
"Aku rasa, kasihan juga dia." Arsyad langsung menoleh saat mendengar apa yang di ucapkan Fahmi. "Mau kamu cinta sama Anggun atau nggak. Faktanya, dia istrimu, Arsyad. Dan dia sedang mengandung anakmu, dimana hati nuranimu?"
Fahmi merasa kasihan melihat keadaan Anggun yang terus di abaikan oleg Arsyad, apalagi dia sedang hamil.
"Arsyad yang aku kenal bukan pria seperti ini, seperti bajingan. Menikahi wanita, menghamilinya, dan mengabaikannya," ujar Fahmi lagi.
Bukannya merasa tersentuh dengan nasehat Fahmi, Arsyad justru tersenyum miring dan berkata. "Kamu nggak tahu apa yang terjadi di antara kita, Fahmi. Mungkin aku memang bajingan karena sudah mengabaikan Anggun. Dan aku bersumpah! Aku juga ingin memperlakukannya dengan baik, dengan layak. Tapi setiap kali fikiran seperti itu terbersit dalam benak ku, aku teringat dengan Aira, aku seperti tercekik karena penyesalan ini."
"Terus mau sampai kapan kamu menggantung Anggun seperti ini?" Arsyad hanya menggeleng lemah, karena ia pun sungguh tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
Sementara di rumahnya, Anggun membersihkan rumah membantu Ummi Ridha karena nanti malam mereka akan mengadakan acara syukuran.
Arsyad sempat menolak acara syukuran itu di acarakan nanti malam sedangkan hari ini adalah sidang putusan perceraiannya. Namun itu adalah permintaan keluarga Anggun yang tak bisa Ummi Ridha tolak, bahkan ia mengatakan Arsyad tidak perlu hadir jika tidak menginginkannya karena Ummi Ridha juga mulai kesal dengan sikap abai Arsyad. Hal itu membuat Arsyad semakin kesal.
"Aira suka sekali warna putih, bahkan hampir semua gamis nya berwarna putih. Yang pilih horden juga Aira, dulunya warna ungu," kata Ummi Ridha sambil terkekeh yang tanpa sadar itu menyinggung perasaan Anggun.
"Hmm..." Anggun menanggapi sembari menyusun koran di meja.
"Koran sebanyak ini, cuma Ummi dan Arsyad yang baca, kalau Aira hampir tidak pernah baca koran," ujarnya lagi.
"Kenapa Ummi selalu membicarakan Aira?" tanya Anggun akhirnya yang seketika membuat Ummi Ridha terdiam, seolah baru menyadari apa yang terus saja ia bicarakan, yaitu Aira.
"Anggun, sebaiknya kita ke restaurant setelah ini untuk melihat apakah makanannya sudah siap untuk acara nanti malam." Ummi Ridha berusaha mengalihkan topik pembicaraan dan Anggun pun hanya bisa mengangguk sambil tersenyum terpaksa.
***
"Kamu mau kemana?" Tanya Abi Gabriel yang melihat Micheal justru masuk ke dalam mobil Abi Gabriel yang hendak pergi ke pengadilan karena hari ini adalah sidang putusan pengadilan akan surat gugatan cerai Aira.
"Mau ikut," jawab Micheal. Abi Gabriel hanya menghela napas panjang, ia pun masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Di perjalanan, Abi memberikan nasehan pada Micheal agar tidak mengedepankan emosi saat tertimpa masalah, baik masalah itu menimpa dirinya atauapun keluarganya. Micheal hanya menggumam tidak jelas sebagai respon dari nasihat itu.
"Saat anggota keluarga kita sedang dalam masalah, yang mereka butuhkan bukan emosi kita. Tapi telinga kita, untuk mendengarkan keluh kesahnya. Pundak kita, untuk menjadi sandarannya. Tangan kita, untuk menggenggam tangannya, memberi tahu bahwa kita ada untuknya, selalu ada."
"Hem...." lagi-lagi Micheal hanya menggumam, di banding Jibril, ia memang lebih sulit mengontrol emosi, namun saat Jibril emosi, terkadang sangat menyeramkan lebih dari Micheal.
Sesampainya di pengadilan, Abi Gabriel dan Micheal langsung di sambut tim pengacara mereka yang memang sejak tadi sudah menunggu mereka.
Mereka juga sempat bertemu dengan tim pengacara Arsyad, dan sudah pasti Arsyad enggan menghadiri persidangan itu.
