Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #98 - Dia V Dia


Bi Sri mendorong kursi Arsyad sementara Arsyad terus menatap Via yang kini di gandeng oleh Javeed, kedua insan itu tampak sangat akrab, benar-benar seperti sahabat sepermainan. Arsyad sendiri sampai heran melihat hal itu.


Saat ini keduanya sudah berada di mall yang ada di kota Lahore dan mall ini adalah tempat pilihan Javeed untuk berbelanja, Arsyad dan Aira mengikuti saja.


"Sayang..." panggil Arsyad dan entah bagaimana, namun Aira menyahut seperti biasa.


"Ya?" Sahut Aira.


"Kok Via dekat banget sih sama pria itu, aku jadi cemburu deh, merasa tersaingi," ungkap Arsyad dengan jujur yang membuat Aira terkekeh. Arsyad mengingatkan Aira pada Abinya, dimana Abi Gabriel juga pernah mengatakan bahwa ia cemburu pada Arsyad, merasa tersaingi dalam memberikan cinta terbaiknya.


"Cemburu kenapa? Javeed itu di anggap sahabat sama Via, karena dia baik dan selalu ada untuk Via," ujar Aira.


"Hem, begitu," gumam Arsyad yang kini tampak merasa bersalah, ia merasa gagal menjadi ayah yang baik dan selalu ada untuk Via.


"Sayang..." panggil Arsyad lagi yang masih dengan begitu lugasnya memanggil Aira dengan panggilan 'sayang', namun kali ini Aira mulai menyadari ke intiman mereka yang mungkin tak seharusnya.


"Humaira..." seru Arsyad karena Aira tak menjawab panggilannya.


"Apa lagi?" Tanya Aira ketus namun Arsyad justru tersenyum simpul.


"Kamu jangan dekat-dekat temenannya sama Javeed, ya? Soalnya aku juga cemburu, tadi aku hampir jantungan denger kamu punya teman cowok," ungkap Arsyad yang tentu saja juga jujur, sangat jujur. Aira yang mendengar ungkapan mantan suaminya itu tanpa sadar tersenyum tertahan.


Ini bukan pertama kalinya Arsyad mengakui kecemburuannya secara blak-blakan, dulu ia sering melakukan itu bahkan hanya jika ada pria yang menyapa Aira dengan ramah.


"Humaira..." panggil Arsyad lagu dengan manja karena Aira hanya diam saja.


"Hubungan aku sama dia sama seperti hubungan aku dengan teman-teman kak Jibril, aku berteman dengan dia karena Via, itu aja," tutur Aira yang tanpa sadar ia seolah menjaga perasaan Arsyad.


"Alhamdulillah deh kalau gitu," ucap Arsyad namun ia tak bisa bernapas lega, karena Arsyad bisa meraskan tatapan Javeed yang berbeda pada Aira.


Kini Javeed memasuki sebuah butik yang menjual pakaian casual untuk laki-laki dan perempuan, Aira dan Arsyad pun menyusulnya.


"Bi Sri pilih aja baju yang Bibi mau," seru Arsyad pada art-nya itu.


"Tapi saya bingung mau beli baju yang mana, Tuan. Nggak ada baju daster kayak punya saya disini," kata Bi Sri dengan polosnya yang membuat Aira tertawa.


"Ada kok, Bi. Ayo sini...." ajak Aira.


Aira membawa Via dan Bi Sri untuk memilih pakaiannya yang bahkan sama dengan merk pakaian Aira, tentu saja Bi Sri merasa sungkan apalagi ia yakin harga baju di butik itu pasti mahal. Namun Aira tetap membelikan beberapa lembar pakaian untuk Bi Sri setelah itu Aira memilih pakaian untuk dirinya sendiri juga untuk Via.


Sementara di sisi lain, Arsyad di temani Javeed untuk melihat-lihat baju. "Kamu seberapa dekat sama ibu dari anak-anakku?" Tanya Arsyad yang kembali menampakkan kecemburuannya pada Javeed.


"Em ... mungkin sedekat aku dengan anakmu," jawab Javeed yang dengan sengaja memanas-manasi Arsyad dan Javeed sangat berhasil. Dada Arsyad bergemuruh karena api cemburu namun ia mencoba menahannya.


