Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #107 - Dingin


"Dia tadi bicara apa, Mas?" tanya Aira sembari memindahkan samosa ke piring.


"Dia bilang akan merebut kamu kalau punya kesempatan," jawab Arsyad jujur. Tadinya, ia tak ingin jujur karena Arsyad tak menyukai kata-kata Javeed, namun setelah mengingat janjinya pada Aira, ia terpaksa berkata jujur meskipun dengan wajah masamnya.


Sementara Aira, ia terkejut mendengar apa yang di katakan Arsyad, ia melongo namun ia percaya Arsyad berkata jujur. Memang seperti itulah Javeed yang ia kenal. "Kamu pasti bisa merasakan kalau sebenarnya dia menyimpan rasa sama kamu," kata Arsyad kemudian dengan raut wajah yang sangat tak bersahabat.


"Sebenarnya dia sudah mengakui itu," jawab Aira dengan suara rendah. Kedua mata Arsyad langsung melotot sempurna, mulutnya terbuka sementara Aira hanya mengedikan bahunya.


"Terus? Respon kamu apa?" Tanya Arsyad sembari berusaha berdiri dari kursi rodanya, ia berpegangan pada pinggiran meja makan.


"Nggak bilang apa-apa, apalagi dia bilang sama aku kalau perasaannya itu urusan pribadinya," jawab Aira santai yang membuat Arsyad semakin melongo. "Kamu mau kemana?" tanta Aira karena Arsyad berusaha melangkah.


"Jadi sebenarnya alasan dia belikan ini itu buat Via, itu cuma alasan, ya? Karena alasan sebenarnya ketemu kamu, iya 'kan?" Tanya Arsyad dan Aira kembali hanya mengedikan bahu.


"Humaira..." geram Arsyad.


"Mending kamu bangunin Via sana, Mas. Mumpung samosa nya masih hangat,"  seru Aira kemudian. Bahkan ia memegang pundak Arsyad dan memaksa Arsyad kembali duduk ke kursi rodanya.


"Tapi, Humaira..." Aira enggan mendengarkan Arsyad, ia mendorong kursi roda suaminya itu dan mau tak mau Arsyad pun melaksanakan perintah Aira.


Sementara Aira hanya tersenyum samar, ia selalu menyukai ekspresi Arsyad saat cemburu. Tampak sangat menggemaskan.


Tak berselang lama, Bi Sri muncul dan ia tampak terkejut melihat Aira yang pagi-pagi sekali sudah ada di dapur. "Maaf ya, Nyonya. Saya kesiangan, mau masak untuk Nyonya dan tuan besar, ya?" tanya Bi Sri. Aira mengangguk sambil tersenyum.


Aira dan Bi Sri pun menyiapkan bahan-bahan untuk memasak, namun saat Arsyad datang, Aira langsung angkat tangan dan ia pergi ke meja makan karena Arsyad pasti akan memarahinya jika ia tetap memasak.


"Ummi, kata Abi, om Javeed belikan Via samosa, ya?" seru Via girang.


"Iya," jawab Aira sambil tersenyum lembut.


"Ummi, kapan kita jemput kakek nenek?" Tanya Via sembari merangkak naik ke kursinya.


"Tadi om Sahir  sudah pergi jemput kakke nenek, Vi. Tadi Via kan tidur, Ummi kasihan yang mau bangun Via." Via langsung cemberut mendengar jawaban sang ibu, bahkan ia yang tadinya hendak memakan samosa itu pun tak jadi.


"Yah, kok gitu, Ummi? Kan Via mau ikut," rengek Via.


"Sudah, nggak apa-apa. Sebentar lagi mereka datang," sambung Arsyad menenangkan putrinya itu.


"Tapi 'kan Via pengen ikur, Bi." Via masih rengek dan ia tampak kesal karena keinginannya tak di penuhi.


"Sayang, Ummi sama Abi nggak bisa ikut jemput kakek nenek, masak iya kami biarkan Via jemput kakek nenek sendirian? Nanti kalau merepotkan om Sahir bagaimana?" Via langsung tertunduk mendengar ucapan Arsyad, ia tak bisa menyembunyikan raut wajah kecewanya.


