Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #45 - Akhir Dari Segalanya?


"Kamu nggak mau pulang? Suami kamu sudah mencampakkanmu, Anggun!" geram pak Arif dengan emosi yang membuncah.


Anggun menatap Ummi Ridha seolah memelas, ia sungguh tidak sanggup jika harus berpisah dengan Arsyad dalam keadaan seperti ini.


"Aku akan tetap di sini sampai melahirkan, Pa," jawab Anggun lirih dengan wajah yang tertunduk dalam.


"Kamu gila?" Pekik Bu Husna.


"Arsyad memang sudah menjatuhkan talak padaku, tapi aku masih kewajiban dia sampai aku melahirkan, aku akan tetap di sini sampai aku melahirkan."


Bu Husna kini menatap Ummi Ridha yang sejak tadi hanya diam saja. "Bagaiamana ini, Ri?" Tanyanya.


"Kalau Anggun memang tetap mau tinggal disini, itu nggak apa-apa. Lagi pula bayi yang dia kandung itu cucuku, aku juga ingin menjaganya. Dan Anggun benar, selama masa kehamilannya, dia masih tanggung jawab Arsyad."


"Baik, kami akan mengizinkan Anggun tinggal disini. Tapi setelah melahirkan, kamu harus pulang, Anggun! Jangan mengemis cinta pria yang telah mencampakkanmu setelah kamu di manfaatkan."


Anggun hanya bisa mengangguk sembari mengelap air matanya yang masih setia membasahi pipinya.


Orang tua Anggun terpaksa pulang tanpa membawa Anggun, padahal tadi mereka datang dengan wajah yang gembira dengan harapan yang luar biasa indah untuk putri mereka, namun sekarang merek pulang dengan hati dan harga diri yang di cabik-cabik tak tersisa.


Ummi Ridha meminta Anggun beristirahat di kamarnya, ia sendiri juga kembali ke kamarnya untuk menenangkan diri, atau setidaknya untuk mengatur napasnya yang sejak tadi terasa begitu sesak.


Ummi Ridha menangis di kamarnya mengingat apa yang telah Arsyad lakukan malam ini. Ia menatap foto putranya yang terpajang di kamarnya.


"Kenapa kamu banyak berubah, Arsyad? Hanya karena seorang Zeda Humaira? Aku yang salah karena aku memilihkan dia untukmu."


Sementara di luar, Anggun masih duduk merenung di sofa, tatapannya kosong, dadanya terasa sesak dan perih. Dunianya benar-benar hancur saat ini.


"Status kami suami istri, kami tinggal satu rumah tapi tidak satu kamar, apalagi satuย  ranjang."


"Sebagai istri, dia memasak untukku, tapi hanya sesekali aku mau mencicipi masakannya."


"Dia selalu tersenyum padaku, tapi hanya sesekali aku mau menatapnya, itu pun karena aku merasa kasihan."


"Aku kehilangan Aira-ku."


"AHHHH..." Anggun berteriak histeris saat ucapan Arsyad terus terngiang dalam benaknya. "Kenapa hanya dia dan dia? Apa kurangnya aku dari dia? Kenapa kamu menjadi buta, tuli dan tak berperasaan hanya karena dia?"


Kecewa, amarah, benci, sakit, kini perasaan itu bercampur menjadi satu menguasai hatinya.


Anggun terus menangis sendirian, sampai ia merasa lelah dan letih, bahkan air matanya seolah sudah kering.


Merasa lelah dengan perasaannya sendiri, Anggun hendak kembali ke kamarnya namun ia melihat ponsel Arsyad yang menyala di atas meja.


Anggun mengambil ponsel baru Arsyad yang tak di kunci itu, Anggun melihat ada banyak sekali panggilan dari Aira dan juga pesan masuk. Anggun membuka pesan itu dan kedua matanya langsung melotot terkejut, napasnya tercekat dan seluruh tubuhnya langsung lemas.


...----------------...


"Aira, ini sudah malam, Nak. Kamu nggak tidur?" Tanya Ummi Firda karena Aira justru nonton televisi, padahal biasanya jam segini ia sudah pergi tidur.


"Aku nggak bisa tidur, Ummi. Nggak tahu kenapa hatiku nggak tenang," jawab Aira sembari mematikan televisinya.


"Mungkin kamu terlalu memikirkan Arsyad, apa dia belum menjawab pesanmu?" Aira hanya bisa menggeleng lemah.


