Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #68 - Bertanggung Jawab


"Jika dia di kirim ke luar negeri, apa mungkin dia bisa di sembuhkan?" Tanya Abi Gabriel pada Dokter yang menangani Arsyad.


"Kemungkinannya sangat kecil, Pak. Ini sudah hampir satu bulan, tapi pasien tidak menunjukan adanya kemajuan sedikitpun. Bahkan, saya rasa..." Dokter itu menghela napas panjang kemudian melanjutkan. "Saya rasa akan lebih baik jika pasien di lepaskan, karena keadaan seperti ini begitu menyiksa pasien, apalagi kemungkinan sembuh mungkin hanya 1%."


Abi Gabriel terkejut mendengar apa yang di tuturkan oleh Dokter, bahkan ia seolah merinding, mengasihani mantan menantunya yang kini bernasib sangat malang.


"Aku punya kenalan Dokter dari Amerika, aku akan memintanya datang kesini dan menangani Arsyad, tolong tetaplah usahakan yang terbaik untuknya," ucap Abi Gabriel kemudian.


"Maaf, tapi bapak siapanya pasien?" Tanya Dokter yang penasaran karena tiba-tiba Abi Gabriel datang menjenguk Arsyad bahkan rela memanggil kan Dokter dari luar negeri.


"Keluarganya," lirih Abi Gabriel.


Ia pun masuk ke ruangan Arsyad untuk menjenguk Arsyad sebelum ia pulang ke desa. Hati Gabriel bersimpati saat menatap Arsyad yang benar-benar terlihat tak berdaya.


"Apa karma datang secepat itu?" Ia menggumam lirih. "Atau Allah hanya sedang mengujimu?" Abi Gabriel memegang kepala Arsyad, mengusap nya dengan lembut seperti yang sering ia lakukan pada anak-anaknya sendiri.


"Bangun, Arsyad! Aku nggak mau cucuku lahir sebagai anak yatim."


***


Anggun masih terus memikirkan permintaan Ummi Ridha yang ingin kembali menyatukan Arsyad dan Aira, di satu sisi ia ingin melakukan itu untuk menebus semua kesalahan yang ia lakukan pada Ummi Ridha dan Arsyad. Namun di sisi lain, hatinya tak sanggup. Membayangkan Arsyad bersama Aira saja sudah membuat hatinya seperti di remas.


Anggun duduk merenung di dekat jendela, di kamarnya, di rumahnya sendiri. Setelah kematian Ummi Ridha, Anggun merasa tak berhak lagi tinggal di rumah itu.


pandangannya kosong dan fikirannya melayang, kembali pada saat ia mengatakan ia bersedia menjadi istri kedua Arsyad. Ia teringat bagaimana ia mengemis cinta Arsyad, saat itu ia begitu yakin Arsyad akan mencintainya perlahan apalagi jika sampai ia hamil.


Namun kenyataan terkadang sangat jauh dari apa yang di harapkan, dan kini Anggun merasakannya.


Ia berhasil memasuki hidup Arsyad, namun ia tak berhasil menempati hatinya.


Ia berhasil mengandung anak Arsyad, namun ia tak berhasil mencuri perhatiannya.


Air mata kembali mengalir begitu saja dari sudut mata Anggun, apalagi saat ia teringat bagaimana Ummi Ridha pingsan setelah mengetahui bahwa ia lah yang mendorong Arsyad hingga kecelakaan itu terjadi.


Dan setelah semua itu, Ummi Ridha masih melepaskan dia dan ayahnya dari semua tuntutan hanya karena ia sedang mengandung.


Di bawah, kedua orang tua Anggun pun berada dalam kondisi yang sama, tercekik oleh rasa penyesalan dan perasaan bersalah yang seolah-olah mencabik ketenangan mereka setiap saat. Apalagi kini semua orang sudah tahu, Anggun adalah istri kedua Arsyad, dan Anggun yang mendorong Arsyad hingga kecelakaan.


Cibiran demi Cibiran mereka terima dari orang-orang di sekitar mereka, bahkan mereka menganggap Anggun adalah maut, yang membahayakan nyawa Arsyad dan merenggut nyawa ibunya.