Mereka semua masuk ke ruang pengadilan untuk menyaksikan hasil putusan pengadilan yang sudah mereka ketahui akhir keputusan itu.
Di sisi lain, Arsyad hanya duduk merenung di tepi sungai sembari melirik arlojinya.
Ia tahu, sekarang persidangannya akan di mulai dan semuanya sudah berakhir. Ombak ini bukan hanya mengikis cintanya, tapi membuatnya hancur lebur.
"Semuanya sudah berakhir sejak aku meng-akad Anggun," gumam Arsyad.
Ia menunduk, menatap air sungai yang begitu tenang dan itu mengingatkan Arsyad pada Aira, Aira adalah wanita yang selalu mampu memberinya ketenangan saat ia dalam masalah yang pelik.
Arsyad memejamkan mata dan melompat ke dalam sungai yang terasa begitu dingin.
...***...
Jibril masih kefikiran dengan kondisi Aira, karena ia pun berharap Aira mendapatkan keajaiban. Dan selama beberapa hari ini, Jibril terus mencari tahu ciri-ciri orang hamil namun ia tak menemukan ciri-ciri itu ada pada Aira.
Jibril juga mencari tahu tentang Dokter hebat yang mungkin bisa membantu masalah Aira.
"Ummi, apa Via akan punya adik?" Tanya Via sembari melipat mukena nya.
Aira dan Via baru saja menyelesaikan sholat ashar mereka berjemaah. "Nggak, Sayang," jawab Aira tersenyum tipis.
"Tapi kenapa banyak yang bilang Ummi hamil? Hamil itu artinya akan punya bayi, 'kan?" Tanya Via dengan polosnya.
Aira terdiam, ia memegang perutnya dan merenungi keadaannya. Mungkinkah dirinya benar-benar hamil?
"Baiklah, Sayang. Habis ini Via main sama Om Jibril, ya. Ummi mau pergi sebentar sama Nenek," ujar Aira.
Dengan cepat ia membereskan mukenanya, mengambil tas, dompet dan ponselnya.
"Mau kemana?" Tanya Via mengekori Aira yang kini pergi ke kamar Jibril.
"Kak..." panggil Aira.
Jibril yang masih sibuk dengan pencariannya langsung menutup laptopnya, ia tersenyum pada Aira dan mempersilahkannya masuk. "Aku sama Ummi mau pergi sebentar, titip Via, ya."
"Mau kemana? Kok tiba-tiba?" Tanya Jibril penasaran.
"Iya, Via juga tanya mau kemana tapi nggak di jawab," keluh Via yang membuat Aira terkekeh, ia pun mengecup pipi Via sebelum akhirnya ia pergi memanggil ibunya yang saat ini membersihkan kolam.
"Ummi, temenin aku periksa ya," ujar Aira yang tentu saja membuat Ummi Firda langsung cemas.
"Kamu sakit, Nak?"
"Bukan, aku penasaran kenapa ibu-ibu banyak yang bilang aku sepertinya hamil."
...***...
Ummi Firda menggengam tangan Aira yang saat ini sedang melakukan pemeriksaan di klinik bidan desa yang berada dekat dengan rumahnya. Baik Aira maupun Ummi Firda begitu deg-degan, jantung keduanya berdebar kencang menunggu hasil pemeriksaan bidan.
"Benar, Ning Aira hamil," ujar bidan yang membuat Aira dan Ummi Firda mengaga dengan kedua mata yang terbuka lebar.
"Selamat ya, Ning. Sebenernya aku sudah mendengar ibu-ibu yang membicarakan kalau sepertinya Ning Aira hamil." lanjutnya.
Ummi Firda hanya bisa saling melempar tatapan dengan Aira, keduanya tampak sangat tidak percaya dengan berita yang mereka dengar.
"Bu, periksa lagi," ujar Aira kemudian.
"Tapi..."
"Tolong, Mbak. Periksa Aira lagi..." desak Ummi Firda. Bidan pun kembali melakukan pemeriksaan.
"Ning Aira memang hamil, tapi jika kalian tidak percaya atau ingin tahu keadaan pastinya, kalian bisa pergi ke dokter kandungan."
"Kita ke Dokter Tiya," kata Ummi Firda kemudian.
Bu bidan tentu saja hanya bisa melongo bingung dengan reaksi dua wanita itu namun ia mempersilahkan Aira memeriksa kandungannya ke Dokter Tiya, yang merupakan Dokter kandungan dan bertugas di rumah sakit desa.
TBD..