
Kedua mata Via yang bulat semakin bulat saat melihat bayi mungil yang kini ada di pangkuan sang ibu, bibirnya tak berhenti tersenyum lebar apalagi saat melihat bayi mungil itu menggeliat. "Uhhh, lucu banget sih, Ummi." Via berkata dengan sangat gemas, tangannya terangkat namun tak berani menyentuh adik bayinya itu karena ia takut menyakiti si mungil.
Aira terkekeh kemudian berkata, "Via boleh sentuh tapi hati-hati, ya."
Via langsung mengangguk antusias kemudian dengan sangat hati-hati dan pelan ia menyentuh pipi bayi itu, mata Via membelalak dan mulutnya menganga saat meraskan lembutnya pipi sang bayi. "Ummi, lembut sekali..."
Via menoleh, menatap Arsyad yang saat ini memfokuskan tatapannya pada sang putra. "Abi, Via suka adik bayi. Lembut dan lucu, bikinin Via adik bayi yang banyak ya!" seru Via yang seketika membuat semua orang tertawa gemas.
Saat ini Aira sudah di pindahkan ke ruang rawat biasa dan bayinya pun tidak memerlukan perawatan khusus karena sang bayi lahir dengan selamat dan sempurna.
Dan saat ini juga Ummi Firda sedang video call dengan Micheal juga Jibril, ia memperlihatkan keponakan mereka yang langsung mendapatkan pujian dari kedua kakak Aira itu.
Micheal mengatakan putra Aira mirip dengannya namun Jibril mengatakan bayi itu lebih mirip dengannya. Arsyad, sebagai ayah pun tak mau kalah. Ia menunjukan foto dirinya saat bayi dan mengatakan bahwa putranya mirip dirinya.
"Aku yakin banget putra Aira mirip aku," kata Micheal.
"Sepertinya lebih mirip aku, Kak," balas Jibril tak mau kalah.
Kini ruangan itu di penuhi dengan tawa bahagia tanpa henti.
"Mirip aku, 'kan aku bapaknya," seru Arsyad percaya.
"Aku juga mau adik bayi...." seru Tanvir nyaring menginterupsi obrolan pada orang dewasa. "Tanvir sudah minta Mama bikinin adik bayi tapi ngga juga di bikinin, Mama nggak sayang Tanvir," celetoh Tanvir yang langsug mengundang tawa semua orang.
"Lihat tuh! tante Aira sayang sama Via jadi di bikinin adik bayi. Tante, bikin Tanvir adik bayi juga, ya," rengek Tanvir memelas.
"Ini juga adik Tanvir, Sayang," kata Aira.
"Bukan, itu adiknya Via. Tanvir mau adik Tanvir sendiri, buatin dong, Tante." pinta nya yang membuat semua orang tertawa geli. Ia merengek seolah minta di buatkan susu cokelat, mudah dan cepat.
"Berdo'a dulu, Tanvir. Insyaallah nanti di kasih sama Allah." Zenwa menyambung namun Tanvir cemberut.
"Setiap hari Tanvir berdo'a, tapi adik bayinya belum ada. Mama gimana sih," gerutunya.
"Buat adik bayinya 'kan susah, Kak," seru Via dengan suara cemprengnya. "Ummi hamil besar dulu, dan hamil nya itu lama. Kak Tanvir sabar dulu, sekarang adik bayi yang ini buat kita berdua, kata Ummi kalau sauadara harus saling berbagi." tuturnya dengan begitu bijak namun bukan Tanvir jika menerima nasehat dengan mudah apalagi jika nasehat itu datangnya dari Via, adik yang ia anggap masih kecil dan tidak tahu apa-apa.
"Sok tahu!" seru Tanvir yang seketika membuat Via cemberut. "Buat adik bayi itu gampang, tinggal hamil dan lahir." lanjutnya.
"Siapa bilang Kakak nggak pernah tahu orang hamil? Kaka tahu pas Mama hamil kaka." balas Tanvir penuh percaya diri.
"Haha.. Haha..."
Tak ada yang bisa menahan tawa mendengar argumen dua bocil itu apalagi dengan kata-kata terakhir Tanvir yang di ucapkan penun percaya diri.
Jibril yang sangat jarang tertawa kini justru tertawa tebahak-bahak hingga ia mengeluarkan air mata.
"Bocil ... bocil. Sungguh makhluk ajaib, bisa melihat ibunya saat mengandung dirinya," ujar Jibril di tengah tawanya.
"Memang ajaib anak ini, Jay," kata Micheal yang juga tertawa.
"Persis bapaknya," sambung Abi Gabriel apalagi saat ia mengingat masa kecil Michael dengan segala sikap ajaibnya.
"Iya ya, Bang," imbuh Ummi Firda.
Karena tawa mereka yang menggelegar di ruangan itu, tidur sang bayi kini terganggu. Ia merengek kemudian menangis.
Sementara Via hanya mencebikan bibir pada Tanvir dan Tanvir masih memasang tampang percaya dirinya.
"Susui, Ai. Nanti pasti tidur lagi," kata Ummi Firda.
Aira mengikuti saran sang ibu, ia menyusui putranya dan menutupi dadanya dengan kain.
"Kok di tutup? Tanvir mau lihat!" seru Tanvir yang kembali mengingatkan Abi Gabriel pada masa kecil Tanvir.
"Eh, tidak boleh, Nak!" kata Micheal.
"Dulu kamu juga begitu pas Ummi mau nyusui Jibril," ujar Abi Gabriel yang langsung membuat Micheal cengengesan.
"Oh, ya. Namanya siapa, Dek?" Tanya Jibril kemudian.
"Ali Zubair Ibrahim."