
"Cinta ninggalin gue, Lang." Rangga terduduk lemas di sofa sembari menyusut sudut matanya. Dia merasa menyesal tetapi, sudah terlambat. Cinta sudah pergi dan itu karena kecerobohannya sendiri.
Gilang yang merasa iba lalu mendekatinya dan menepuk pundaknya, "Sabar, apa perlu gue temenin ke rumah mertua loe?" tawar Gilang.
"Aarrrggghhh, brengsek!" umpat Rangga karena dia mencoba menghubungi nomor Cinta berkali-kali tetapi, selalu ditolak. Rangga mengusap wajahnya dengan kasar. Tanpa menjawab ucapan Gilang, dia langsung bangkit dari duduknya untuk segera keluar dari apartemen miliknya.
Namun, langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Seno di depan pintu. Seno yang sedang memegang gelas minuman di tangannya menatap Rangga dengan menyunggingkan sudut bibirnya.
"Bagaimana Tuan Rangga, apa menyenangkan ditinggalkan seorang istri?" ucapnya dengan senyum mengejek.
"Kurang ajar! Ini semua pasti ulahmu." Dengan geram Rangga mendekati Seno dan mencengkram kerah kemeja Seno. Rahangnya mengeras, ditatapnya Seno dengan kilatan api yang menyala di matanya.
"Hahaha, jangan mengkambing hitamkan orang lain untuk menutupi kesalahanmu, Tuan." Seno kembali mencibir. Tangannya meraih tangan Rangga untuk menghempaskannya secara kasar.
"Tanganmu mengotori kemeja mahalku, Tuan." Dia lalu mengibas-ngibaskan tangannya pada kerah kemejanya, membersihkan dari bekas cengkraman tangan Rangga.
"Aku hanya membantu istrimu. Dia harus sadar kalau dia wanita yang istimewa juga hebat, tidak pantas jika mendapat perlakuan seenaknya dari pria brengsek seperti Anda. Harusnya Anda belajar dulu kalau ingin menjadi baji ngan agar tidak salah karena sudah menyia-nyiakan berlian seperti Cinta." Seno menggoyangkan gelas minuman di tangannya lalu menyesap isinya.
"Aku kagum pada istrimu. Dia masih bisa tenang meski melihat suaminya sedang bergelut dengan wanita lain di depan matanya sendiri yang kalau istri orang lain mungkin sudah turun dan menghampiri suaminya untuk perang." Seno kembali menyesap minumannya.
"Hm, dia sangat berharga untuk menjadi milik pria pengecut sepertimu." Lagi-lagi Seno tersenyum sinis sebelum dia masuk ke dalam apartemen miliknya. Meninggalkan Rangga yang hanya bisa mematung mendengar sindiran Seno.
Bodoh? Iya!
Brengsek? Iya!
Bajingan? Iya!
Pengecut? Iya!
Semua yang dikatakan Seno tentang dirinya memang benar. Dia bodoh, dia brengsek, dia bajingan, dan dia pengecut karena tidak berani berkata jujur pada Cinta. Cinta pantas marah, Cinta pantas kecewa, dan Cinta pantas membencinya. Gadis itu sudah mengingatkannya berkali-kali tetapi, dia selalu mengabaikannya. Sekarang Cinta sudah pergi meninggalkannya. Dia sudah kehilangan Cinta. Harusnya dia sadar Cinta sangat berharga. Harusnya dia bisa menjaga Cinta dengan baik.
"Loe mau gue antar ke rumah mertua loe?" Ucapan Gilang mengembalikan kesadarannya.
"Pikiran loe lagi kalut gue hanya takut loe gak fokus di jalan ditambah ini sudah larut malam."
Rangga tampak menghela napas berat berkali-kali sampai akhirnya dengan langkah gontai dia meninggalkan Gilang tanpa berkata apa pun.
...****************...
Hari hampir subuh saat mobil Rangga memasuki kediaman Reyhan. Dia memejamkan mata, menghela napas berulang kali untuk meredam dentuman jantungnya yang semakin sulit dikendalikan. Berulang kali dia mencoba berkomunikasi dengan dentuman jantungnya agar berdetak secara wajar tetapi, tampaknya kini jantungnya sedang berkhianat darinya.
Namun, ada kelegaan dalam hatinya setelah mendengar dari satpam yang berjaga di depan gerbang kalau satpam itu memang melihat Cinta datang. Itu artinya Cinta memang pulang ke rumah Reyhan.
Rangga sudah siap jika Reyhan memarahinya ataupun menghajarnya sekalipun. Dia sadar, dia memang pantas menerima semua itu. Namun, yang dia takutkan bukan itu, melainkan Cinta. Dia takut Cinta tidak mau memaafkannya dan menerimanya kembali.
Derap langkah kaki Rangga masih bisa terdengar saat dia melewati ruang tengah yang gelap, memecah kesunyian di ruangan itu meski dia sudah berjalan dengan sangat pelan. Para pelayan belum ada yang bangun dan Rangga memang melarang pengawal untuk membangunkan mereka karena hari masih terlalu pagi dan dia tidak ingin ada keributan yang bisa membangunkan Reyhan. Ya, dia akan menemui Reyhan tetapi, tidak di waktu begini.
Setelah menaiki tangga, kini dia sampai di kamar Cinta. Kamar yang letaknya bersebelahan dengan kamar Reyhan dan Diana. Dia memutar knop pintu tetapi, pintunya dikunci dari dalam artinya Cinta memang benar ada di dalam kamar itu.
"Cinta," panggilnya pelan bahkan menyerupai sebuah bisikan karena nyaris tidak terdengar.
"Cinta," panggilnya lagi sembari mengetuk pintunya pelan. Namun, tidak ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Mungkin Cinta sedang tertidur pulas atau sedang pura-pura tidak mendengar kedatangannya. Dia bertambah gusar lalu mengacak-acak rambutnya frustasi.
Rangga meraih ponsel dari saku jasnya, berniat menghubungi nomor Cinta.
"Sial!" umpatnya. Ponselnya mati. Dia baru ingat tidak sempat mengisi baterai ponselnya. Tadi dia cuma sempat mengisinya di aparteman Agnes dan itu hanya beberapa menit untuk sekedar bisa mengaktifkannya saja.
Di tengah kegelisahan yang melandanya, tiba-tiba tanpa dia duga pintu kamar Cinta terbuka. Matanya berbinar, senyumnya melebar begitu melihat Cinta muncul dari balik pintu.
...****************...