Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #130 - Do'a Untuknya


Arsyad tak perduli jika ia di panggil pria egois karena memaksa agar di antarkan ke makam anaknya. Alhasil, malam ini pak Arif membawa Arsyad dan Abi Gabriel ke makam baby Maita sementara Aira dan dr. Tiya tetap di rumah bersama Anggun dan ibunya.


Bu Husna pun juga sangat terkejut dengan kedatangan Arsyad dan Aira, apalagi ternyata mereka sudah tahu bahwa anak Arsyad sudah meninggal dan mereka tak bisa mengelak lagi.


Karena takut terjadi sesuatu, Abi Gabriel menugaskan pengacaranya untuk menjaga para wanita itu di rumah. Dan sejak tadi, Anggun hanya diam dengan tatapan tajam dan rahang yang mengeras, seolah ia menahan amarah yang begitu besar dalam jiwanya. Beda halnya dengan bu Husna yang tampak lebih santai, apalagi karena Aira dan dr. Tiya sejak tadi hanya diam dan tidak menampilkan raut wajah kasihan sedikitpun.


Bu Husna menimang baby Maita yang tadi sempat terbangun, dan Aira memperhatikan bayi malang itu dengan seksama.


"Berapa usianya?" Tanya Aira kemudian untuk memecah keheningan. Bu Husna sudah membuka mulut untuk menjawab namun Anggun mendahului.


"Untuk apa kamu tahu? Mau ngambil dia juga, huh?" desisnya.


"Astagfirullah, Anggun. Aku cuma tanya," ujar Aira.


"Tapi kamu senang 'kan akhirnya kamu bisa miliki Arsyad sepenuhnya?" Anggun berkata sambil tersenyum sinis yang membuat Aira hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Aku nggak mungkin senang atas kematian seseorang, tapi jujur aja, aku senang karena kamu udah nggak bisa membohongi kami lagi. Jadi setelah ini, silakan kamu fokus pada hidup kamu sendiri dan kami, aku dan mas Arsyad akan fokus pada hidup kami." Anggun terperanjat mendengar ucapan Aira, karena apa yang di katakan Aira persis dengan yang dia katakan pada Aira lewat pesan Arsyad.


Kini semuanya seolah berbalik pada dirinya sendiri, dia tidak akan pernah bisa memiliki apa yang sangat ia inginkan.


Sementara di sisi lain, Arsyad dan Abi Gabriel berdo'a di makam putri Arsyad. Dan untuk pertama kalinya, Arsyad merasakan getaran di hatinya sebagai seorang ayah saat ia menyentuh nisan makam sang anak. Maita Ibrahim, Arsyad akui nama itu sangat indah dan ia yakin anaknya pasti cantik dan manis.


Saat Arsyad mendoakan sang putri, ia tak bisa membendung air mata penyesalannya karena ia sungguh tak pernah ada untuknya, tak pernah memberikan perhatian yang berarti, satu-satunya yang ia berikan hanya materi yang padahal hal itu sama sekali bukan yang di butuhkan bayi itu.


"Maafin Abi, Sayang." Arsyad mengusap nisan itu dengan lembut. "Maaf karena Abi selalu jauh dari kamu, maaf karena Abi nggak pernah perduli sama kamu." Arsyad menghela napas panjang. "Semoga Allah menempatkanmu di istana surga-Nya, bersama kakek dan nenek. Semoga Allah memberikan segalanya yang nggak bisa kamu dapatkan di dunia ini."


"Kamu adalah ayah terburuk yang ada di dunia," kata pak Arif tiba-tiba yang langsung membuat Abi Gabriel menoleh.


"Lalu apa bedanya denganmu?" Sambung Abi Gabriel. "Kamu membiarkan anakmu berbohong terus menerus, apakah kamu ayah yang baik? Bayangkan saja apa yang akan terjadi jika kebohongan Anggun tentang anaknya berlanjut hingga dewasa? Anak itu perempuan, bukan mahram Arsyad, bukan mahram saudaranya." Abi Gabriel mendesis tajam dan kata-katanya itu berhasil membungkam pak Arif.


"Yang di bilang Abi itu benar, Om," ujar Arsyad menimpali. "Identitas seorang anak itu sangat penting, apalagi anak perempuan. Dan yang Anggun lakukan itu benar-benar sudah di luar nalar, dia bilang nggak mau kehilangan anak kami dan aku faham itu, dia pasti sedih karena kehilangan buah hatinya. Tapi masalahnya, dia bukan lagi istriku. Hubunganku sama dia hanya karena anak kandung kami, dan jika anak kamu sudah tiada, maka hubungan kami pun sudah tiada."


"Aku punya kenalan psikiater yang mungkin bisa membantu Anggun," ujar Abu Gabriel yang langsung membuat pak Arif geram.


