Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #133 - Membangun Mahligai Yang Baru


Setelah begitu banyak luka dan air mata, Aira tak pernah menyangka kini ia berada di titik dimana sebuah kebahagiaan selalu menghampirinya. Suami, anak dan seluruh keluarga yang penuh cinta ada di sisinya, menghangatkan hatinya dengan cinta yang begitu tulis.


Malam ini, Ummi Firda dan Zenwa memasak makanan yang cukup banyak, mereka membagikannya pada beberapa tentangga sebagai bentuk rasa syukur kenikmatan yang mereka punya.


Setelah membagi makanan, kini mereka pun makan malam bersama. Begitu juga dengan Aira yang sudah merasa sudah sehat. "Kamu makan sayur yang banyak, Sayang." Arsyad menambahkan sayuran ke piring Aira.


"Makasih." ucap Aira sambil tersenyum lembut. Senyum itu tak luput dari pantauan Jibril yang membuat Jibril langsung tersenyum senang. Masih segar dalam Ingatannya bagaimana dulu Aira menangis dan terpuruk karena Arsyad. Ia hanya bisa berdoa, semoga setelah ini Arsyad tak lagi melukai Aira. Karena jika itu terjadi, Jibril akan membuat perhitungan yang mungkin tak pernah terfikir oleh Arsyad.


"Kemarin adalah air mata terakhirnya, Arsyad..." seru Jibril dengan tenang namun tatapannya jelas menyiratkan peringatan keras dan tak main-main. "Jika besok kamu akan melukainya, antarkan dia kesini dengan cara baik-baik." Tegasnya.


"Nggak akan!" Arsyad pun menjawab dengan begitu tegas. Ia menatap Aira penuh cinta. "Mungkin aku memang kesalahan sebelumnya, tapi aku sudah tahu apa yang harus aku bayar untuk kesalahan itu. Dan aku nggak gila, aku nggak mungkin melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Apalagi Abi pernah bilang..." kini tatapan Arsyad tertuju pada ayah mertuanya yang masih makan dengan tenang." Satu kesalahan itu manusiawi, tapi jika di ulangi untuk kedua kalinya, itu kebodohan dan kejahatan. "


"Sudah, jangan bahas itu di meja makan," kata Ummi Firda apalagi disana ada Tanvir dan Via yang mendengarkan obrolan mereka.


"Iya, Kak. Itu sudah menjadi masa lalu kok." Aira menimpali, Jibril hanya tersenyum lembut.


Mereka pun kembali makan dan kini aksi romantis Micheal tunjukan pada Zenwa. Micheal memotongkan ayam panggang Zenwa sehingga Zenwa bisa langsung makan, tak hanya itu, Micheal tahu Zenwa tak suka kulit ayam maka ia pun memisahkan kulit dan dagingnya.


"Terima kasih, Mas." Zenwa berkata sambil melemparkan senyum dan tatapan yang begitu menggelikan untuk Jibril, apalagi saat Micheal membalas tatapan istrinya itu, membuat Jibril merinding seketika.


Kini tatapan Jibril tertuju pada kedua orang tuanya yang bahkan lebih romantis dari kedua anak-anak mereka. Abi Gabriel mengambil sisa butir nasi yang tertinggal di bibir sang istri, dan alih-alih di buang, satu butir nasi itu justru ia makan.


"Apa kalian nggak bisa bersikap normal?" Tanya Jibril yang membuat semua orang langsung mengernyit bingung.


"Kenapa? Memangnya kamu sedang bergoyang?" Sungut Micheal.


"Ya bukan, hanya saja kalian terlihat ke kanak-kanakan," jawab Jibril kemudian ia segera menghabiskan sisa makanan di piringnya yang memang sisa sedikit.


"Masak?" tanya Ummi Firda dengan serius. "Memangnya kami ngapain? Perasaan dari tadi kami cuma makan sambil ngobrol ringan, bukan makan sambil lari-lari."


Aira dan Zenwa hanya bisa menahan senyum geli mendengar apa yang di katakan Ummi Firda yang berhasil membungkam Jibril.