Hidup Anggun semakin tercekik, ia tak pernah lagi berani keluar rumah, ia hanya terus mengurung diri dalam kamarnya, jika pun keluar, hanya ke rumah sakit untuk menjenguk Arsyad.


Sementara Bu Husna tak pernah lagi bisa tidur nyenyak setelah kematian Ummi Ridha. Hampir setiap malam ia memimpikan sahabatnya itu, seolah ia ingin menagih sesuatu darinya.


"Mau kemana?" Tanya pak Arif yang melihat istrinya beranjak dari tempat duduknya.


"Menemui orang tua Aira dan memberi tahu mereka apa yang sebenarnya terjadi." Bu Husna berkata sembari menyambar kunci mobilnya.


"Nanti apa kata mereka? Anggun pasti akan terkena masalah lagi kalau sampai mereka tahu itu."


"Mau bagaimana lagi, Mas? Sudah banyak yang terjadi karena Anggun!" Seru Bu Husna lantang, ia sudah benar-benar stres dengan keadaan yang ada, apalagi setiap keluar rumah, ia selalu mendengar cibiran orang tentang keluarganya.


Suara bu Husna yang lantang itu terdengar hingga ke kamar Anggun, menarik perhatian Anggun dan ia pun turun untuk melihat apa yang terjadi.


Pak Arif memeluk istrinya itu, mencoba menenangkannya, namun bu Husna masih menangis sesegukan.


Bu Husna dan Ummi Ridha sudah berteman sejak lama, mereka saling menyayangi dan saling menghormati. Dan tak pernah ia sangka jika kematian sahabatnya itu akan di sebabkan oleh Anggun, putri yang sangat ia sayangi.


Anggun yang mendengar apa yang di katakan ibunya itu hanya bisa menangis, bukan hanya ibunya, ia pun bisa gila dengan semua penyesalan dan rasa bersalah yang mengoyak ketenangan batinnya.


"Maa..." lirih Anggun sembari menuruni tangga.


Pak Arif dan Bu Husna langsung menoleh. "Maafin aku..." suara Anggun bergetar pilu.


Bu Husna langsung menghampiri Anggun dan memeluknya dengan erat. "Kita beri tahu mereka, Anggun. kita kasih tahu dan minta Maaf lah pada mereka."


"Tapi aku takut, Ma."


"Mau sampai kapan kita hidup dalam ketakutan seperti ini?"


***


"Nggak ada yang ketinggalan, kan?" Tanya Jibril pada Aira dan Aira menggeleng.


Mereka sudah satu minggu di islamabad dan kini mereka harus kembali ke Lahore.


"Silakan, yang mulia ratu...." Javeed membuka pintu untuk Aira dan itu mengingatkan Aira pada Arsyad.


"Silakan yang mulia ratu..."


"Terima kasih yang mulia raja...."


Tanpa sadar Aira tersenyum saat mengingat masa itu, masih penuh cinta, penuh warna, yang takkan pernah bisa Aira lupakan.


"Terima kasih," kata Aira yang membuat kedua mata Javeed langsung berbinar, karena ini pertama kalinya Aira mengucapkan terima kasih dengan begitu lembut.


"Sama-sama," jawab Javeed girang.


"Hem, waktu berjalan begitu cepat ya," ucap Arkan sembari memposting hasil rekamannya selama berada di islamabad ke media sosialnya.


"Oh ya, Aira. Aku posting video Via di media sosialku," cicit Arkan kemudian yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Aira.


"Hapus," pinta Aira.


"Cuma 30 detik, lihat neh..." Arkan memperlihatkan videa Aira dan banyak sekali yang menyukai video itu. "Jangan ya, Sayang banget kalau di hapus. Aku yakin aman kok," bujuk Arkan.


"Ya sudah, tapi jangan kasih tahu siapa yang ada di video itu," kata Aira yang membuat Arkan kegirangan.


"Eh, tapi kok ada yang tahu Via? Dia nanyain neh," kata Arkan.


"Siapa?"


"Fahmi."