"Ya sudah, besok kita suruh Abi menemui Arsyad secara langsung. Atau kamu mau ke Jakarta lagi dan menemui Arsyad secara langsung?"


"Aku rasa itu lebih baik, besok pagi-pagi aku..." ucapan Aira terpotong saat melihat ponselnya menyala dan ada notif pesan masuk. Dengan cepat Aira membuka pesan itu dengan senyum yang merekeh, ia tak sabar membaca pesan Arsyad setelah ia memberikan kabar kehamilannya.


Namun, Aira tercengang saat membaca dari nomor Arsyad itu.


Aira langsung merasa lemas bahkan ponselnya jatuh dari tangannya, Ummi Firda langsung menangkap tubuh Aira yang hampir terjatuh.


" Jibril.... " Ummi Firda berteriak panik saat Aira tiba-tiba menutup matanya dan seluruh tubuhnya lemas bagai tak begitu tak bertulang. "JIBRIL....!" ia kembali berteriak dan tak lama kemudian yang di panggil pun datang.


"Aira..." pekik Jibril yang melihat Aira sudah tak sadarkan diri di pangkuan sang ibu. Jibril langsung membawa Aira ke kamarnya dan menidurkannya di ranjang.


"Aira..."


"Dek...."


"Humaira....!" Jibril menepuk pipi Aira namun adiknya itu tetap tak merespon sedikitpun.


Via yang tertidur di ranjang yang sama pun akhirnya terbangun setelah mendengar suara panik Jibril.


"Om, Ummi kenapa?" Tanya Via yang bahkan sudah menangis.


Sementara di bawah, Ummi Firda pun tercengang membaca pesan yang Aira dapat. Bahkan ia seolah kesulitan bernapas, bagaimana bisa Arsyad tega melakukan ini pada Aira?


Ummi Firda segera naik ke kamar Aira dan ia melihat Via yang sudah menangis sementara Jibril masih berusaha menyadarkan Aira.


"Ummi, panggil Dokter!" Teriak Jibril panik.


Ummi Firda pun segera menghubungi Dokter dari ponsel Aira, memintanya datang saat ini juga.


"Ya Allah, Dek. Kamu kenapa?" Jibril menggumam cemas, ia memegang tangan Aira yang terasa begitu dingin. "Ummi! Apa yang terjadi? Kenapa Aira pingsan? Tadi dia sehat!"


Tanpa menjawab, Ummi Firda memberikan ponsel Aira pada Jibril. Sejenak Jibril menatap sang ibu dengan bingung, namun kemudian ia menerima ponsel Aira. "Baca pesan yang di kirim Arsyad," lirih Ummi dengan suara tercekat.


Jibril membaca pesan itu dan seketika darahnya terasa mendidih, tatapannya yang tadi cemas kini berubah berapi-api. Ia menggenggam ponsel Aira dengan sangat erat, seolah ingin meremukkannya.


"Apa karena ini Aira pingsan?" ia menggeram berat.


"Dia pasti shock mendapat jawaban seperti itu bahkan setelah Aira mengirimkan foto USG kehamilannya."


"Laki-laki kurang ajar!" Geram Jibril.


Sementara Via yang tak mengerti apapun hanya bisa menangisi sang ibu yang masih menutup mata dan wajahnya terlihat begitu pucat.


"Nek, Ummi kenapa?" tanya Via.


"Nggak apa-apa, Sayang," lirih Ummi Firda setengah berbisik. Ia menatap sang putri yang terus di lukai lagi dan lagi oleh orang yang ia sayangi. Ia tak tahu kenapa Aira harus mendapatkan semua luka itu, kenapa?


Sementara Jibril, ia berusaha menghubungi Arsyad namun tak bisa. "Dia memblokir kontak Aira, Ummi," geram Jibril yang semakin marah, bahkan tanpa sadar ia melempar ponsel Aira dengan keras hingga ponsel itu rusak.


Ummi Firda terkesiap melihat kemaraha Jibril, Via pun semakin menjadi tangis nya melihat kemarahan sang Om.


"Jibril..." Ummi Firda mencoba menenangkan putranya itu.


"Mulai sekarang, tidak boleh ada satu pun di keluarga kita yang menghubungi pria tidak bertanggung jawab seperti itu! Kita sudah tidak punya hubungan apapun dengan pria itu!"


**TBC...


...----------------...


JANGAN LUPA MAMPIR DI SEBELAH. NOVEL ABSURD YANG BISA MENGHIBUR SETELAH KETEGANGAN AIRA. ๐Ÿ˜˜๐Ÿ™**