
Hari sudah mulai gelap namun Arsyad tak menemukan Aira dimanapun, ponselnya tidak aktif, dan itu membuat Arsyad hampir gila.
Bahkan Arsyad mencari ke panti asuhan, berharap Aira ada disana, namun hasilnya nihil.
Ia mencari ke rumah Hulya, tapi Hulya tidak tahu keberadaannya.
Yang ada, Hulya justru memarahi Arsyad karena telah menduakan sahabatnya.
"Padahal baru 5 tahun lho, ada yang sampai 50 tahun tapi mereka tetap saling setia. Aira pasti benci banget sama kamu," geram Hulya.
"Aku sangat terpaksa, Hulya. Demi Allah, aku sangat terpaksa," lirih Arsyad dengan rapuh.
"Kamu nangis?" Tanya Hulya saat menyadari mata Arsyad yang sembab, bukannya menjawab, Arsyad langsug pergi dari rumah Hulya dan melanjutkan pencariannya
"Apa dia ada di rumah Micheal?" Gumam Arsyad kemudian. Ia hendak menghubungi kakak iparnya itu namun Arsyad mengurungkan niatnya, ia akan datang secara langsung.
Arsyad berhenti sebentar di masjid untuk melaksanakan sholat maghrib. Sementara ponselnya terus berdering karena panggilan dari Ummi Ridha juga Anggun, namun Arsyad sedang tak ingin berbicara dengan mereka, yang ia butuhkan saat ini hanyalah Aira, Aira-nya.
Saat akan keluar dari masjid, Arsyad melihat liontin yang sangat familiar, ia mengambil liontin itu dan seketika hati Arsyad berdebar saat mengetahui itu milik istrinya.
Liontin berinisial A, dimana di sisi depannya terukir nama Aira dan di sisi belakangnya terukir nama Arsyad.
Liontin itu adalah hadiah pertama yang di berikan Arsyad di hari ulang tahun Aira dulu.
"Wah, bagus banget, Mas. Kamu beli dimana? Ada nama kita lagi."
"Memesan khusus untuk seseorang yang istimewa, kamu suka, Sayang?"
"Aku suka banget, Mas. Aku pasti pakai terus, apalagi ada nama kita."
Arsyad menitikan air mata saat mengingat kenangan penuh indah itu, dan hari itu adalah kali pertama Aira mengucapkan terima kasih dan mengecup bibir Arsyad. Dimana sebelumnya Aira tidak akan melakukan itu kecuali Arsyad yang memulainya lebih dulu, selain lembut, istrinya juga sangat pemalu.
"Berarti Aira tadi ada disini," gumam Arsyad. Ia pun segera mencari Aira di sekitar masjid, bertanya pada orang-orang disana.
"Tadi saya lihat ada wanita bercadar bersama anak usia 6 tahun, mereka naik taksi di depan dan pergi kesana," jawab salah satu dari mereka sambil menunjuk arah taksi itu pergi.
"Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih," ucap Arsyad senang.
***
Sementara di rumah sakit, Anggun masih menunggu kabar dari Arsyad, begitu juga dengan Ummi Ridha yang saat ini menemani Anggun.
Sejak melihat anaknya menangis karena Aira di depan orang banyak, hati Ummi Ridha tidak tenang dan merasa bersalah. Ia tidak pernah melihat Arsyad begitu lemah dan hancur seperti tadi, tidak pernah sekalipun dalam hidupnya.
Ummi Ridha menatap Anggun yang kini tampaknya masih berusaha menghubungi Arsyad.
"Ya Allah, apa aku sudah membuat kesalahan dengan memaksa Arsyad membawa Anggun dalam hidupnya? Aku melakukan itu demi kebahagiaan Arsyad sendiri, tapi ... apakah keputusanku salah?" ia membatin dengan resah.
"Ummi, coba Ummi hubungi Arsyad, mungkin dia mau menjawab kalau Ummi yang telfon," ujar Anggun membuyarkan lamunan Ummi Ridha.
"Jangan ganggu dia dulu, Anggun. Berikan dia waktu untuk menjelaskan semuanya pada Aira," jawab Ummi Ridha. "Lagi pula, sudah puluhan kali aku mencoba menghubunginya sejak tadi, tapi dia tidak menjawab." lanjutnya.
...***...
Saat ini ia sedang berada di rumah Micheal dan akan menginap disana, karena Aira benar-benar tidak sanggup pulang ke rumahnya.
