
"Maafin Tanvir, Papa. Tanvir tidak tahu kalau Om bisa pingsan karena Tanvir. Hiks... Hikss... habis Om Arsyad tanya, Tanvir cuma kasih tahu. Hikss... Sekarang Om Arsyad sakit lagi, hikss... Nanti Tante Aira marah."
Zenwa memeluk Tanvir dan mengusap kepalanya dengan lembut, mencoba menenangkannya yang sejak tadi menangis tiada henti. Sementara Micheal tak tahu harus berkata apa, ia hanya diam mendengar cerita Bi Eni saat mereka mengunjungi Arsyad yang pada akhirnya berakhir dengan Tanvir yang membuka tabir kebenaran itu.
Kini tatapan Micheal tertuju pada Zenwa yang membuat Zenwa langsung tertunduk. "Bawa dia ke kamarnya!" titah Micheal sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Zenwa.
"Menemui Arsyad," jawab Micheal singkat, Zenwa tak bisa mencegahnya dan harus Zenwa akui, ini memang salahnya. Zenwa kasihan pada Arsyad karena tak ada siapapun yang menjaganya selain Fahmi, Zenwa ingin menjenguknya namun ia tak berani meminta izin pada Micheal. Zenwa sama sekali tak pernah menyangka bahwa Arsyad akan tahu tentang kematian ibunya dari mulut polos Tanvir.
🌱
Punggung Arsyad bergetar seiring semakin menjadinya isak tangisnya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang kini sudah di banjiri air matanya.
Arsyad berharap semua ini hanya mimpi buruk dan ia ingin segera terjaga, namun saat ia membuka mata, Arsyad harus menerima kenyataan yang begitu pahit, kenyataan yang tak pernah ia sangka, kenyataan yang bagaikan ombak, terus menghantamnya hingga ia merasa tak punya kekuatan untuk bertahan.
Arsyad begitu terluka, ia hancur dan dunianya seolah berakhir. Ia pun bertanya-tanya, kenapa ia harus bangun? Kenapa ia harus selamat? Kenapa Tuhan tidak mengambilnya saja? Tuhan sudah mengambil segalanya darinya, kenapa masih harus menyisakan nyawanya yang sekarang seolah tak lagi berharga?
"Agggghhhhhh...." Arsyad berteriak histeris sambil menarik rambutnya sendiri, ia menangis sejadi-jadinya, melepaksan rasa yang begitu sesak di dadanya.
Di luar ruang rawat Arsyad, Micheal hanya bisa berdiri mematung mendengar isak tangis pilu Arsyad. Ia sudah berdiri di sana sejak beberapa menit yang lalu, Micheal merasa bersalah karena semua ini terjadi karena putranya.
Micheal tidak tahu kenapa ia ingin menemui Arsyad, apakah untuk minta maaf? Namun kebenaran tetaplah kebenaran dan pasti akan terkuak, jika tidak hari ini pasti esok. Memang, semuanya sepakat akan memberi tahu Arsyad saat keadaan Arsyad membaik, namun Tanvir mendahului rencana mereka.
Micheal hendak pergi saat tak lagi mendengar suara tangis Arsyad, namun langkahnya terasa berat, masih ada rasa simpati dalam hatinya apalagi setelah ia tahu Arsyad tak pernah membuang Aira seperti yang ia kira. Micheal juga terkejut karena apa yang di katakan Anggun saat itu benar adanya.
Micheal masuk ke ruangan Arsyad sementara Arsyad kini sudah terbaring di atas ranjangnya, ia menutup wajahnya dengan bantal, berushaa meredam tangisnya yang tak bisa terhenti.
Micheal menepuk pundak Arsyad namun Arsyad tak bergeming. "Maafin Tanvir," ucap Micheal lirih namun l Arsyad tak merespon.
"Dia hanya anak-anak, seharusnya dia nggak kasih tahu..."
"Sudah seharusnya," sambung Arsyad dengan suara serak dan ia masih menutup wajahnya dengan bantal. "Seharusnya aku di kasih tahu, bukan di sembunyikan seperti ini."
"Kami mengkhawatirkan keadaanmu," jawab Micheal tenang.