"Benar juga, tapi kenapa aku merasa mereka ke kanak-kanakan," gumam Jibril bingung. Ia meneguk minuman dari gelasnya dan setelah itu perhatiannya tertuju pada Tanvir dan Via yang duduk berdampingan.


Meskipun kedua bocah itu sering beradu argumen, namun mereka terlihat saling menyayangi. Seperti sekarang, Tanvir menjauhkan gelas Via karena Via selalu minum, Tanvir mengingtakan Via agar tak selalu minum saat makan. "Kalau kamu minum terus saat makan, yang ada nanti perut kamu kembung terus nasinya nggak habis. Nggak boleh itu," kata Tanvir.


"Tapi haus, pengen minum," balas Via. Tanvir menghela napas lesu ia kemudian menyodorkan gelas Via yang tadi sempat ia jauhkan dari Via.


Aira memperhatikan kakaknya itu dan pandangannya kini tertuju pada Tanvir dan Via, Aira tersenyum samar kemudian berkata. "Cuma Kaka yang belum punya pasangan, mau di carikan apa mau cari sendiri? Atau masih nunggu ada yang lamar?" Goda Aira yang membuat semua orang terkekeh.


"Ummi sudah ada calon, nanti kita atur pertemuannya. Bagaimana, Jay?" Tanya Ummi Firda.


"Aku manut aja," jawab Jibril singkat kemudian ia beranjak dari kursinya. "Aku mau pergi ke rumah Arkan, mungkin pulangnya agak malam."


"Ya Allah, pantas aja jomblonya lama, gaulnya sama jomblo juga," ejek Micheal yang hanya di balas lirikan cuek oleh Jibril.


Setelah selesai makan, Aira memerintahkan Tanvir dan Via agar gosok gigi, sementara yang lain membersihkan dapur bersama-sama. Hingga terdenga suara tangis baby Ali dari kamar Aira.


Zenwa langsung meminta Aira meninggalkan pekerjaannya, Aira pun langsung pergi ke kamarnya dan ia melihat Arsyad yang sedang mengganti popok baby Ali.


"Pup?" Tanya Aira.


"Nggak, cuma penuh aja," kata Arsyad.


Aira memperhatikan Arsyad yang bisa mengganti popok Baby Ali dengan baik, bahkan setelah itu si bayi kembali tidur nyenyak. "Ya Allah, bangunnya cuma karena itu aja," kekeh Arsyad.


"Ya pasti nggak nyaman lah, Mas," jawab Aira sembari melenggang pergi ke kamar mandi.


Aira menggosok giginya dan tiba-tiba Arsyad memeluknya dari belakang, membuat ia sedikit tersentak.


"Sayang, kapan kita pulang ke Jakarta?" Tanya Arsyad sembari mencium tengkuk sang istri, membuat Aira sedikit menggelinjang geli.


"Secepatnya, Mas. Udah terlalu lama kamu meninggalkan restaurant dan sekolah," jawab Aira kemudian ia berkumur-kumur.


Setelah itu, ia berbalik badan, menghadap sang suami yang langsung tersenyum padanya. Arsyad menyelipkan satu anak rambut ke belakang sang istri, sementara Aira mengalungkan lengannya di leher sang suami.


"Terima kasih, Sayang. Kamu sangat mengerti aku," lirih Arsyad, ia menempelkan keningnya di kening Aira. "Terima kasih kamu sudah memberikan kesempatan padaku untuk membangun Mahligai Cinta Yang baru," ujarnya.


Aira tersenyum lembut sebelum akhirnya menyapukan bibirnya di permukaan bibir Arsyad dengan begitu lembut, hanya sentuhan ringan seperti itu sudah mampu membuat jiwa Arsyad bergetar.


"Kita sama-sama mendapatkan kesempatan kedua, Mas. Dan kita sama-sama memulainya dari nol, juga, sekarang kita punya anak-anak. Kita hidup sekarang untuk mereka."


Arsyad mengangguk, ia menangkup kedua pipi Aira dengan lembut kemudian ia mengecupnya dengan begitu lembut." Sekarang aku hanya milik kalian. "