Saat Micheal bertanya dimana Arsyad dan apakah Aira sudah izin untuk menginap di rumah Micheal, Aira hanya menjawab. "Aku hanya ingin menginap disini." jawaban itu sudah menjelaskan bahwa ia sedang dalam masalah, dan sudah pasti, masalah itu bukanlah masalah kecil yang membuat Aira sampai melarikan diri dari rumah, sementara selama ini Aira tidak pernah melangkah selangkah pun keluar dari pagar rumahnya tanpa izin Arsyad.
Saat ini Aira duduk di tepi kolam, merendam kakinya dengan air kolam yang terasa begitu dingin.
"Aku hanya ingin menginap disini, Kak." Aira masih memberikan jawaban yang sama sembari menghindari tatapan Micheal.
"Kamu selalu seperti ini kalau kamu menyembunyikan sesuatu, kamu nggak bisa bohong sama Kakak, Dek. Nggak akan bisa meskipun kamu mengelak," tegas Micheal penuh penekanan.
"Apa Arsyad melakukan sesuatu?" Tanya Micheal dengan tajam, Aira langsung memalingkan wajahnya saat di tanya demikian, ia tak bisa menjawab tidak, namun juga tak mungkin menjawab iya.
Sementara Micheal, ia sangat mengenal Aira dan ia sudah tahu jawaban dari pertanyaannya dengan diamnya Aira.
"Jadi benar dia melakukan sesuatu? Apa yang dia lakukan padamu, hm? Bilang sama kakak Aira," desak Micheal, ia memegang pundak Aira dan memaksa adiknya itu menatapnya.
"Nggak, bukan ... begitu ," jawab Aira terbata-bata, matanya sudah memerah namun sekuat tenaga Aira mencoba membendung air matanya, tapi sayangnya Micheal sudah tahu bahwa sang adik sebenarnya ingin menangis.
"Bibir kamu aja nggak bisa berbohong, Aira. Apalagi mata kamu, kamu mau menangis, 'kan? Ada apa? Jujur sama kakak, Aira. Atau kakak akan mendatangi Arsyad dan menghajaranya," gertak Micheal dan seketika tangis Aira pecah.
Ia berhambur ke pelukan sang kakak dan melepaskan tangisnya, seketika Micheal tercengang dan dadanya bergemuruh.
Selama 5 tahun Aira menikah, tidak pernah sekalipun adiknya itu memberi tahu masalah rumah tangganya, apalagi menangis padanya seperti ini.
Bibir Aira memang tidak bercerita apa yang terjadi, namun air mata dan isak tangisnya telah memberi tahu Micheal bahwa ini masalah yang sangat besar.
Micheal mendekap sang adik, mengusap kepalanya dengan sayang dan membiarkan adiknya itu menangis sepuasnya. Namun setelah ini, Aira harus bercerita padanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Kakak disini, Sayang." Micheal menggumam dan terus mengelus kepala Aira yang sesegukan di pelukannya, baju Micheal bahkan sampai basah karena air mata sang adik.
Sementara di dalam, Tanvir merasa kesal karena Via tidak mau di ajak ngaji bersama, bermain bersama, bahkan di ajak makan es krim juga tak mau.
"Kamu itu kenapa sih, Dek? Di ajak ini, tidak mau. Di ajak itu, tidak mau," gerutu Tanvir kesal. "Katanya mau menginap disini, ya harus main dong sama kakak," keluhnya sambil berkacak pinggang.
"Via sedih karena Ummi dan Abi sedih," lirih Via dan ucapannya itu terdengar oleh Zenwa yang datang membawa susu hangat untuk kedua anak itu.
Saat Aira datang bersama Via ke rumah ini, Zenwa sudah curiga ada yang tidak beres apalagi Zenwa juga melihat mata Aira yang sembab.
"Memang kenapa Ummi dan Abi sedih, Via?" Tanya Zenwa dengan lembut.
"Nggak tahu, Tante. Tadi, di rumah sakit, Abi menangis, Ummi menangis, Via juga menangis. Ummi nggak mau bicara sama Abi, Ummi pergi, jadi Abi nangis karena Ummi pergi."
Zenwa hanya bisa tercengang mendengar cerita Via yang sudah pasti benar itu, tak mungkin anak ini mengada-ngada.
"Tapi kenapa?" Gumam Zenwa bingung, karena apapun masalah dalam rumah tangga adik iparnya itu, mereka tak pernah membawanya ke luar dari rumah, tapi mereka menangis di rumah sakit?
"Nyonya...." panggil Bi Eni pada Zenwa. "Di depan ada Tuan Arsyad."
...TBC......