aira dan sudah terlanjur mengikat Anggun. Kalau aja dari dulu aku membuat keputusan seperti ini, mungkin semuanya nggak akan jadi kayak gini. Aku sudah membuat Anggun menderita dan jika aku mempertahankan pernikahan kami, dia akan semakin menderita."


"Arsyad! Aira itu cuma masa lalu kamu, kamu harus melupakan dia dan melangkah maju ke depan. Dan yang ada di depan kamu itu hanya Anggun dan anak kalian."


Arsyad menarik tangan sang ibu, menggenggamnya dengan lembut dan ia menatap ibunya itu dengan sayu. "Aira masa laluku yang akan terus melekat dalam hati dan benak ku, Ummi. Dia nggak akan pernah tergantikan."


Ummi Aira menarik tangannya dengan keras dan ia pun beranjak dari duduknya. "Ummi masih menunggu keputusan kamu, Arsyad. Nggak ada yang tahu masa depan, mungkin sekarang kamu bilang Aira nggak akan tergantikan, tapi Ummi berdo'a semoga hati kamu terbuka untuk Anggun. Kasihan dia."


Sambil tersenyum Arsyad menjawab, "Ummi, aku nggak pernah mencoba menahan Aira di hatiku, tapi dia tetap bertahan disana. Dan aku nggak pernah berusaha menutup hatiku dari Anggun, tapi hatiku memang tertutup untuknya."


...----------------...


Liburan ke luar negeri, tentu itu adalah sesuatu yang sangat di tunggu oleh Via, apalagi selama ini ia tumbuh di panti, jangankan ke luar negeri, ke luar kota saja tidak pernah.


Via bahagia ia akan liburan bersama Ummi dan Paman nya, namun ia juga sedih karena Abinya takkan ikut.


"Kabari Ummi kalau kalian sudah sampai," kata Ummi Firda sembari memasukan beberapa barang Via ke dalam kopernya.


Ia tampak sedih karena akan berpisah dari putri dan cucunya walaupun hanya sebentar. "Dan ingat, jangan pergi kemanapun tanpa Kakakmu, Aira."


Aira yang mendengar wanti-wanti dari sang ibu hanya bisa tersenyum, sejak kecil, kata-kata itu selalu di ucapkan ibunya jika ia hanya akan bepergian bersama kakak-kakaknya.


"Pakistan itu jauh, Ummi juga belum pernah kesana."


"Iya, Ummi. Aku akan jaga diri kok, aku janji," ucap Aira akhirnya meyakinkan.


Tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat dan kini sudah saatnya Aira pergi ke Pakistan. Aira tahu, ia takkan bisa melarikan diri dari luka yang mendera hatinya, ia takkan bisa bersembunyi dari kenangan yang menyakitkan, tapi setidaknya ia ingin menepi sejenak.


Aira menggengam lionton yang selalu ia pakai, Aira kembali mengingat apa yang Arsyad katakan dalam pesannya dan itu membuat hati Aira terasa perih. Ia hendak melepaskan liontin itu namun entah mengapa ia tak sampai hati.


"Bolehkah jika aku tetap menyimpanmu dalam hatiku meskipun kau telah meninggalkanku? Bolehkah aku tetap mencintaimu meski kini kau telah bersama orang orang lain?"