Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #64 - Petunjuk


Setelah melakukan semua pekerjaan rumah, Hulya memilih beristirahat sejenak sembari berselancar ria di media sosialnya. Dan keningnya berkerut dalam saat ia melihat sebuah video dari sebuah akun, Hulya langsung melihat video itu baik-baik dan Hulya menganga saat menyadari siapa yang ada dalam Video itu.


"Via..." Hulya menggumam tak percaya, ia pun memeriksa akun yang memposting video itu. "Arkan...." Hulya memutar ingatannya akan seseorang bernama Arkan, nama itu tidak asing baginya dan kedua mata Hulya terbuka lebar saat mengingat Arkan adalah sahabat Jibril.


Hulya pernah beberapa kali bertemu dengan Arkan dan kedua teman Jibril yang lainnya.


"Mereka dimana?" Hulya segera mencari informasi dari akun Arkan akan keberadaan mereka namun Hulya masih tidak bisa menebak dimana video itu di ambil. Namun satu yang pasti, video itu bukan di Indonesia.


Sayangnya, Hulya hanya menemukan satu video Via di akun Arkan, sisanya ada banyak video dan foto-foto pemandangan maupun sekumpulan orang dari berbagai tempat.


"Apa Via ikut Jibril dan Arkan? Kalau Via ikut, berarti Aira juga ikut." Hulya kembali menggumam lirih, ia pun langsung menghubungi Fahmi supaya membantunya mencari keberadaan Via dan Aira saat ini.


Di sisi lain, Ummi Ridha mencoba menghubungi Ummi Firda dengan perasaan was-was, ia menunggu jawaban dari seberang telfon dengan harap-harap cemas. Tak berselang lama, panggilannya terjawab.


"Assalamualaikum...." sapa Ummi Ridha dengan perasaan yang bercampur aduk.


"Waalaikum salam, ada apa ya?" Tanya Ummi Firda dengan begitu dingin, membuat hati Ridha langsung terasa mencolos.


"Mbak, aku ... aku mau minta maaf."


"Sepertinya kita belum bertengkar, minta maaf untuk apa?" Ummi Ridha menghela napas berat mendengar ucapan mantan besannya itu yang tampaknya masih sangat kecewa padanya.


"Maaf atas apa yang sudah aku lakukan pada Aira, aku benar-benar minta maaf, Mbak."


"Kamu minta maaf supaya Aira menjenguk Arsyad yang lagi sakit?" Ummi Ridha tak bisa menjawab karena tebakan Ummi Firda sangat benar. "Kalau begitu maaf ya, Aira nggak bisa kesana sekarang, dia sedang sibuk, banyak urusan. Tapi tenang aja, Aira pasti akan mendo'akan mantan suaminya, setidaknya sebagai saudara dalam agama. Dan Aira tidak akan pernah lagi datang pada mantan suaminya. Assalamualaikum."


"Mbak..."


"Halo...."


"Halo...."


Ummi Ridha langsung merasa lemas mendengar apa yang di katakan Ummi Firda, ia tidak tahu bagaimana lagi supaya bisa menghubungi Aira, meminta maaf padanya dan memintanya kembali pada Arsyad karena Arsyad sungguh membutuhkannya saat ini.


Ummi Ridha menangis sendirian, di atas ranjang rumah sakit yang menjadi tempatnya beristirahat beberapa hari ini. Semakin hari Ummi Ridha merasakan keadaannya semakin lemah, semakin memburuk.


***


"Terus? Kamu mau memenuhi permintaan Ridha? Kamu mau membantu Arsyad mendapatkan Aira kembali?" Tanya bu Husna setelah Anggun menceritakan apa yang di minta Ummi Ridha.


"Aku nggak akan sanggup melakukan itu, Ma. Aku nggak bisa, kalau memang Aira mau kembali pada Arsyad, aku nggak akan melarang. Tapi aku nggak akan mencari dia dan mengembalikannya pada Arsyad." Anggun berkata penuh penekanan dengan perasaan yang bergemuruh.


Bu Husna menatap Anggun lekat-lekat, ia tahu anaknya itu menyembunyikan sesuatu darinya, sesuatu yang membuat Arsyad datang melabraknya di larut malam.


"Anggun! Jujur sama Mama! Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dari kami? Kenapa Arsyad marah-marah malam itu? Dia ingin mengatakan sesuatu tapi kamu selalu menghalanginya." Anggun menegang mendengar pertanyaan sang ibu, sampai detik ini, hanya dia dan Arsyad yang tahu bahwa Aira hamil. Hanya ia dan Arsyad yang tahu, bahwa Anggun memanipulasi pesan Arsyad.


