
Arsyad hanya bisa menunduk dalam di depan ayah mertuanya yang saat ini menatapnya dengan sangat tajam, seolah ingin membunuh Arsyad.
Bahkan, tangan ayah mertuanya itu mengepal kuat.
"Jadi, apa keputusan kamu? Kami menunggu," kata Abi Gabriel dengan tajam.
"Aku mohon, Bi. Kasih aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya," lirih Arsyad yang kini memberanikan diri mendongak. "Aku sangat mencintai Aira, aku nggak mau pernikahan kami berakhir begitu saja."
"Kami tahu itu, tapi cintamu itu justru menjadi racun untuk Aira," tukas Abi Gabriel dingin.
"Aku tahu aku salah...."
"Kamu nggak salah," sela Abi Gabriel.
"Keadaan yang salah, keadaan Aira. Dan itu menjadi pukulan untuknya, di tambah dengan pukulan dari mertuanya. Jika kamu mempertahankan Aira, maka sama saja artinya kamu membunuh Aira pelan-pelan. Karena Aira akan selalu berada di bawah bayang-bayang ibu mertua dan madunya."
"Tapi, Bi...."
"Aku tahu kamu nggak akan pernah menceraikan Anggun, ibumu tidak akan membiarkannya. Dan seandainya ibumu tidak datang dengan ancaman pada Aira, aku yakin Aira pun pasti mau belajar menerima keadaan ini karena dia juga sangat mencintaimu. Namun di saat dia sedang tertekan dengan segala keadaan yang ada, yang menghantamnya secara bersamaan, ibumu justru datang dengan membawa tekanan yang lebih kuat lagi. Apa dia fikir Aira itu bukan manusia yang punya perasaan? Jika aku yang ada di posisi Aira, dengan cobaan bertubi-tubi seperti ini, mungkin aku sudah lepas kendali dan membunuh kalian semua." Desis Abi Gabriel.
"Aku minta maaf atas nama Ummi, Bi," lirih Arsyad tertunduk malu.
"Bukan maaf yang kami butuhkan, tapi Aira kami. Kembalikan Aira kami pada kami!"
"Bi...." rengek Arsyad frustasi.
"Aku tahu kamu mencintai Aira, tapi jangan egois, Arsyad. Selama ini kamu sudah sangat egois, jangan lagi!" Tegas Abi Gabriel penuh penekanan.
"Ibumu juga sama egoisnya, di saat seperti ini, bukannya dia merasa bersalah pada Aira, dia justru membawa menantu keduanya itu ke rumahmu." Arsyad mengerutkan keningnya mendengar apa yang di katakan Abi Gabriel. "Aku tahu, karena aku sengaja menyuruh orang mencari tahu tentang wanita yang bernama Anggun itu. Lihat!" Daddy Gabriel menunjukkan foto Anggun dan Ummi Ridha yang masuk ke rumah Arsyad. "Mereka berdua tampaknya baik-baik saja meskipun pernikahanmu sedang di ambang kehancuran."
Arsyad hanya bisa membisu seribu kata, ia hampir kehabisan cara untuk mempertahankan pernikahannya apalagi ada ibu kandungnya yang seolah terus menggoncang pernikahannya dari dalam.
"Setidaknya biarkan aku bertemu dengan Aira, Bi. Aku ingin berbicara dengannya," ucap Arsyad kemudian memelas.
"Baik," jawab Abi Gabriel yang membuat Arsyad sedikit bernapas lega, ia fikir ayah mertuanya akan melarangnya seperti Micheal, namun ternyata tidak.
Abi Gabriel menyuruh Arsyad ke kamar Aira, dan tentu saja Arsyad langsung bergegas ke kamar Aira dengan tergesa-gesa.
Sementara di kamarnya, Aira sedang mengobrol bersama Ummi Firda sembari membersihkan ranjangnya. Mencurahkan segala rasa sakit, kekecewaan dan kecemasan yang ia rasakan.
Arsyad langsung membuka pintu kamar Aira tanpa mengetuknya terlebih dahulu, yang membuat Aira terlonjak kaget begitu juga dengan Ummi Firda.
"Maaf...." lirih Arsyad saat melihat keterkejutan di wajah dua wanita itu.
"Kamu ngapain kesini, Mas?" Tanya Aira dengan kening berkerut dalam.
"Ummi keluar dulu," kata Ummi Firda kemudian.
Ia berjalan melewati Arsyad dan sekilas ia menatap Arsyad dengan tatapan penuh kecewanya.
