Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #94 - Hati Yang Tergenggam


Dengan cepat Arsyad meng-aktifkan ponselnya dan ia mengernyit saat melihat ada beberapa panggilan dari nomor ibunya Anggun.


Arsyad melirik Aira yang saat ini memandang layar telivisi dengan fokus. Arsyad langsung ingin kembali menghubungi bu Husna karena ia ingin tahu ada apa gerangan wanita itu menghubunginya sementara selama ini mereka menghilang dari kehidupan Arsyad bak di telan di bumi.


Namun di sisi lain, Arsyad tak ingin berhubungan dengan mereka di saat ia bersama Aira, Arsyad tak ingin membuka kembali luka yang bahkan belum sepenuhnya tertutup dan mengering.


Setelah berfikir cukup lama, akhirnya Arsyad memberanikan diri bersuara.


"Aku boleh minta izin?" Arsyad melemparkan tatapan penuh maknanya pada Aira.


"Maksudnya?" Tanya Aira dengan kening berkerut.


"Tante Husna telfon, kalau boleh, aku mau telfon balik," cicit Arsyad yang tentu saja membuat hati Aira langsung terkesiap, teringat kembali dengan apa yang sudah begitu melukainya.


"Oh , terserah,"jawab Aira dingin, tatapannya lurus menatap layar televisi di depannya namun fikiran dan perasaannya kini mulai berkecamuk.


Arsyad menyadari tatapan Aira yang berbeda mmebuat ia merasa bersalah . "Bukan maksudku mebuat kamu sedih, aku cuma minta izin karena sekarang aku menjadi milikmu lagi, aku akan memberi tahumu segalanya, aku akan meminta izinmu dalam segala hal." Aira tersenyum tipis mendengar apa yang di katakan Arsyad.


"Aku rasa aku hanya milik anak-anakku sekarang," ujar Aira, ia beranjak dari tempat duduknya dan hendak pergi namun Arsyad memegang lengannya.


"Kamu pasti tahu betapa aku masih sangat mencintai kamu, Humaira. Aku ingin kembali ke kamu dan menjaalani hidup bersama dengan anak-anak kita."


"Jangan lupa dengan saudara anak-anak kita," sinis Aira yang membuat hati Arsyad mencolos. Perlahan ia melepaskan tangannya dari lengan Aira sementara Aira hanya diam memperhatikan hal itu.


Dada Aira kembali bergemuruh saat mengingat ia bukan satu-satunya wanita yang menjadi ibu dari anak Arsyad, hatinya kembali sakit mengingat ia pernah merasakan sebuah pengkhianatan.


Saat langkah Aira semakin menjauh, Arsyad kembali memanggilnya. "Humaira..." Aira masih sakit hati pada Arsyad namun ia tetap menghentikan langkahnya saat Arsyad memanggilnya, seolah hatinya masih tertinggal di genggamana Arsyad.


Sementara Via, ia menatap abi dan umminya bergantian, Via bisa menyadari ketagangan yang ada di antara mereka dan itu membuatnya sedih.


"Aku datang kesini untuk membuktikan bahwa aku masih sangat mencintaimu, aku ingin memperjuangkan cinta kita lagi," ujar Arsyad penuh permohonan. "Aku ingin memulai hubungan kita dari awal."


Aira langsung berbalik badan dan seketika tatapannya yang tajam bertemu dengan tatapan Arsyad yang begitu sendu. "Lalu bagaimana dengan dia?" tanya Aira dengan suara yang bergetar. "Dia juga mengandung anak kamu, Mas." air mata Aira  kembalik menitik begitu saja membuat hati Arsyad seperti teriris.


Cukup! Arsyad datang untuk merajut kembali cinta mereka yang sudah tercabik, bukan untuk membuka kembali luka Aira, bukan untuk membuatnya kembali Menangislah.


"Aku akan bertanggung jawab pada anak kami," jawab Arsyad kemudian . "Itu sudah kewajibanku, maafkan aku," lirihnya kemudian ia menunduk dalam.


"Kenapa kamu menempatkan diri kamu dalam situasi yang begitu rumit, Mas?" Desis Aira yang bahkan kini mulai melupakan keberadaan Via, ia ingin melupakan rasa kecewa, sakit dan kekesalannya pada Arsyad. "Kenapa kamu nggak tinggal aja di tempat kamu tinggal dan biarkan aku disini. Kenapa?!" Dada Aira semakin bergemuruh, tatapannya mulai tak fokus karena aira mata yang terbendung di pelupuk matanya.