"Hem, asal masih pada batasannya," kata Arsyad sembari melihat-lihat beberapa baju yang tergantung.


Percikan Api cemburu di hati Arsyad semakin menjadi namun sekali lagi ia masih mencoba mengontrolnya, bahkan ia tetap tersenyum walaupun hanya senyum tipis.


"Aku rasa, Aira tidak mungkin makan malam di rumahmu sekalipun ibumu mengundangnya, aku mengenalnya dengan baik," ujar Arsyad percaya diri, tatapan Arsyad mengunci tatapan Javeed dan kini Arsyad menyadari Javeed hanya mencoba memanas-manasi dirinya. Semua itu terlihat jelas di mata pria itu.


"Ini di Pakistan, hanya kami yang Aira kenal dan Aira bukan lagi seorang istri," ujar Javeed yang masih bersaha membakar api cemburu di hati Arsyad.


"Aira kesini karena alasan dan tujuan yang kuat, bukan untuk liburan, dan dia pasti menjaga jarak dengan pria yang bukan mahramnya."


"Dia kesini karena melarikan diri, aku tahu itu," Balas Javeed yang tak mau kalah.


"Iya, apapun alasannya kesini, aku tahu dia tahu batasannya," ujar Arsyad yang masih mempertahankan kepercayaannya pada Aira dan menolak terintimidasi oleh Javeed.


Javeed terkekeh sambil geleng-geleng kepala, apalagi setelah ia menyadari apa yang Arsyad katakan tentang Aira semuanya sangat benar.


"Dari pada kamu sibuk mencoba membuat aku cemburu, lebih baik bantu aku, ambilkan baju itu!" seru Arsyad sembari menunjukan satu baju kaos. Javeed melongo namun kemudian ia mengambilkan baju yang Arsyad mau.


"Karena sebenarnya kamu sudah sangat berhasil membuatku cemburu, dasar bocah! Awas saja nanti!" gerutu Arsyad dalam hati.


...🌱...


"Bagaiamana keadaanku, Dokter Tiya? Kapan aku bisa pulang? Aku nggak sabar ingin ziarah ke makam putri ku," lirih Anggun pada Dokter Tiya yang menanganinya.


"Tunggu sampai beberapa hari ya, Bu Anggun. Sampai keadaan ibu lebih baik," kata Dokter Tiya sambil tersenyum untuk menenangkan Anggun yang sudah tak sabar untuk keluar dari rumah sakit dan berziarah ke makam putrinya, yang telah pergi bahkan sebelum datang dalam hidup Anggun.


Setelah melakukan pemeriksaan pada Anggun, Dokter Tiya keluar dari ruang rawat Anggun, ia berpapasan dengan kedua orang tua Anggun yang juga langsung menanyakan keadaan Anggun dan kapan Anggun bisa pulang. Padahal Dokter Tiya sudah berkali-kali menjelaskan bahwa Anggun harus menunggu konidisnya sampai pulih.


Ponsel Dokter Tiya berdering dan ia pun langsung merogohnya dari jasnya itu. "Iya, Fir. Assalamualaikum," sapa Dokter Tiya.


"Waalaikum salam, Tiy. Kapan kamu pulang? Aku tiba-tiba pengen seblak yang ada disana deh," Dokter Tiya tertawa mendengar ucapan temannya itu.


"Kenapa kamu jadi kayak orang hamil sih, Fir? Perasaan yang hamil itu Aira tapi kok malah ibunya yang ingin ini itu? Apa jangan-jangan kamu isi ya? Mau kasih adik lagi untuk Aira dan Jibril?" Tanyanya sambil tertawa.


"Ya pengan aja makan yang pedas-pedas dan segar, seblak dari sana tuh beda rasanya," ujar Ummi Firda dari seberang telfon.


"InsyaAllah ya, tapi aku nggak tahu kapan aku bisa pulang, soalnya disini aku punya pasien yang baru saja operasi karena bayinya meninggal dalam perutnya."


**TBC...


Yang suka Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson pasti suka juga dengan True Love Never Ends ini. Di jamin**!