Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #81 - Di Balik Semua Yang Terjadi


Apa salah Javeed sehingga Aira harus menghindarinya? Itu pertanyaan bagus dan Aira pun tak mungkin mengabaikan pertanyaan itu. Selama ini ia sudah menjalin hubungan yang baik dengan Javeed dan tak mungkin tiba-tiba ia bersikap seolah memusuhi Javeed padahal ia ingin menjauhi Javeed demi kebaikannya.


Karena itulah, Aira mengajak Javeed berbicara di rumahnya, tak lupa Aira mengundang Nida juga ibunya Javeed agar tak ada fitnah yang terjadi. Apalagi Aira tahu tentang perasaan Javeed dari Nida, tentu sumber informasinya harus di sertakan.


Malam ini, Aira mengundang mereka makan malam. Hal itu membuat Javeed harap-harap cemas, ia penasaran dengan apa yang akan di katakan Aira namun dalam hati ia berharap bukan hal yang bisa membuatnya menjauh dari Aira apalagi Via mengingat sikap Aira yang berubah akhir-akhir ini.


Satu bulan bersama Via itu sudah Berhasilkah menumbuhkan kasih sayang bahkan cinta di hati Javeed untuk gadis kecil itu. Dan tentu, juga untuk Aira. Javeed menyukai Aira sejak pertama kali bertemu Aira, bahkan ia jatuh cinta pada Aira seiring berjalannya waktu yang membuat keduanya semakin dekat berkat adanya Via.


"Kamu ingin bicara apa?" Tanya Javeed setelah meneguk air dari gelasnya.


"Tentang kamu," kata Aira. Ia melirik Nida kemudian ia melirik ibunya Javeed.


"Tentang aku? Apa kamu mau menyatakan perasaanmu padaku?" Tanya Javeed sambil terkekeh, padahal sebenarnya ia sangat gugup dan inilah caranya menutupi kegugupannya. Aira hanya tersenyum tipis memndengar ucapan Javeed, entah itu gurauan atau serius, namun harus Aira akui, Javeed selalu mampu mencairkan suasana, selalu mampu membuatnya tersenyum, karena itulah ia pun tak sadar dengan kedekatan mereka.


"Apa kamu punya perasaan sama aku?" Tanya Aira yang seketika membuat Javeed menegang. Senyum yang tadi mengembang di bibirnya kini musnah.


Javeed menatap ibunya yang kini justru tersenyum simpul, karena sang ibu sudah tahu dengan pasti apa jawaban Javeed. "Maaf aku lancang karena bertanya seperti itu," kata Aira sembari membenarkan posisi duduknya yang entah kenapa tiba-tiba terasa tak nyaman.


"Kenapa kamu tanya begitu?" Tanya Javeed lirih.


"Aku hanya bertanya, karena..." sekali lagi Aira melirik Nida. "Nida pernah memberi tahu ku, kemungkinan kamu..."


"Punya rasa sama kamu?" Tanya Javeed memotong pembicaraan Aira. Aira hanya mampu mengangguk pelan. "Itu benar," jawab Javeed yang membuat kedua bola mata Aira melotot sempurna.


"Aku memang menyukaimu, sejak pertama kali melihatmu. Aku sudah menyukaimu, dan semakin hari kita semakin dekat, dan tanpa sadar aku sudah jatuh cinta sama kamu."


"Kamu..."


"Aku belum selesai bicara...." lagi-lagi Javeed memotong ucapan Aira. "Aku tahu, mungkin kamu masih mencintai mantan suamimu. Mungkin juga kamu hanya ingin fokus pada anak-anakmu, atau mungkin kamu masih punya seribu kemungkinan untuk menolak keberadaan orang lain dan aku nggak masalah dengan hal itu karena apakah aku mencintaimu atau nggak itu urusan aku pribadi." Aira hanya bisa terdiam mendengar ucapan panjang lebar Javeed, ia juga tak menyangka, di balik sikap konyol dan menyebalkannya ternyata Javeed cukup dewasa dan bijak.


"Jadi, sekarang kamu sudah tahu perasaanku. Lalu apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Javeed seolah menantang Aira.


"Aku rasa tanpa sadar kita melampaui batas," jawab Aira dengan suara rendah.


