Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #128 - Fakta


Seperti di sambar petir di siang bolong, itulah yang di rasakan Arsyad saat dr. Tiya menceritakan bagaimana Anggun kehilangan bayinya, yang juga merupakan anak Arsyad.


Arsyad begitu shock, berharap itu hanya sebuah mimpi buruk mamun nyatanya itu adalah fakta. Sedih, karena ia tak bisa menatap putrinya sama sekali, dan marah, karena ia sudah di bohongi mentah-mentah oleh Anggun entah dengan alasan apa dan untuk yang ke sekian kalinya.


Yang pasti, Arsyad merasa terpukul juga kecewa pada dirinya sendiri juga pada Anggun.


Saat ini, ia hanya bisa menunduk dalam, kedua tangannya saling meremas, menahan perasaan yang bergemuruh di dadanya. Dokter Tiya, Ummi Firda dan Abi Gabriel hanya bisa diam membisu memperhatikan Arsyad.


Sementara Aira, ia merasa prihatin pada sang suami yang pasti sangat terpukul. Dengan lembut Aira menarik tangan Arsyad, menggengamnya dan seketika Arsyad berhambur dalam pelukan Aira, ia menenggelamkan wajahnya di pelukan Aira.


Arsyad menggigit bibirnya saat air mata mengalir begitu saja dari sudut matanya, tubuhnya bergetar pelan dan Aira dapat merasakan air mata sang suami yang membasahi dadanya.


Menyesal, Arsyad menyesal karena ia sungguh tak pernah ada untuk anak itu, bahkan ia tak mengantarnya pulang ke rumah terakhirnya, seperti ia tak bisa mengantar ibunya pulang.


Arsyad tidak bisa memandikan anak itu, seperti ia tak bisa memandikan jenazah sang ibu.


Aira tak tahu harus melakukan apa atau berkata apa untuk menenangkan sang suami, yang bisa ia lakukan hanya mengusap punggung Arsyad yang bergetar.


"Aku buruk sekali, aku nggak tahu ibuku meninggal dan aku enggak tahu bahwa anakku juga meninggal," lirih Arsyad penuh luka yang membuat hati Aira ikut merasa sakit, bahkan bulir air mata tak bisa lagi ia bendung.


"Kenapa selalu seperti ini? Ini salahku, seharusnya aku ada untuk mereka" gumam nya dengan suara yang bergetar.


"Bukan salah kamu, Mas." Aira masih mengusap punggung Arsyad yang sedikit bergetar. "Bukan..."


"Kita pergi sekarang, Sayang."


***


"Pa, katanya kita mau ke desa? 'Kan Via sudah pulang, Papa," rengek Tanvir yang saat ini sedang mengekori Michael kemana pun Michael pergi, bahkan ia juga mengekori Michael yang hendak pergi ke toilet.


"Besok, Tanvir. Hari ini Papa mau kerja dulu," jawab Micheal dengan kesal.


"Ih, Papa kerja terus. Emang uang yang selama ini Papa punya itu kurang?" Tanya Tanvir dengan suara lantang bahkan ia sampai berkacak pinggang di depan pintu toilet.


Micheal tak memperdulikan hal itu karena keadaannya benar-benar darurat saat ini, ia langsung mengunci kamar mandi dari dalam." Papa! rumah Papa ini sudah besar, mobil banyak. Kakek punya pesawat, Papa kurang apa lagi? Masih kerja terus!" oceh Tanvir yang benar-benar tampak kesal.


Sementara Micheal fokus pada dirinya sendiri di dalam. "Papa! Kata Ustaz, harta itu nggak di bawa mati. Kenapa sama papa di cari terus!" Tanvir masih terus mengoceh bahkan sambil menggedor-gedor pintu.


Zenwa yang saat ini ada di bawah langsung naik setelah mendengar keributan anaknya itu.


