Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Lost You part 2


"Rangga, tunggu! Kamu mau kemana?" teriak Laura pada Rangga yang sudah duduk di kursi kemudi.


"Aku harus ke bandara Bu, aku harus cari Cinta." Rangga sudah memutar kunci mobil dan bersiap melajukan mobilnya. Namun, Laura memegang tangan Rangga. Dia yang sudah berdiri di luar pintu kemudi, berusaha untuk menghentikan niat putranya.


"Tidak Sayang, kamu masih sakit. Liat mukamu masih pucat, bahaya kalau kamu nyetir sekarang. Tunggulah, sebentar lagi ayahmu pulang."


Laura sangat khawatir, Rangga baru saja pulang dari rumah sakit dan itu juga karena Rangga yang ngotot minta pulang. Mata Rangga masih sayu, wajahnya masih pucat, dan tenaganya belum sepenuhnya pulih. Bisa bahaya kalau Rangga menyetir sendiri dalam kondisi yang belum stabil seperti saat ini.


"Tidak Bu, aku akan terlambat kalau harus menunggu ayah." Rangga bersikeras padahal dia merasa kepalanya masih sangat berat dan pandangannya juga berkunang.


"Maafkan aku Bu," pamit Rangga yang langsung melajukan mobilnya. Meninggalkan Laura yang hanya bisa berdiri memandang kepergiannya dengan perasaan cemas tidak karuan.


Bukan hanya karena Rangga masih dalam kondisi belum pulih tetapi, karena ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya yang Laura juga tidak bisa jelaskan itu apa. Yang jelas naluri keibuannya berkata seperti akan ada sesuatu yang buruk terjadi pada putranya.


Laura bergegas masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil ponsel dan menghubungi Jonathan.


"...."


"Halo Jo, Rangga ...." Air mata yang sudah mengalir deras membuat Laura tidak sanggup melanjutkan kembali ucapannya. Tenggorokannya seakan tercekat. Entah kenapa bayangan kecelakaan yang menimpa Rangga puluhan tahun lalu melintas kembali di otaknya. Dia sungguh semakin cemas tidak jelas dan menjadi panik.


"Rangga menyusul Cinta ke bandara. Aku sangat cemas. Kondisinya masih belum pulih benar dan dia memaksa menyetir sendiri. Kamu cepat susul dia Jo, perasaanku tidak enak." Laura melanjutkan ucapannya di sela-sela isak tangisnya.


...****************...


"Selamat siang, ini adalah pengumuman untuk para penumpang dengan nomor penerbangan XXX tujuan kota ...."


Tangis Diana kembali pecah saat operator mengumumkan pre-boarding untuk nomor penerbangan Cinta. Dia langsung memeluk erat putrinya.


"Kamu baik-baik di sana ya Sayang, jaga kesehatan, jangan lupa selalu kabari ayah dan ibu," isak Diana di bahu Cinta.


"Tentu saja Bu, Ibu dan ayah juga jaga kesehatan." Cinta juga tak kalah sesegukan. Kemudian, dia melepaskan pelukan Diana dan beralih memeluk Reyhan. Sementara, Diana beralih memeluk Soraya yang berdiri di sebelah Cinta.


"Hah, ayah akan sangat merindukanmu, Sayang." Reyhan memeluk erat Cinta dan terlihat mengecup puncak kepala putrinya itu berkali-kali.



"Cinta juga Yah," ucap Cinta yang tetap berusaha tersenyum walaupun wajahnya sudah berlinang air mata.


Reyhan melepas pelukannya lalu memegang kedua lengan Cinta.


"Kabari ayah apa pun itu, hm!" perintah Reyhan yang dijawab anggukan oleh Cinta. Reyhan lalu mengecup kening Cinta.


"Jaga baik-baik cucu ayah. Kabari ayah dan ibu begitu kamu akan melahirkannya. Kami ingin menemanimu melewati hari itu."


"Baik Ayah, tentu saja." Cinta kembali memeluk Reyhan dan menangis sejadinya di bahu ayahnya itu.


"Selamat siang, ini adalah panggilan terakhir untuk penumpang dengan nomor penerbangan ...."