"Kenapa kamu bersikeras ingin memperjuangkan aku sementara aku justru beruang agar bisa melupakanmu, aku berjuang untuk memadamkan api cintaku tapi kamu...." Ia mendesis tajam sembari mendekati Arsyad yang masih duduk di sofa.


"Karena aku tahu kita masih saling mencintai," jawab Arsyad yang kini kembali mengangkat wajahnya. "Aku ingin memperbai hubungan kita lagi, Sayang. Hidupku nggak ada artinya tanpa kamu dan anak-anak kita. Saat kalian meninggalkanku, aku sadar betapa  aku membutuhkan kalian di sisiku. Dan sekali lagi, hanya sekali lagi! Izinkan api cinta itu berkobar, aku mohon...."


Aira tak menanggapi ucapan Arsyad, ia hanya memandangi wajah Arsyad yang kini benar-benar berbeda seperti dulu. Kini Arsyad jauh lebih kurus, pipinya tirus, cekukangan matanya terlihat jelas bahkan bulu-bulu halus di rahangnya ia biarkan begitu saja, sementara dulu Arsyad selalu mencukurnya dengan rapi.


Hal itu tak luput dari pantuan Via, Via pun berpindah duduk ke sisi sang Abi yang membuat Arsyad terkejut karena ia pun baru menyadari akan keberadaan Via disana. "Ada apa, Bi? Kenapa Abi dan Ummi bertengkar lagi?"


"Nggak, Sayang. Kami nggak bertengkar kok," elak Arsyad.


"Siapa itu tante Husna? Dan siapa yang mengandung anak Abi?" Tanya Via yang seketika membuat Arsyad melotot terkejut, ia tak tahu harus menjawab apa sementara Via justru menatapnya dengan rasa penasaran.


"Abi kok diam?" Tanya Via yang membuat Arsyad gelagapan.


"Nggak apa-apa, Sayang. Em ma-maksud Abi, bukan siapa-siapa, itu tadi teman Abi sama Ummi, bukan apa-apa kok," ujar Arsyad mencoba meyakinkan.


"Abi, mengandung itu artinya hamil 'kan? Hamil itu artinya akan punya adik bayi seperti Ummi,' kan?" tanya Via, ia juga tatapannya lurus menatap manik mata Arsyad hingga membuat hati Arsyad berdebar, dan Arsyad hanya bisa mengangguk pelan sebagian jawaban. "Via nggak mau punya adik dari Ummi yang lain, Abi. Via maunya adik dari Ummi Aira aja." lanjutnya, Arsyad memasksakan bibirnya tersenyum, ia mengelus kepala Via dengan sayang.


"Iya, adik Via cuma adik dalam perut Ummi."


***


Keesokan harinya...


Anggun hanya diam memandangi langit-langit ruang rawatnya dengan tatapan yang kosong.


Tangannya menyentuhnya perutnya yang kini sudah kembali rata.


Tak ada lagi yang ia tunggu karena taj ada lagi kehidupan disana, semuanya sudah selesai, sudah berakhir.


Tapi tidak! Anggun belum siap membuat mengakhiri semuanya. Karena itulah ia belum siap memberi tahu Arsyad bahwa anak mereka kini telah di renggut oleh semesta.


Air mata Anggun mengalir dari sudut matanya hingga membasahi banta, ia memejamkan mata, menarik napas dan menghembuskannya.


Tak berselang lama, kedua orang tuanya datang dan mereka menyapa Anggun dengan lembut. "Bagaiamana keadaan kamu, Anggun?" tanya sang ayah.


"Tidak pernah merasa lebih buruk dari ini, Pa," jawab Anggun yang masih memejamkan mata.


"Arsyad kirim chat Mama," ujar bu Husna yang membuat Anggun langsung membuka mata.


"Mama kasih tahu dia?" Tanyanya.


"Nggak, karena kemarin telfonnya nggak aktif. Dia cuma tanya bagaimana keadaanmu, Mama bilang baik-baik aja. Dan sekarang dia ada di..." Bu Husna menatap suaminya sekilas.


"Dimana?" Tanya Anggun.


"Di Pakistan, bersama Aira."