
Ummi Firda dan Abi Gabriel sedang memasak di dapur untuk makan malam nanti sambil membicarakan hubungan Aira dan Arsyad.
Abi Gabriel masih tampak sangat berat melepaskan Aira pada Arsyad untuk kedua kalinya, namun Ummi Firda terus meyakinkan bahwa apapun keputusan Aira, mereka harus mendukungnya tanpa harus menghakimi Aira lagi. Karena Ummi Firda yakin, setelah apa yang Aira alami, kini putrinya itu pasti lebih bijak dalam mengambil keputusan dan apapun keputusan dia, pasti setelah memikirkan berbagai pertimbangan dalam hidupnya.
"Aku masih nggak rela rasanya putri ku kembali pada pria yang sudah membuatnya menangis," kata Abi Gabriel sembari memotong sayuran dengan cekatan.
"Aku faham, Bang. Cuma yang namanya hidup itu 'kan perjalanannya nggak mudah, nggak gampang, kita dukung dan doakan saja."
"Iya, Sayang. Aku tahu, tapi masalahnya..."
"Bang Gabriel, coba berfikir positif sekali saja," sela Ummi Firda. "Coba memandang masalah Aira dari sisi positifnya juga, jangan terpaku pada satu pandangan apalagi itu pandangan yang negatif."
Abi Gabriel menatap wajah sang istri lekat-lekat, kecantikan yang ia miliki tak pudar oleh waktu dan usia, ia masih sama seperti 35 tahun yang lalu saat pertama kali mereka bertemu, cantik, manis, selalu mampu membuat jantungnya berdebar hebat. Terkadang Abi Gabriel bertanya-tanya, bagaimanakah hidupnya jika ia tak memiliki seorang Zeda Firdaus sebagai pasangan hidupnya? Wanita hebat yang selalu menjadi lentera dalam hidupnya.
"Bang, panasin minyak, ya. Ikannya sudah siap goreng neh," ujar Ummi Firda namun yang di panggil masih menikmati kecantikannya tanpa bosan. "Bang Gabriel Emerson..." seru Ummi Firda sembari menjetikan jarinya di depan wajah sang suami.
"Eh, iya, Sayang. Kenapa? Ada apa?" tanyanya gelagapan.
"Goreng ikan, suamiku sayang," jawab Ummi Firda gemas dan itu berhasil membuat sang suami terkekeh, ia pun segera melaksanakan perintah sang istri dengan semangat apalagi setelah mendapatkan panggilan suamiku sayang.
Tak berselang lama, terdengar bel pintu yang berbunyi. "Itu pasti Tiya," gumam Ummi Firda sembari dengan cepat mencuci tangannya setelah itu ia berlari membukakan pintu.
Benar saja, itu memang Dokter Tiya yang membawakan seblak permintaannya. "Kayak disini nggak ada yang jual aja," ucap Dokter Tiya.
"Ya ada, cuma rasanya beda," jawab Ummi Firda. "Masuk yuk, Tiy."ajaknya.
"Nggak deh, aku capek banget. Ini aku mau langsung pulang, mau tidur, capek, disana kerja terus," ujar Dokter Tiya sambil memasang wajah letihnya
"Yang sabar, biar di sayang Allah dan rezeki lancar," hibur Ummi Firda. "Kan seharusnya kamu sudah pulang dari minggu lalu, Tiy. Kok di undur?
Iya, cuma aku kedatangan pasien yang bayinya meninggal dalam kandunganya, Fir. Aku prihatin lihatnya meskipun aku nggak tahu, dia hamil dari suami atau seorang pacar karena selama di rawat di rumah sakit nggak ada yang jenguk keculia kedua orang tuanya."
"Ya Allah, kasihan sekali."
🌱
Arsyad menggengam tangan Aira dengan lembut sementara tatapan keduanya terkunci, saling menatap penuh cinta juga kerinduan.
"Humaira...."
"Bangun, Sayang. Sudah waktunya sholat."
"Aira, ayo kita berdo'a bersama...."
"Astagfirullah, cuma mimpi," gumam Aira. Ia mengangkat tangannya yang seolah masih bisa merasakan sentuhan Arsyad, bahkan suara Arsyad yang memanggilnya terasa begitu nyata.