"Aku rasa...." Javeed menatap Aira sementara Aira hanya menatap piring di hadapannya. "Kita nggak melampaui batas, apa aku pernah menginap di rumahmu atau kamu menginap di rumahku?" Aira langsung mendongak mendengar ucapan Javeed, ia menatap pria itu dengan kening berkerut. "Apa kita pernah berkencan berdua? Nggak, 'kan? Jadi aku rasa kita masih pada batasan kita."


Nida dan ibunya Javeed hanya menjadi pendengar yang baik tanpa sedikitpun ingin menginterupsi perbincangan Javeed dan Aira, sementara Via yang tak mengerti apa-apa hanya fokus menikmati makan malamnya.


"Aku tahu kita nggak pernah melakukan itu, hanya saja..."


" Iya, Om sahabatnya Via, Via sayang sama Om Javeed," kata Via sambil tersenyum lebar, kedua matanya tampak berbinar saat menatap Javeed begitu juga sebaliknya, kini kedua orang itu seolah tampak saling membutuhkan.


"Iya dong, selalu," jawab Javeed sambil melirik Aira penuh arti.


"Aku jatuh cinta padamu, Aira. Aku berhasil mencuri hati Via dan akan aku lakukan apapun untuk mencuri hatimu."


...🌱...


Bandung, Indonesia.


"Maafkan aku, ya Allah. Aku benar-benar bersalah karena telah menghancurkan semua orang yang ada di sekitarku. Aku menerima semua hukuman yang Kau berikan padaku, tapi aku mohon jaga anakku. Dia tidak bersalah, kehadirannya sangat aku harapkan."


Anggun berdo'a dengan begitu lirih, dengan derai air mata yang tak kunjung berhenti sejak tadi. Dari hatinya yang paling dalam, Anggun kini sungguh menyesali apa yang telah ia perbuat. Apalagi ketika ia mengingat bagaimana baiknya Aira selama ini pada semua orang. Namun dalam sekejap mata, Anggun menghancurkan wanita itu tanpa ampun. Tak hanya Aira, tapi juga Arsyad, pria yang telah ia cintai dalam diam selama bertahun-tahun.


Anggun merasa hidup tidak adil padanya, karena ia tak pernah mendapatkan apa yang ia impikan. Namun sekarang ia mengerti, takdir memberi bukan apa yang ia inginkan melainkan apa yang ia butuhkan. Selama ini ia hanya fokus betapa ia menginginkan Arsyad tanpa ia sadari sebenarnya ia tak membutuhkan Arsyad. Namun Anggun memaksakan kehendaknya dan inilah akhirnya.


Sekarang, jangankan menginginkan Arsyad, untuk berhadapan dengannya saja Anggun tak berani.


...🌱...


... Jakarta, Indonesia. ...


Meskipun tak bisa berdiri, Arsyad masih melaksanakan sholat malam di atas ranjangnya karena satu-satunya yang menjadi sandarannya saat ini hanyalah Tuhan. Satu-satunya yang mengerti hatinya hanya sang pemilik hati itu sendiri.


"Ya Allah, berikan aku kesempatan untuk sekali lagi merajut cinta bersama wanita yang aku cintai. Berikan aku satu kesempatan, untuk membangun mahligai cinta bersama wanita yang aku cintai. Ya Allah, aku tahu aku telah gagal menjadi suami dan anak yang baik. Tapi aku mohon, berikan aku kesempatan untuk menjadi ayah yang baik untuk anak-anakku."


"Hanya satu kesempatan, ya Allah...."


Setelah selesai berdoa, Arsyad membaringkan tubuhnya yang masih lemah. Ia menutup mata dan sekelebat bayangan wajah Aira menari dalam benaknya. Arsyad langsung membuka mata, ia melirik jam dinding yang kini menunjukkan pukul setengah 3.


Dulu, di jam seperti ini, Aira dan Arsyad akan berdo'a bersama, bersama-sama merayu Tuhan agar memberikan apa yang mereka inginkan. Tak pernah letih keduanya melakukan itu selama bertahun-tahun. Dan saat Tuhan sudah memberikan apa yang mereka harapkan, sayangnya mereka harus terpisah.


"Apa yang Engkau rencanakan ya Allah?"


TBC...