Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #106 - Hakikatnya Wanita


Arsyad tahu, ini adalah kesempatan terakhir yang ia dapatkan dari Aira juga dari keluarganya dan memang ini yang Arsyad mau, hanya satu kesempatan terkahir, karena ia pun merasa tak pantas jika harus lagi dan lagi menyakiti seorang Humaira.


Di kesempatan ini, Arsyad berjanji pada dirinya sendiri, akan mencintai Aira sebaik mungkin, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ia berjanji akan selalu terbuka dalam segala hal, baik ataupun buruk.


Arsyad menuggu kedatangan orang tua Aira dengan harap-harap cemas, ia sangat mengenal ayah dan ibu Aira. Mereka baik, pemaaf, tapi terkadang mereka juga bisa ganas pada siapapun yang mengusik kebahagiaan mereka, seperti yang Micheal lakukan padanya saat tahu ia telah mengkhianati Aira. Arsyad babak belur.


Sementara Aira, ia juga menunggu kedatangan orang tuanya dengan tak sabar namun juga gugup, karena saat mereka datang, saat itulah ia akan kembali menjadi milik Arsyad dan akan kembali memiliki Arsyad.


Saat ini, Arsyad, Aira dan Via tentu juga denga bi Sri, menghabiskan waktu bersama layaknya sebuah keluarga. Mereka nonton tv bersama dengan di temani cemilan dan minuman segar.


Dan yang mereka tonton adalah kartun favorit Via, bahkan Via sampai menyembunyikan remote TV nya karena tak ingin tayangan itu di ganti.


"Ternyata benar," gumam Arsyad tiba-tiba yang membuat Aira langsung mengernyit bingung. Aira menaikan sebelah alisnya, seolah bertanya apa? "Ada quote begini, kalau kamu mau merubah dunia, ubahlah sebelum kamu menikah. Karena setelah menikah, jangankan mengubah dunia, mengubah tayangan tv saja nggak akan bisa," tukas Arsyad yang langsung membuat Aira dan bi Sri tertawa geli.


Sementara Via masih fokus pada tontonan di depannya ini.


"Iya, Tuan. Anak-anak menguasai, di rumah saya juga begitu," kata Bi Sri.


"Dulu aku juga gitu waktu kecil," ucap Aira. "Tapi nggak ada yang ganggu, kecuali kak Jibril, suka gonta ganti chanel ke film lain. Untung aja ada kak Micheal yang bantuin aku rebut remotenya." lanjutnya sembari mengenang masa kecilnya bersama kedua kakaknya.


"Michael memang paling posesif sama kamu," sambung Arsyad.


"Benar, jangankan kak Jibril, abi aja kadang di lawan buat aku," ucap Aira dengan bangganya, ia tertawa hingga tiba-tiba ia tampak terkejut n


"Au..." pekik Aira saat kembali ia merasakan tendangan di perutnya, Aira merintih sambil memegang perut buncitnya itu. "Ya Allah, Nak. Kebiasaan banget bikin Ummi kaget, nendang tiba-tiba terus," kata Aira.


"Alhamdulillah, dia aktif banget, semoga itu artinya dia sehat," kata Arsyad sambil tersenyum lembut.


"insyaallah, Mas. Kata Dokter dia sehat kok, perkembangannya juga sangat baik," jawab Aira yang juga membalas senyuman lembut Arsyad. "Ya 'kan, Sayang? Anak Abi sama Ummi sehat-sehat disana ya."


"Aamiin, semoga Allah selalu menjaganya, Sayang. Dimana pun dia berpijak, semoga Allah..."


"Semoga selalu di berikan dan memberikan kebahagiaan, kebaikan dan cinta yang tulus."


"Aamin." Aira mengaminkan dengan sepenuh hati juga penuh harapan, ia tersenyum hangat namun senyum itu musnah saat ia teringat dengan seseorang yang jauh disana namun pasti akan selalu terikat pada mereka. "Em, Mas. Kamu nggak pernah telfon Anggun?" Tanya Aira, yang dengan sekuat hati ia melontarkan pertanyaan itu, menyebut nama wanita yang berperan besar dalam kehancuran rumah tangganya.


"Nggak," jawab Arsyad tenang sambil menggeleng.


"Kenapa? Dia juga hamil, kamu nggak tanya kabarnya? Tentang kehamilannya?" Tanya Aira penasaran, karena sejak Arsyad tinggal dengannya, Aira memang tidak pernah mendengar Arsyad yang menelepon seseorang selain Fahmi.


"Setiap hari dia kirim pesan, katanya kandungannya sehat, baik-baik aja. Aku juga sudah memberikan dia cek untuk memenuhi kebutuhannya, aku rasa itu sudah cukup," jawab Arsyad.


Sejenak Aira terdiam, ada rasa simpati dalam dirinya pada Anggun. Merasa kasihan, karena Arsyad benar-benar mengabaikannya. Namun saat Aira mengingat bagaimana Anggun bersandiwara selama ini di depannya, apalagi mengingat cerita bahwa Anggun sudah lama mencintai Arsyad, hingga rela mejadi istri kedua Arsyad, mengambil kesempatan dalam kekurangannya, Aira kembali meraskan sentuhan luka di hatinya, perih. Dan ia kembali meraskan amarah dan kebencian, namun Aira mencoba mengenyahkan segala rasa itu apalagi Aira sudah memutuskan  akan membuka lembaran baru bersama Arsyad.


"Kenapa?" Tanya Arsyad saat menatap raut wajah Aira yang tampak berubah.


"Nggak apa-apa," jawab Aira sambil tersenyum tipis. "Aku memang nggak suka wanita lain dalam hidup kamu, Mas. Tapi anaknya adalah anakmu, yang artinya juga akan menjadi anakku. Aku harap kamu nggak membedakan mereka nantinya, atau mereka bisa saja saling iri dan cemburu, kasihan mereka," ujar Aira yang lagi-lagi membuat Arsyad tersentuh.


"Insyaallah, Humaira. Aku akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk mereka."


"Lalu kenapa kamu nggak pernah telfon dan tanya langsung ke Anggun?" Tanya Aira lagi yang justru membuat Arsyad terkekeh.


"Kenapa kamu menanyakan pertanyaan seperti itu, hm? Kamu tahu apapun jawabannya, kamu nggak akan suka kalau aku membahas wanita lain." Aira tersenyum kikuk sambil garuk-garuk kepala, karena apa yang Arsyad katakan benar.


Wanita selalu seperti itu, menanyakan pertanyaan yang padahal memancing emosi mereka sendiri, mereka suka bertanya tentang dirinya dan wanita lain, dan apapun jawabannya, akan menyinggung perasaannya. Aira hanya perduli pada anak dalam kandungan Anggun, namun benar, ia tak suka Arsyad membicarakannya.


Tbc...