Aira melirik jam dinding, sudah jam 4 subuh, fikirnya. Aira mengucek matanya yang masih terasa mengantuk itu. Dan saat ini ia bahkan masih ada di atas sejadahnya, masih memakai mukenanya.
Selama beberapa malam terakhir ia melakukan sholat istikharah sesuai anjuran sang ibu untuk menemukan jawaban atas keresahan hatinya yang saat ini masih bertarung antara cinta dan luka.
Dan setiap kali Aira tertidur setelah melakukan sholat istikharah, Aira selalalu bermimpi tentang Arsyad, dalam mimpinya Arsyad selalu menggengam tangannya, mengajaknya berdoa bersama.
Aira tersenyum saat mengingat mimpi itu, apalagi saat ia mengingat apa yang Arsyad ucapkan saat sarapan.
"Jadi, sebenarnya kamu nggak mau ninggalin aku, 'kan meskipun ada wanita lain saat itu?" Tanya Arsyad dan Aira mengangguk lemah. Karena memang bener, saat itu Aira ingin kembali meskipun ia tahu ada yang kedua setelah dirinya. "Kamu pergi karena pesan palsu itu' kan?" tanya Arsyad lagi dan lagi-lagi Aira hanya mengangguk. "Dan sekarang kamu tahu, pesan itu palsu, wanita itu juga sudah bukan pendampingku lagi. Apakah kamu mau..."
"Aku cuma minta satu hal, Mas. Jangan lagi berbohong apapun alasannya, harus selalu jujur sama aku sekalipun kejujurannu membunuhku. Itu lebih baik dari pada kamu memanjakanku dalam kebohongan."
"Aku janji, aku nggak akan mengulangi kesalahanku lagi."
Aira tersenyum mengingat percakapan mereka saat di meja makan, keduanya sepakat untuk kembali, namnn Arsyad masih menunggu Abi Gabriel untuk menjadi saksi rujuknya. Dan seperti kata Arsyad, Aira melakukan ini karena hatinya menginginkannya juga karena jawaban dalam istikharahnya adalah Arsyad kemb.
"Ya Allah, ridhailah cinta kami, bimbinglah kami dalam merajut cinta kami kembali. Dan sesungguhnya Engkau tahu, hasil dari istikharah cintaku adalah namanya dan aku yakin, itu atas kehendak-Mu. Aku titipkan mahligai cintaku pada-Mu, jagalah ia agar tetap berdiri kokoh sampai maut memisahkan."
***
" Bangun, bangun... "
Javeed mengerang lirih saat sang ibu membangunkannya untuk melaksanakan sholat subuh." Bangun, Jav. Sudah subuh dari tadi, "seru sang ibu untuk yang kesekian kalinya.
Javeed pun terbangun dan tiba-tiba ia menghela napas lesu.
"Ada apa sih? Tumben kamu tidur seperti orang pingsan," tukas ibunya dengan kesal karena akhir-akhir Javeed banyak berubah. Biasanya anaknya itu bangun pagi-pagi sekali untuk membantu ibunya di toko, namnn sekarang anak itu seperti pemalas dan itu terjadi sejak ada mantan suami Aira.
"Ck, apa nggak ada harapan lagi aku bisa memilikinya?" gumam Javeed yang masih terngiang-ngiang tentang Aira. Sungguh sulit mengenyahkan rasa yang tersimpan di hatinya, saat ia hendak tidur, saat ia bangun tidur, yang ada dalam benaknya hanya Aira dan Aira.
"Gimana kamu mau merebut hati Aira, Jav. Merebut waktu subuhmu aja kamu gagal," ucap sang ibu lagi. "Lagian, kamu itu sudah tahu Aira hamil dan sudah pasti masih punya hubungan dengan ayah dari bayinya, eh kamu malah sok-sok an mau deketin."
Mendengar gerutuan sang ibu, Javeed hanya garuk-garuk kepala kemudian ia segera bergegas ke kamar mandi. Disana, ia kembali memikirkan Aira dan Aira.
"Agh, kenapa dia selalu memenuhi otakku sih?"
Tbc...