"Baiklah Ayah, Ibu, Cinta harus berangkat," ucap Cinta sembari mengecup pipi Diana dan Reyhan bergantian. Dia lalu menyeret kopernya menuju terminal bandara sembari membalas lambaian tangan Diana dan Reyhan.



Sementara itu,


Dalam mobil yang melaju kencang di jalan raya, Rangga tengah memasang earphone dan mencoba menelepon Cinta berkali-kali meski tidak diangkat sekalipun, sedangkan dia sendiri mengabaikan panggilan dari Laura dan Jonathan. Dia tahu orangtuanya sedang mengkhawatirkan dirinya tetapi, dia lebih khawatir jika dirinya terlambat sampai bandara.



Rangga memukul kemudinya dengan kesal saat kendaraan di depannya berhenti karena lampu lalu lintas yang berwarna merah.


"Sial!" umpatnya. Dia melirik alroji di tangannya dan menjadi semakin gelisah saat jam menunjukkan waktu keberangkatan Cinta yang semakin dekat.


Dengan kesal Rangga menekan klakson mobilnya berkali-kali saat mobil di depannya belum bergerak meski lampu sudah berwarna hijau.


"Brengsek! Buruan!" teriaknya meski tahu pengemudi di depannya tidak akan bisa mendengarnya. Dia memijit pangkal hidungnya. Kepalanya terasa berat dan pusing, pandangannya juga mulai berkunang. Namun, dia tidak mau menyerah. Sekuat tenaga Rangga melawan sakitnya untuk tetap melajukan mobilnya menuju bandara.


Kini Rangga kembali bertemu lampu lalu lintas. Lampu lalu lintas di depannya terlihat sudah berubah dari warna hijau menjadi warna kuning pertanda akan berubah lagi menjadi warna merah. Namun, bukannya menurunkan kecepatan, Rangga malah menginjak gas untuk menambah kecepatan mobilnya.


Tin ... tin ... tin ...


Suara klakson mobil dari arah yang berlawanan tidak dia hiraukan. Rangga tetap melajukan mobilnya, hingga semua terjadi begitu cepat hanya dalam sepersekian detik ....



Brraakkkkk ....


"Cinta!"


...***************...


"Kak Rangga!"


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Soraya pada Cinta saat menyadari Cinta yang duduk di sebelahnya tersentak dari tidurnya.


"Ah, tidak kenapa Oma, aku hanya merasa anakku seperti menendang perutku tadi."


"Oh ya? Apa dia sudah mulai bisa menendang sekarang?" Soraya terkekeh senang sembari mengusap perut Cinta yang sudah mulai membuncit.


"Apa kamu sudah bosan, hah? Sabar ya Sayang, sejam lagi kita akan sampai di rumah baru," gumam Soraya yang berbicara dengan anak dalam perut Cinta.


Sementara Cinta mengalihkan pandangannya ke luar jendela pesawat, pandangannya menerawang jauh menatap awan di langit dengan perasaan aneh yang tiba-tiba menghantuinya.


Cinta berdiri di sebuah taman bersama Rangga dengan berpegangan tangan. Namun, tanpa mereka duga sebuah awan pekat dan angin kencang tiba-tiba datang, dan menyeret tubuh Rangga menjauh dari Cinta. Pegangan tangan mereka terlepas. Awan pekat dan angin kencang itu lalu menggulung tubuh Rangga. Membawa tubuh Rangga semakin menjauh darinya, sampai akhirnya tubuh Rangga tidak terlihat lagi dan lenyap dari pandangan Cinta.


Apa arti mimpiku barusan? batin Cinta.


...****************...


Happy monday guys waktunya bagi vote🥳🥳🥳


Ayo2 yang penasaran? Yang pingin tau kelanjutannya? Mau aku up lagi gak nih? buruan bagi vote nya🤭🤭🤭 (ngarep banget deh ni othor🤣🤣)


Kalau gax bisa bagi vote, bagi bunga atau kopi juga boleh😁 (aduh makin ngarep yah🙈)


Atau like aja (hm disukuri aja deh🤗)


hehehe apapun dukungan kalian big thanks deh pokoknya buat kalian yg udah setia dukung Cinta sm Rangga sampai sini. Love u guys😘😘😘