"Via jangan cemberut gitu dong, sebentar lagi mereka juga datang," bujuk Aira. "Kita kasih kejutan untuk kakek nenek, bagaimana?" Tanya Aira sambil menarik turunkan alisnya, menggoda Via. Tampaknya itu berhasil karena Via kini kembali tersenyum. "Gitu dong, anak gadis jangan cemberut, nanti cantiknya hilang."


"Iya, Ummi." Via berkata sembari kembali menikmati samosanya.


***


Di sepanjang perjalanan Om Sahir, Abi Gabriel dan Ummi Firda terus mengobrol, membicarakan banyak hal. Dari bisnis hingga keluarga.


Sesekali Ummi Firda menguap, wajahnya terlihat sangat letih dan ia merasa sangat mengantuk. "Tidur, Sayang. Nanti aku bangunin kalau udah sampai rumah," kata Abi Gabriel sembari menarik kepala sang istri agar bersandar ke pundaknya.


Firda pun bersandar dengan nyaman di pundak sang suami dan perlahan ia mulai memejamkan mata, sayup-sayup ia masih mendengar obrolan Abi Gabriel dan Om Sahir yang kini membicarakan tentang buatan rujuk Arsyad.


***


"Mereka datang..." seru Via girang saat mendengar deru mobil dari luar, ia segera berlari membuka pintu dan tak mengindahkan seruan Aira yang memintanya jalan pelan-pelan.


"Nanti jatuh lho, Vi," tegur Aira namun Via seolah tak mendengarnya.


Ia membuka pintu, seketika kedua matanya berbinar saat melihat kakek neneknya yang keluar dari mobil.


"Via..." seru Ummi Firda yang tampak sangat bahagia.


"Nenek..." Via juga berseru bahagia. Kini kedua orang itu berlari saling menghampiri dan pada akhirnya Ummi Firda menangkap Via dan langsung memeluknya.


"Oh, nenek rindu sekali dengan Via!" Ummi Firda mencium seluruh Via dengan gemas, membuat gadis cilik itu terkikik.


Sementara Aira segera menyusul Keluar, Abi Gabriel yang kembali melihat putrinya itu merasa sangat bahagia, apalagi saat melihat perut Aira yang sudah sangat besar. Ia langsung menghampiru Aira kemudian ia memeluk putrinya itu dengan hati-hat.


Abi Gabriel tampak sangat merindukan Aira, itu terlihat jelas di matanya. "Sayang, bagaimana keadaan kamu disini? Kamu nyaman tinggal di rumah ini?" Tanya sang ayah cemas.


Aira membalas pelukan Abinya kemudian berkata. "Aku baik-baik aja, Bi. Aku juga nyaman di rumah ini, Abi jangan khawatir." Abi Gabriel menghela napas lega.


"Bagaiamana Abi nggak khawatir, Nak. Kamu di negara orang, cuma berdua sama Via, Abi khawatir sama kamu, setiap hari." Abi Gabriel melerai pelukannya, ia menangkup pipi Aira kemudian memberikan kecupan hangat di ubun-ubun Aira.


Sementara Arsyad, ia menyaksikan bagaimana keluarga itu melepas rindu dan menunjukan cinta dalam rindu itu. Arsyad merasa sangat bahagia melihat Aira dan Via yang kini terlihat sangat bahagia..


"Ummi apa kabar?" Tanya Aira yang bergantian memeluk sang ibu, sementara posisi Via sudah berada dalam gendingan kakeknya.


"Ummi baik, Ai. Kamu sendiri gimana? Terus apa kata Dokter tentang kandunganmu?" Tanya Ummi Firda sembari mengelus perut Aira.


"Alhamdulillah, insyaallah semuanya baik-baik aja, normal, bayinya juga sehat," jawab Aira.


"Alhamdulillah ya Allah, ini benar-benar anugerah yang sudah Allah siapkan untuk kamu, Nak. Semoga Allah terus menjaganya hingga dia tumbuh dewasa kelak, semoga dia menjadi anak yang berbakti, taat pada kami. Dan yang terpenting, menjadi pelipur laramu."


"Aamiin ya Allah." Aira meng-aminkan sambil tersenyum.


Arsyad hendak menyapa Abi Gabriel namun Abi Gabriel justru melewati Arsyad begitu saja dan ia masuk ke dalam rumah. Membiarkan Arsyad yang hanya bisa bisa tersenyum atas pengabaian Abi Gabriel padanya.


TBC...