Sementara itu, Micheal langsung keluar setelah selesai menunaikan hajatnya. Ia berdiri di depan Micheal dan ia juga berkacak pinggang kemudian berkata, "Siapa bilang harta nggak di bawa mati? Kalau Papa gunakan hartanya untuk sedekah, jadi pahala, di bawa mati. Papa gunakan untuk sumbangan membangun masjid, rumah sakit, sekolah dan sebagainya, jadi pahala, amal jariyah, di bawa mati juga. Papa gunkanan untuk manfakahi kamu sama Mama. Itu juga pahala, pahalanya di bawa mati. Papa gunakan untuk bayar sekolah kamu, kamu fikir sekolah internasional itu murah? Butuh harta yang banyak juga, biar kamu dapat pendidikan terbaik, di tempat terbaik. "


Tanvir hanya menganga mendengar ucapan panjang lebar ayahnya itu, dan perlahan ia menurunkan ia kedua tangannya dari pinggangnya kemudian ia melempar senyum manis, senyum bebas tanpa beban dan tanpa dosa.


Sementara Zenwa hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar apa yang di katakan suaminya pada putra mereka itu, apalagi raut wajah Micheal terlihat sangat serius, seolah yang ada di hadapannnya adalah orang dewasa yang sudah pasti mereka apa yang di ucapkannya.


"Ya habisnya dia marah-marah karena aku kerja," dumel Micheal.


"Namanya juga anak-anak, Mas. Kamu gimana sih, masak anak-anak di ladeni, udah kayak anak kecil aja kamu," tegur Zenwa.


Sementara Tanvir justru mengangguk beberapa kali sambil tersenyum lebar seolah membenarkan apa yang di katakan oleh ibunya.


"Dia sudah bukan anak-anak lagi, sudah 9 tahun lho usianya," balas Micheal dan lagi-lagi Tanvir mengangguk seolah menyetujui apa yang di katakan oleh Micheal. Membuat Micheal semakin kesal pada anaknya itu.


"Sayang, turun gih. Bi Eni ada buat pisang keju tuh." titah Zenwa sebelum Micheal naik darah karena ulah putra mereka.


Dengan tanpa beban sedikitpun, Tanvir berjalan santai ke luar dari kamar orang tuanya.


"Astagfirullah, sabar... Sabar...." Micheal mengusap dadanya yang berdebar setiap kali beradu argumen dengan sang putra, sementara Zenwa hanya terkekeh meihat sang suami yang selalu kewalahan menghadapi Michael. "Menurut kamu anak itu nuruni sikap siapa sih, Sayang? Dari gen keluarga kamu atau gen keluarga aku sikap absurdnya itu?" Tanyanya yang seketika membuat Zenwa tertawa geli.


"Rasanya pasti dari keluarga kamu, Sayang. Kamu 'kan tahu sendiri latar belakang keluarga aku kayak apa, nggak mungkin punya sikap absurd seperti Tanvir."


"Ya udah, Mas. Dari gen siapapun sikap anak kita, syukuri aja. Sikap yang dia tunjukan itu artinya dia pintar dan cerdas, dari pada malempem, mau?"


"Iya juga sih..."


***


Malam ini Anggun memasak untuk makan malam seperti biasa, namun entah kenapa perasaannya tak biasa. Ia resah dan cemas tanpa sebab, beberapa kali ia menghela napas panjang untuk menenangkan perasaannya yang kacau.


"Auu..." pekiknya saat tanpa sengaja jarinya teriris pisau saat ia hendak memotong sayuran.


Tak berselang lama bu Husna datang dengan membawa botol susu Baby Maita. "Sudah tidur, Ma?" tanya Anggun sembari mencuci tangannya kemudian ia mengobati jarinya yang terluka.


"Sudah, malam ini dia rewel terus," kata bu Husna.


Anggun terdiam sejenak dan kembali memikirkan Arsyad, hingga suara bel pintu mengejutkannya. "Biar aku yang buka," kata Anggun karena sang ibu sedang mencuci botol susu Baby Maita.


Anggun bergegas membuka pintu dan seketika kedua matanya terbuka lebar saat melihat siapa yang datang.


"Ka-kalian...." Anggun berbisik tak percaya.


"Assalamualaikum," sapa Aira yang menampilkan wajah datarnya, sementara raut wajah Arsyad justru tampak sangat tegang. "


"Bukannya kalian ada di..."


"Kami pulang untuk melihat anakku," sela Arsyad dengan nada yang begitu dingin.


Tbc...