Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #87 - Demi Cinta


"Kenapa? Apa Sebegitu besar rasa bencimu sama aku sampai kamu nggak mau mau melihat aku lagi? Aku tahu aku membuat kesalahan fatal, Humaira. Tapi aku mohon, kasih aku kesempatan! Bukan kesempatan kedua, tapi kesempatan terakhir, demi anak-anak kita."


Aira terdiam mendengar ucapan Arsyad, kemudian ia memegang perutnya dan Aira tersenyum saat merasakan pergerakan janinnya dalam perutnya itu.


"Untuk sementara, biarlah semuanya seperti ini." Aira berkata dengan suara yang berat.


"Jika itu maumu, Humaira. Baiklah, tapi aku juga punya kemauan yang ingin aku perjuangkan," tukas Arsyad yakin.


"Aku mohon, jangan gila, Mas. Jangan kesini, kamu masih sakit," seru Aira penuh penekanan.


"Lalu kenapa jika aku sakit? Kamu kesana juga karena kamu sakit, 'kan? Dan itu semua karena aku." suara Arsyad terdengar bergetar dan itu membuat hati Aira ikut bergetar. "Bahkan, jika aku sekarat pun, aku akan kesana, aku ingin bertemu denganmu, dengan Via."


"Aku nggak tinggal disini selamanya, Mas. Aku akan pulang," seru Aira lagi. "Aku juga nggak bermaksud lari dari kamu..."


"Tapi kamu lari, Aira...." sela Arsyad yang tak membiarkan Aira menyelesaikan ucapannya.


"Karena aku hanya ingin mencari tempat persembunyian..." sanggah Aira dengan perasaan yang menggebu.


Hening...


Tak ada lagi yang bersuara, hanya terdengar suara helaan napas memburu baik dari Aira maupun dari Arsyad.


Perasaan keduanya bercampur aduk saat ini, antara menahan rindu yang membuncah, juga menahan gejolak akan segala rasa sakit yang masih tersisa dari masa lalu.


"Kenapa rasanya masih sesekit ini?" Fikir Aira, dan tentu jawabannya karena cinta masih bertahta di hatinya.


Sementara di luar, diam-diam Via menguping pembicaraan Aira, ia menempelkan telinganya di daun pintu dan Via bisa mendengar dengan jelas apa yang di katakan oleh Aira. Via sedih, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan agar orang tuanya baikan seperti dulu lagi.


Di dalam, Aira kembali menangis, ia tak mampu lagi menahan gejolak di hatinya yang membuncah.


"Dari apa, Sayang?" Tanya Arsyad akhirnya dengan suara yang begitu lembut, menyentuh hati Aira yang paling dalam. "Kamu sembunyi dari apa?" Arsyad mengulang pertanyaannya dengan suara parau.


"Dari kenyataan..." jawab Aira akhirnya dengan suara tercekat.


"Maafkan aku, Aira. Kenyataan yang aku ukir dalam hidupmu sangatlah buruk, maafkan aku, Sayang."


Aira tak mampu menjawab ucapan Arsyad, apalagi dengan panggil sayang yang begitu lembut itu, seperti biasa, tak pernah berubah.


Aira hanya diam sembari menyeka air mata yang terus saja mengalir di pipinya tanpa bisa di tahan. Jika di tanya kenapa ia kembali menangis, ia tidak tahu apa jawabannya karena ia menangis saat mengingat kebohongan Arsyad, ia juga menangis saat merindukan Arsyad dan ia kembali menangis saat merasakan cinta Arsyad bahkan jika hanya lewat kata-kata.


"Baiklah, Sayang. Titip anak-anak, ya. Sampaikan maafku pada mereka karena aku belum bisa menemani mereka," kata Arsyad dengan nada yang tenang, membuat air mata Aira semakin deras, tiba-tiba ia merasa kesal pada Arsyad.


"Kenapa kamu lakukan ini?" desis Aira kesal.


"Melakukan apa?" Tanya Arsyad namun Aira tak tahu jawabannya. Memangnya Arsyad melakukan apa?


"Bisakah kita fokus pada hidup kita masing-masing seperti yang kamu bilang padaku?" desis Aira lagi.


"Anggun yang membalas pesanmu, Aira. Bagaimana bisa kamu menuduhku seperti itu? Aku selalu bersamanu selama ini, aku berdoa bersamamu saat meminta kehadiran buah hati. Lalu, apakah menurutmu mungkin aku akan membuang kalian begitu saja? Kamu adalah belahan jiwaku, Aira. Kamu separuh hidupku, bagaimana bisa aku hidup tanpa kamu?"


