
Javeed sempat melihat Aira sebelum ia pergi dari rumah tadi, dan harus Javeed akui, ia tertarik pada wanita itu bahkan meskipun Javeed hanya sekedar menatap matanya. Namun sayangnya, Javeed melihat Aira yang membawa gadis kecil dan gadis itu memanggilnya Ummi, Javeed juga sempat berfikir bahwa Jibril adalah suaminya, namun saat mereka memasuki toko, Javeed mendengar Via memanggilnya 'om'
Dan dompet Aira jatuh di luar toko? Yang benar saja, Javeed yang mengambil dompet Aira saat ia hendak memasuki toko dan wanita itu tidak sadar sedikitpun.
Javeed tahu mungkin Aira bukan lagi seorang gadis lajang, namun ia penasaran dengan statusnya dan ia ingin tahu siapa namanya. Apakah secantik matanya?
Seorang wanita Indonesia dan bercadar, dalam benak Javeed dia pastilah kalem, manis, namun ternyata dia cukup cuek dan jutek, bahkan tatapanya begitu tajam dan tak ramah sedikitpun, sangat jauh dari ekspektasi Javeed.
"Javeed Ji..." Javeed menoleh saat mendengar s seseorang memanggilnya. "Aap ki Aami ap ko bola rahi ha."
(Pak Javeed, ibumu memanggilmu)
"Acah theek hai, main ata houn."
(Baiklah, aku akan kesana)
Sebelum pulang, Javeed mengambil beberapa roti untuk ia makan di rumahnya.
Di sini, Jaaved hanya tinggal berdua bersama sang ibu dan sebelumnya mereka tinggal di Indonesia. Namun karena suatu musibah yang mereka alami di Indonesia, mereka pun pindah dan membuka toko roti di sana.
"Assalamualaikum, Aami (Ibu)." Javeed mengucapkan salam dengan senyum lebar di bibirnya namun sang ibu justru terlihat kesal karena Javeed tadi pergi begitu saja.
"Javeed, ap Kahan thay. Main ap ka kab sy intzar kar rahi houn?"
(Javeed, kamu dari mana? Mama tuh nungguin kamu dari tadi. "
Javeed hanya meringis mendengar ucapan sang ibu karena kadang-kadang ia di perlakukan seperti anak kecil yang harus selalu di ketahui kemana perginya. Ia pun meletakkan roti yang ia bawa ke meja setelah itu ia mendaratkan bokonganya si sofa.
"Maaf kijey ga, Aami. Main kisi kam sy apney dostun ky sath tha. Aur ap mujhe chotey bachun ki tarha na samjhe?"
(Ya maaf, Ma. Tadi aku ada urusan sama teman, lagian Mama jangan perlakuan aku seperti anak kecil)
" Tum abhi bhi mere chotey bachy ho?"
(Kamu memang anak kecil Mama)
" Huff... "Javeed hanya bisa menghela napas.
"Aami. Kia tum jantey ho hamarey naie hamsae ay han?"
(Ma, Mama tahu engga tentang tetangga baru kita)
"Naie hamsae? "
(Tetangga baru?)
Sang Mama bertanya dengan kedua mata yang melebar dan alis terangkat, ia tak mendengar kabar ia kedatangan tetangga baru.
"Han, wo Indonesia sy han. Wo larki bohot khubsorat hai par wo shadi showda hai."
(Iya, Ma. Orang Indonesia, ceweknya itu cantik banget tapi dia sudah menikah)
"Orang Indonesia?" Pekik sang ibu dan Javeed mengangguk sembari menikmati rotinya. "Heh..."
"Aduh..." Javeed langsung memegang kepalanya yang tiba-tiba di getok sang ibu. "Jaga mata sama istri orang, mau kamu di bakar massa karena melirik istri orang!"
"Astagfirullah, Aami...." Javeed menggerutu sembari mengusap kepalanya.
...***...
Setelah melaksanakan sholat maghrib, Aira yang benar-benar merasa lelah langsung tidur lelap sementara Jibri masih sibuk video dengan orang tuanya di Indonesia, begitu juga dengan Via.
"Belum suka, Nek. Karena belum jalan-jalan," jawab Via yang membuat Jibril tertawa.
"Istirahat dulu, Sayang. Kalian dari perjalanan jauh lho, jadi harus memperhatikan kesehatan. Jangan buru-buru juga, kalian punya banyak waktu disana," seru Abi Gabriel.