"Anggun! Kamu harus jujur sama kami, supaya kami bisa membantu kalau kamu lagi dalam masalah." tekan bu Husna yang membuat Anggun semakin merasa terdesak. "Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa Arsyad marah? Apa yang sudah kamu lakukan?"


"Sebenarnya...." Anggun mencoba mengatur napasnya yang tiba-tiba terasa berat. "Sebenarnya, A-Aira...."


"Aira kenapa?" desak Bu Husna.


"Aira hamil, Ma."


....


Fahmi menonton video yang di kirimkan oleh Hulya, ia memutar video itu beberapa kali untuk mengetahui dimana Video itu di ambil.


Namun video itu hanya merekam Via yang sedang berpose di sebuah taman dan durasi video itu hanya setengah menit.


"Ya Allah, aku mohon bantu aku supaya aku bisa memberi tahu Aira keadaan Arsyad." Fahmi menggumam tak sabar, ia juga memeriksa akun media sosial Arkan dan Fahmi melihat ada beberapa teman Arkan yang menandai Arkan dalam postingannya. Dengan sabar dan teliti, Fahmi memeriksa satu persatu teman Arkan dan kini ia memeriksa akun milik Rehan. Dan dalam postingan Rehan, ada banyak sekali foto dan video tentang aktivitasnya setiap hari.


"Mereka di Pakistan...."


***


Setelah mendapatkan telfon dari mantan besannya, mood Ummi Firda menjadi kacau. Di satu sisi ia penasaran dengan keadaan Arsyad, dan hatinya tak bisa ia bohongi, ia cemas akan keadaan mantan menantunya itu. Namun, di sisi lain ia tak bisa melupakan tangis Aira karena ulah mereka semua.


"Sudah, jangan di fikirkan," kata Abi Gabriel yang membuyarkan lamunan Ummi Firda.


"Kenapa sih, Bang. Orang tuh gampang banget nyakitin, gampang banget minta maaf, sementara untuk sembuh dari rasa sakit dan untuk memaafkan itu susahnya setengah mati." Ummi Firda menggerutu kesal.


"Namanya juga manusia, punya nafsu, Sayang. Punya sifat egois, serakah, merasa paling benar."


"Bang, aku sebenarnya nggak tega sama Aira. Dia hamil tanpa suaminya, saat melahirkan nanti juga ayah dari bayinya tidak akan mengadzaninya. Aira pasti sedih."


"Itu lebih baik, dari pada punya suami tapi pengkhianat? Kasihan cucuku, harus punya ayah jahatnya mengalahkan binatang. Meninggalkan para istri yang hamil, kenapa? Apa akal sehat dia sudah rusak?"


***


^^^Islamabad, Pakistan. ^^^


"Namanya Fatimah Jinnah Park, meskipun taman ini nggak sebesar dan semegah taman Shalimar, tapi akan sangat di sayangkan jika kalian melewatkan taman ini, cuaca dan pemandangannya luar biasa, apalagi saat sore hari seperti sekarang." Javeed bercerita sembari jalan santai di taman indah yang begitu asri, susananya begitu menyenangkan, cuaca sejuk dan taman ini juga sangat bersih, terlihat sekali bahwa tempat ini sangat di jaga ke asriannya. Dan dari tempat ini, mereka bisa menikmati pemandangan pegunungan hijau yang memanjakan mata.


"Ini benar-benar indah," ucap Aira takjub. Ia merentangkan kedua tangannya, menutup mata dan menikmati cuaca yang sejuk itu.


Diam-diam Javeed mengambil gambar Aira, sementara Arkan tentu tak ada henti nya merekam dan mengambil gambar disana. Arkan juga merekam Aira, Via juga Jibril.


"Asal jangan di posting ke media sosialmu," kata Jibril memperingatkan ketika Arkan kini merekam Aira dan Via yang sedang menikmati pemandangan taman itu.


"nggak, aku cuma posting video Via, itu pun durasinya cuma 30 detik," ujar Arkan.


"Sudah izin Aira?" Tanya Jibril.


"Belum, dia pasti nggak akan ngizinin. Tapi aku janji nanti akan minta izin."


**TBC


FATIMAH JINNAH PARK, ISLAMABAD, PAKISTAN**..