"Lalu setelah itu apa? Kebenaran tetap harus terkuak, 'kan? Dan rasa sakitnya akan sama, apa bedanya nanti dan sekarang." Micheal tersenyum miring mendengar apa yang di katakan Arsyad.
"Kamu benar," kata Micheal, ia menarik kursi dan duduk dengan tegak. "Kebenaran memang pahit, tapi memang seharusnya kebenaran di beberkan. Karena tak perduli kapan kebenaran itu terbongkar, rasa sakitnya akan sama. Itu juga yang di rasakan Aira."
Mendengar nama Aira di sebut, Arsyad langsung menyingkirkan bantal dari wajahnya, ia menatap Micheal dengan mata yang sembab. "Aku pernah ada di posisimu, menyembunyikan sesuatu dari istriku dengan alasan takut menyakitinya. Tapi nyatanya, rasa sakit itu akan semakin besar ketika dia tahu apa yang aku sembunyikan." Arsyad mendengarkan Micheal dalam diam, teringat dengan apa yang ia sembunyikan dari Aira dengan maksud hati demi menjaga perasaannya namun ketika kebenaran itu terkuak, bukan hanya perasaan Aira yang hancur tapi semuanya, seolah tak ada yang tersisa.
"Aku minta maaf," lirih Arsyad kemudian dengan suara yang rendah.
"Aku juga minta maaf," ucap Micheal. "Aku menuduh banyak hal tentangmu."
"Memang aku yang salah, aku yang memulai semuanya."
"Zenwa pernah tanya sama aku, kalau aku di suruh memilih, antara dia dan ibuku, aku akan pilih siapa? Dan jujur, sampai detik ini aku nggak bisa jawab." Arsyad tersenyum tipis mendengar ucapan Micheal karena memang itulah dirinya, bahkan sampai detik ini, jika ia masih harus di suruh memilih, Aira atau Umminya? Arsyad masih tak punya jawaban. "Dan Zenwa adalah wanita yang baik, ia takkan memintaku memilih karena dia tahu, tak ada yang harus di pilih. Ibu yang telah memberikan hidupnya untukku atau dia yang telah mengabdikan hidupnya untukku."
"Kamu nggak akan bisa memilih, nggak akan sanggup memilih."
Ucapan Aira saat itu kembali terngiang dalam benak Arsyad, membuat hatinya terasa seperti di tekad.
"Iya, kita nggak akan bisa memilih."
🌱
Lahore, Pakistan.
Aira tentu terkejut mendengar apa yang di katakan Nida tentang Javeed, ia sulit mempercayai hal itu apa lagi ia dan Javeed baru mengenal. Namun Nida meyakinkan Aira bahwa Javeed memang memiliki perasaan yang tak biasa untuk Aira.
Aira bingung bagaimana jika itu benar? Ia tidak tahu harus melakukan apa karena ini pertama kalinya ia mengetahui ada seseorang yang menyukainya. Aira juga menyadari bahwa ia telah melampaui batas selama ini, ia terlalu dekat dengan Javeed, ia tak memberikan garis batas di antara mereka karena selama ini Aira berfikir Javeed dekat karena Javeed senang pada Via begitu juga sebaliknya. Padahal, justru karena Via lah yang membuat garis batas itu hilang.
"Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan," gumam Aira cemas.
Saat Aira tenggelam dalam pemikirannya, Via datang mengagetkannya. "Ada apa, Via?" tanyanya.
"Via bosan seharian di rumah aja, Ummi. Ayo main, Ummi. Seperti waktu ada I'm Jibril," rengek Via yang tentu saja membuat Aira bingung.
"Besok aja ya, Nak. Sudah sore tuh, nanti keburu malam," ucap Aira.
"Besok ya? Beneran? Via bosan di rumah, nggak punya teman juga, kita ajak Om Javeed," ucapnya dengan mata berbinar.
Aira terdiam sejenak, ini bukan yang pertama kalinya Via mengajaknya jalan-jalan dengan di temani Javeed dan Aira selalu mengikuti kemauan Via yang tanpa Aira sadari, permintaan Via yang seperti ini lah yang membuat ia dan Javeed semakin dekat.
"Sama Tante Nida saja ya, Sayang. Om Javeed sedang sibuk."
TBC...