Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #73 - Hati Yang Terikat


Anggun masih tak mendapatkan jawaban dari Fahmi di karenakan Fahmi yang benar-benar sibuk.


Dan keesokan harinya, pernikahan adik Fahmi pun di gelar dan itu membantu Fahmi benar-benar tak bisa di hubungi oleh Anggun. Namun Anggun mencoba bersabar dan ia yakin Fahmi akan segera membantunya setelah tahu bahwa Arsyad membutuhkannya.


Sementara Anggun, ia masih setia menemani Arsyad yang bahkan masih memanggil nama Aira. Sakit? Hati Anggun sangat sakit, namun ia harus terima karena pada dasarnya, ia tak pernah merasakan kebahagiaan secuil pun selama bersama Arsyad.


Di awal pernikahan ia merasa senang, namun kesenangan itu terasa semu karena sikap acuh dan abai Arsyad. Dan saat ia hamil, ia bahagia, namun kebahagiaan itu harus ia bayar dengan kehancuran hidupnya dan hidup Arsyad sekarang.


Dokter masih selalu memeriksa


"Detak jantungnya meningkat, ini kemajuan yang luar biasa meskipun detak jantungnya masih belum stabil apa lagi melihat kondisi pasien sebelumnya yang hampir tak memiliki harapan." Anggun tersenyum senang mendengar apa yang di beritakan Dokter padanya. "Tapi pasien masih terus menyebut nama Aira, apa Bu Anggun belum bisa menghubungi beliau?"


"Belum, Dokter." Anggun menjawab dengan lirih.


"Saya harap beliau mau menjenguk pak Arsyad, atau mungkin Ibu bisa menghubunginya dan memperdengarkan suaranya, setelah itu kita bisa melihat perkembangannya."


"Baik, Dok. Sedang aku usahakan," jawab Anggun.


***


Lahore, Pakistan.


"Kamu yakin nggak mau ikut kami, Ai?" Tanya Arkan untuk yang kesekian kalinya dan lagi-lagi Aira menggeleng untuk yang ke sekian kalinya.


Tanpa terasa, waktu berjalan dengan begitu cepat, bahkan Arkan dan kedua temannya masih belum puas menghabiskan waktu liburannya di Pakistan namun kini mereka sudah harus kembali ke negara mereka.


Jibril menatap Aira dengan cemas, rasanya Jibril ingin membatalkan kepulangannya demi menemani Aira namun Aira bersikeras mengatakan ia akan baik-baik saja disana.


Keputusan Aira sudah bulat, ia hanya akan pulang setelah melahirkan. Bahkan setelah tahu keadaan Arsyad?


Ya, setelah ia tahu bahwa Arsyad mungkin masih mencintainya, setelah mengetahui bahwa Arsyad tak pernah membuangnya.


Aira masih ingin disini dan tak ingin lagi kembali kesana, karena yang terjadi sudah terjadi, apalagi Aira juga tahu, Anggun yang menjaga dan mengurus Arsyad sekarang. Jadi untuk apa dia kembali?


Saat ini, Aira dan Om Sahir sedang mengantar Jibril dan yang lainnya ke Bandara sementara Via ia titipkan pada Nida.


"Dek, jaga diri, ya. Jangan kemana-mana sendirian, ajak Nida kalau mau pergi ke suatu tempat." Jibril memperingatkan Aira dengan lembut dan Aira pun mengangguk.


"Karena kamu mau melahirkan di Pakistan, aku harap anak kamu nanti ganteng atau cantik seperti orang Pakistan," celoteh Bayu yang langsung di aminkan oleh Rehan dan Arkan.


"Emang kamu nggak takut tinggal disini sendirian, Ai?" Tanya Rehan kemudian


"Takut apa? Kan aku nggak tinggal di tengah hutan," kata Aira sambil tertawa hambar.


Tentu kini tawanya hambar, setelah tahu apa yang terjadi pada kekasih hatinya, bagaimana bisa dia kembali tertawa dengan bebas?


"Jaga diri dan jangan terlalu memikirkan sesuatu yang nggak perlu kamu fikirkan," kata Jibril sembari memeluk sang adik. Aira mengangguk sambil tersenyum tipis di balik cadarnya.


"Kalau kami punya uang lagi nanti, kami akan kesini lagi saat bayi kamu lahir, Ai," kata Bayu.


"Iya, Ai. Atau nanti kita bawa bayi kamu jalan-jalan ke eropa, Beh, pasti seru tuh," sambung Rehan.


"Ada-ada aja kalian ini...." gumam Jibril sementara Aira hanya menanggapinya dengan senyum simpul.


Setelah Jibril check in, Aira dan Om Sahir pun segera kembali pulang.


Selama di perjalanan, keduanya membicarakan banyak hal untuk mengisi keheningan.


Hingga pada akhirnya, Om Sahir perlahan mulai menanyakan kehidupan pribadi Aira karena ia masih penasaran apa yang terjadi pada Aira. Namun sayangnya, Aira bukan tipe orang yang mengumbar masalahnya.


Katanya, waktu dapat menyembuhkan luka. Tapi nyatanya, waktu hanya menyembunyikan luka dan luka itu bisa kembali terkuak kapanpun, dimana pun dan oleh siapa pun.


Namun satu yang pasti,  waktu memberikan masa untuk kembali berfikir dan merenungi dari apa yang terjadi dan akan apa yang mungkin segera terjadi.


Di rumah Nida, Javeed menjaga Via dan mengajaknya bermain sambil menunggu Aira pulang. Nida bisa merasakan ada yang Javeed inginkan dari Aira karena ini pertama kalinya ia melihat pria itu gencar mendekati wanita. "Aku rasa kamu punya rasa sama Kak Aira," kata Nida sembari menyajikan teh untuk Javeed.


"Kenapa? Apa dia masih punya suami?" Tanya Javeed dengan santai.


"Aku nggak tahu sih, tapi aku yakin Kemungkinannya sangat besar kalau dia itu tidak punya suami."


"Aku pun berfikir demikian, aku rasa aku bisa menerima dua anaknya menjadi anakku."


***


Jakarta, Indonesia.


Anggun ziarah ke makam Ummi Ridha bersama kedua orang tuanya, untuk mengenang dan mendo'akan Ummi Ridha yang selama ini sudah sangat baik pada Anggun.


Setelah selesai berdoa, Anggun memegang nisan mantan ibu mertuanya itu. "Ummi jangan khawatir, mas Arsyad pasti akan sembuh. Aku janji, aku akan melakukan apapun untuk kesembuhan dia." Bu Husna terenyuh mendengar apa yang di katakan putrinya penuh tekad itu.


"Iya, Ri. Kamu jangan khawatir, kami akan berusaha membuat Arsyad bahagia." sambung Bu Husna.


"Sudah, yuk! Pulang, sudah panas ini," kata pak Arif.


Mereka bertiga pun meninggalkan area makam dan kembali ke rumah.


Sesampainya di rumah, Anggun mendapatkan pesan dari Fahmi yang memberikannya contact Aira.


"Oh syukurlah...." pekik Anggun girang.