"Kamu fikir anakku gila?" desisnya tajam bahkan ia hendak menyerang Abi Gabriel namun Arsyad langsung menghalaunya.


"Aku setuju dengan Abi," seru Arsyad yang membuat pak Arif terperangah. "Anggun butuh di bawa ke psikiater, Om. Supaya dia belajar berdamai dengan takdirnya, karena segala tindakan dia sangat merugikan dia sendiri dan orang lain." Arsyad berkata dengan tegas.


"Dan aku tahu, yang mengadopsi anak itu bukan Anggun, 'kan? Tapi Om dan tante, karena syarat untuk mengadopsi anak adalah pasangan yang sudah menikah," tukas Arsyad yang lagi-lagi membuat pak Arif bungkam. "Kalau begitu, berikan identitas yang jelas pada anak itu, Om. Kasihan dia." lanjutnya.


"Baik, aku akan mengganti identitasnya dan setelah ini, kamu nggak punya hubungan apapun dengan keluarga kami!" Desis pak Arif yang membuat Arsyad tersenyum miring.


"Aku rasa itu lebih baik."


Tak berselang lama, Arsyad datang untuk menjemput Aira. Namun sebelum pergi, Arsyad sempat menggendong anak adopsi Anggun dan menciumnya. Meskipun anak itu bukan anak kandung Arsyad, namun Arsyad pernah merasa anak itu adalah anaknya dan Arsyad tak bisa membohongi hatinya bahwa ia juga menyayangi anak itu.


"Jangan sok baik karena ini anak kami..." pak Arif merebut bayi itu dari gendongan Arsyad dengan paksa. "Seperti yang kamu bilang Arsyad, anak ini sebenarnya anak adopsiku dan istriku jadi sekarang kamu sudah tidak punya hubungan apapun dengan kami jadi silakan angkat kaki dari rumahku!" usir pak Arif yang membuat Arsyad kembali tersenyum miring.


"Ayo, Sayang," ajak Arsyad merangkul Aira.


"Ingat, ganti identitas anak itu atau kami akan bawa masalah ini ke jalur hukum!" gertak Abi Gabriel untuk yang terakhir kalinya.


Pak Arif dan Bu Husna tak menanggapi ucapan Abi Abi Gabriel, begitu juga dengan Anggun yang masih membisu namun dengan tatapan yang begitu tajam.


Anggun menatap kepergian Arsyad dan Aira, tangannya mengepal kuat dan air mata kembali mengalir begitu saja dari sudut matanya. Kini, semua sungguh berakhir. Ia tak punya lagi tali ikatan dengan Arsyad, dengan pria yang sangat ia cintai segenap jiwanya. Semuanya sudah selesai, dan Anggun di paksa menerima fakta itu.


***


"Nek, Ummi kok belum pulang? Ummi tidur dimana tadi malam?" rengek Via pada Ummi Firda yang saat ini sedang memandikan baby Ali.


"Tidur di rumah Om Micheal, Via. Via jangan khawatir, ya. Sebentar lagi pasti mereka pulang," kata Ummi Firda padahal ia sendiri sangat mengkhawatirkan Aira, ia takut Aira kelelahan dan jatuh sakit.


Ia terpaksa mengizinkan Aira menemani Arsyad pergi ke Bandung, namun ia tentu tak mengizinkan Aira membawa bayinya. Dan untunglah baby Ali tidak rewel semalaman, ia hanya merengek saat lapar namun Aira sudah meninggalkan stok ASI yang di bekukan.


"Ya Allah, semoga ini akhir dari semua masalah Aira dan Arsyad. Semoga masa lalu Arsyad segera di bereskan sehingga dia bisa fokus pada masa depannya."


***


"Kamu cuma kelelahan, Ai. Tapi setelah ini kamu harus istirahat total," kata dr, Tiya yang memeriksa Aira karena Aira mengeluh pusing, ia juga pucat dan badannya panas.


Saat ini Aira dan yang lainnya sedang berada dalam penerbangan, tentu juga bersama Tanvir dan kedua orang tuanya.


"Maaf ya, Sayang. Seharusnya aku nggak bawa kamu," kata Arsyad sembari mengelus kepala Aira yang bersender di pundaknya.


"Nggak apa-apa kok, Mas. Istirahat sebentar nanti juga sembuh," kata Aira.


"Tante... Tante..." Tanvir menarik baju Aira.


"Jangan ganggu Tante Aira, Tanvir. Dia lagi sakit," tegur Zenwa.


"Oh, Mama. Tanvir nggak ganggu, Tanvir cuma mau minta ajarin cara buat adik bayi karena Tanvir ingin adik bayi perempuan yang lucu."


Seketika semua orang tertawa mendengar apa yang di katakan Tanvir, namun tidak dengan Arsyad. "Andai kamu tahu, Tanvir. Sebenarnya kamu punya adik perempuan tapi sayangnya dia sudah pergi."