"Ada apa lagi?" Tanya Aira setelah Umminya menutup pintu, Aira memalingkan wajahnya seolah ia tak sanggup melihat Arsyad.
"Aku ingin kita bicara, Sayang," kata Arsyad, perlahan ia melangkah, mendekati Aira yang masih mencoba menghindari bertatap muka dengannya.
"Humaira...." Arsyad menarik tangan Aira. "Aku minta maaf, Sayang."
"Nggak ada yang perlu di maafkan, Mas. Semuanya sudah terjadi," lirih Aira mencoba menarik tangannya namun Arsyad menggenggamnya dengan erat.
"Aku mohon, Sayang. Apa kamu mau melepaskan pernikahan kita begitu saja?" rengek Arsyad.
"Aku nggak mau," jawab Aira tegas, ia memberanikan diri menatap Arsyad. "Tapi aku harus bagaimana? Bertahan? Itu hanya akan menggergoti diriku dari dalam."
"Apa kamu yakin ini benar-benar akan menjadi keputusan terkahirmu, Sayang?" Tanya Arsyad dengan suara bergetar. "Aku mohon, fikirkan sekali lagi, Aira."
"Tadinya aku memang masih memikirkannya, Mas. Tapi setelah apa yang Ummi Ridha katakan, aku rasa...." suara Aira tercekat di tenggorokannya saat mengingat apa yang ibu mertuanya katakan.
"Sayang, aku mohon. Kita bisa tinggal berdua saja, tanpa Ummi. Kita pindah rumah, ya?"
"Hanya karena kita pindah rumah bukan berarti kamu lepas dari ibu kamu begitu saja," Balas Aira.
Kini ia balas menggenggam tangan Arsyad, ia menatap mata Arsyad dengan mata yang kembali berkaca-kaca. "Mungkin jodoh kita sampai disini, Mas."
"Aira, please...." mohon Arsyad penuh harap. "Aku mencintai kamu, Sayang. Aku butuh kamu, aku butuh Via. Aku mohon, Aira."
"Maafkan aku tapi aku rasa keputusan aku sudah bulat, Mas!" Tegas Aira, ia langsung menyeka air mata yang mengalir begitu saja di pipinya.
"Aku tidak tahu apakah keputusanku benar atau salah, apakah ini keputusan yang bijak atau bukan. Karena aku hanya manusia biasa, yang punya hawa napsu di samping hati nurani. Jika keputusanku karena hawa napsu semata, semoga Allah mengampuniku karena aku telah memutuskan apa yang sangat Dia benci."
"Tapi aku harus memutuskan ini, karena pernikahan yang aku jalani selama ini ternyata tidak lebih dari dongeng semu yang di tulis ibumu."
....
Di rumah Arsyad, Anggun melihat-lihat Album foto pernikahan Aira dan Arsyad yang tampaknya di adakan dengan sangat megah. Arsyad tersenyum lebar dan tampak sangat bahagia di foto itu, bahkan di beberapa foto yang ada, Arsyad selalu menatap Aira penuh cinta, seolah perhatiannya hanya untuk Aira semata.
Anggun merasa iri dengan keberuntungan yang Aira miliki apalagi setelah lima tahun bersama, tatapan penuh cinta Arsyad padanya masih tak berubah.
Anggun tersenyum kecut dan menutup kembali album foto itu saat ibu mertuanya datang dengan membawa minuman segar untuknya.
"Aira beruntung bangat ya, Ummi. Pernikahannya di adakan dengan sangat megah," kata Anggun sambil tersenyum tipis. "Seandainya Arsyad mau, aku juga ingin mengadakan resepsi pernikahan walaupun hanya sederhana, untuk membagi kebahagiaan bersama keluarga dan teman-teman dekat." lanjutnya.
"Mungkin nanti bisa kita bicarakan dengan Arsyad, Anggun. Tapi jangan sekarang, karena Arsyad masih ada masalah dengan Aira."
"Sebenarnya, Ummi sayang 'kan sama Aira?" Tanya Anggun, tatapannya menelisik raut wajah ibu mertuanya itu.
"Sangat sayang, apalagi Aira itu gadis yang sangat baik, sholehah, lembut. Sebenarnya Ummi nggak heran kalau Arsyad tergila-gila padanya, tapi mau bagaimana lagi? Yang di butuhkan seorang pria adalah wanita yang bisa memberinya keturunan, apalagi Arsyad anak tunggal. Aku juga sedih sebenarnya jika harus kehilangan Aira, tapi yang namanya hidup, pasti penuh pengorbanan. "