Aira terdiam, benar, Arsyad benar. Bagaimana bisa Aira tak mengenali Arsyad? Bagaimana bisa dia percaya begitu saja hanya lewat sebuah pesan bahwa Arsyad tak menginginkannya?


Langkahnya sudah terlalu jauh karena kesalah-fahaman itu.


"Aku tahu, aku menorehkan luka yang luar biasa dalam di hatimu. Aku tahu, aku terlalu naif, bodoh, aku benar-benar sangat bodoh, karena aku terlalu mencintaimu aku fikir aku harus menjaga kebahagiaanmu. Tapi ternyata aku salah, seharusnya aku jujur sejak awal agar nisa menjaga hubungan kita.


"Belum, Humaira. Kamu dan aku masih bernapas, belum terlambat kecuali salah satu dari kita telah menemui ajal."


Hati Aira berdenyut mendengar ungkapan Arsyad yang penuh makna itu, yang artinya Arsyad takkan berhenti meminta kesempatan pada Aira sampai ia atau Aira yang mati.


Aira menarik napas, menegarkan hatinya yang sepertinya tak sehat jika terus berbicara dengan Arsyad seperti ini.


"Aku akan menemani Via bermain, sudah terlalu lama aku meninggalkan dia," kata Aira kemudian untuk menghindari Arsyad.


"Sampaikan salamku pada tuan puteri, Yang mulia ratu," ujar Arsyad yang kembali membuat hati Aira berdesir hangat.


Sementara di luar, Via langsung kembali ke ruang tengah setelah mendengar kata-kata terkahir umminya. Via kembali duduk manis dan ia berpura-pura sibuk sibuk dengan buku gambarnya.


Tak berselang lama Aira kembali datang dengan senyum merekah di bibirnya, namun Via tahu umminya baru saja menangis, apalagi sisa air mata masih ada di sudut matanya.


Via pun tersenyum lebar, seolah ia tak mendengar apapun.


...🌱...


Jakarta, Indonesia.


Arsyad seperti orang gila saat ini, tadi ia menangis saat berbicara dengan Aira, kemudian ia mesem-mesem saat mendengar suara Aira. Arsyad tahu dan ia sangat bisa merasakan bahwa Aira masih mencintainya, sangat mencintainya.


"Aku akan kesana, Sayang. Akan aku kejar kemana pun kamu pergi," gumam Arsyad semangat, ia pun segera menghubungi Fahmi, meminta Fahmi mengantarnya menemui Dokter Satyo.


Arsyad bertekad, ia akan pergi secepatnya ke Pakistan. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Via dan Aira, apalagi sekarang perut istrinya itu pasti sudah besar. Arsyad tak sabar ingin melihatnya, Arsyad ingin ada di samping Aira di saat-saat seperti ini.


Arsyad tahu, sebenarnya sangat mudah baginya untuk rujuk sekarang dengan Aira karena Aira masih dalam masa iddah. Tidak perlu melakukan akad kembali. Namun Arsyad pernah egois dan sekarang ia tak ingin egois untuk kedua kalinya.


Arsyad ingin memiliki Aira atas dasar cinta dan keinginan. Bukan persetujuan seperti perjodohannya dulu. Dimana pernikahan Arsyad dan Aira terjadi karena sebuah perjodohan dan keduanya manut saja pada keputusan para tetua saat itu.


Tapi sekarang, Arsyad ingin meng-akad Aira atas nama cinta, bukan sekedar bakti pada orang tua, bukan sebuah persetujuan dalam hal apapun. Tapi murni karena cinta.


...🌱...


"Anak itu benar-benar bodoh, apa dia mau bunuh diri," geram Abi Gabriel sembari melemparkan ponselnya ke sofa.


"Ada apa sih, Bang? Micheal?" Tanya Ummi Firda kemudian ia duduk di samping suaminya yang tampak geram itu.


"Arsyad!" seru Abi Gabriel yang membuat kening Ummi Firda langsung berkerut.


"Ada apa dengan Arsyad?"


"Dia bersikeras mau menyusul Aira ke Pakistan, dia memaksa Dokter Satyo untuk membuat surat rujukan dari rumha sakit agar dia bisa melakukan penerbangan," tukas Abi Gabriel yang benar-benar takes habis fikir dengan keputusan Arsyad.


"Hai? Kok bisa? Jalan aja dia perlu kursi roda, Bang. Dia mau pergi sama siapa?" pekik Ummi Firda.


"Katanya mau mengejar Aira, apa dia sudah gila?"


TBC..