"Iya, Kek. Ummi tidur, capek katanya. Tapi tadi Ummi makan nasi kuning, Kek. Habis banyak, Via tidak suka. Karena ada dagingnya, nasinya juga kelihatan keras." Abi Gabriel dan Ummi Firda melongo mendengar celeteohan Via tanpa henti itu, apalagi melihat ekspresi Via yang sangat menggemaskan.
"Memangnya di Pakistan ada nasi kuning? Aku baru tahu di Pakistan ada nasi kuning, sama nggak rasanya seperti yang di Indonesia?" tanya Abi Gabriel penasaran dan kembali Jibril tertawa.
"Bi, bukan nasi kuning itu yang di maksud Via, tapi nasi Biryani," jawab Jibril dan seketika kedua orang tuanya itu terkekeh.
"Astagfirullah, jadi nasi Biryani yang di kira nasi kuning sama Via."
"Ya sudah, Jay. Disini sudah malam, kamu istirahat ya, Nak. Jangan kemana mana dulu ya, di rumah aja dulu. Istirahat yang cukup."
"Iya, Ummi. Assalamualaikum.
"Assalamualaikum, Kakek, Nenek.
"Waalaikum salam."
Jibil menutup laptopnya setelah selesai berbicara dengan orang tuanya, dan saat ia hendak mengantar Via ke kamar Aira. Jibril mendengar suara ketukan pintu yang di susul dengan suara teman-temannya.
"Sayang, Via ke kamar Ummi dan bobo di samping Ummi, ya. Biar besok pagi kita bisa jalan-jalan," ujar Gabriel dan Via pun menganggukan kepalanya, ia segera berlari ke kamar Aira, merangkak naik ke atas ranjang dan menyusup ke pelukan sang ibu yang sudah tertidur sangat lelap.
"Ummi..." Via mengusap pipi Aira dengan lembut. "Ummi bertengkar ya sama Abi? Ummi pasti kangen Abi, Via juga kangen. Tapi kenapa Abi nggak kangen sama kita?" Via menggumam lirih dengan raut wajah yang begitu sedih.
Awalnya, ia percaya bahwa sang ayah mungkin sibuk, namun lama kelamaan Via juga mulai curiga, apalagi beberapa kali ia terbangun dari tidurnya dan sempat mendengar keluhan sang ibu dalam do'anya saat sholat malam. ibunya itu menangis dan Via sungguh tak tega, Via juga tahu ibunya bukanlah pembohong dan akhir-akhir ini sang ibu sering berbohong. Abi sibuk, Abi belum bisa datang, Abi masih ada urusan dan yang lainnya. Via kini menyadari, ibu dan Abinya tak baik-baik saja, karena itulah Via mulai berhenti menanyakan keberadaan Arsyad karena ia takut itu membuat sang ibu hanya semakin sedih.
Sementara di luar, Jibril melongo melihat ketiga temannya dalam balutan pakaian adat pakistan yang biasa mereka pakai saat menghadiri pernikahan.
"Bagus, 'kan?" Tanya Rehan sembari berputar dan berpose bak model.
"Ini namanya..." Bayu mengaruk kepalanya, mengingat apa nama baju yang ia kenakan.
"Jodha," sambung Arkan.
"Jodha?" tanya Jibril dengan kening berkerut dalam.
"Iya, nama bajunya jodha. Tapi bukan jodha aja, ada dua kalimat tadi," sambung Rehan.
"Jodha Akbar?" Tanya Jibril.
"Iya-eh, lain...." seru Bayu, ia pun mengambil ponselnya dan mencari tahu nama baju yang di kenakan.
"Oh, namanya shadi Ka joda."
"Astagfirullah, panjangnya," gumam Jibril. "Terus kalian mau kemana pakai baju begini? Kalian nggak capek? Nggak mau tidur?"
"Tadi siang kami udah tidur setelah makan siang, kami baru bangun dan setelah itu langsung ingat apa kata Om Sahir tadi. Ada pernikahan, kita boleh datang."
...***...
Indonesia
Arsyad menghela napas sembari melempar jasnya ke sofa, hari ini cukup melelahkan untuknya, apalagi ia yang harus di buat kesal karena entah apa yang di lakukan Jihan pada ponselnya hingga semua data di ponselnya terhapus tanpa tersisa, dan sekarang ponselnya itu di perbaiki untuk mengembalikan data yang hilang.
TBC...