
Bali, 08:15 AM
Seorang gadis tengah menyisir rambut panjangnya di depan meja rias di dalam kamarnya. Sesekali dia terlihat tersenyum melihat pantulan wajahnya di depan cermin. Kemudian, dia menyambar mantel berwarna coklat miliknya yang tergantung di lemari pakaian juga tas ranselnya.
Gadis itu lalu keluar kamarnya, menuruni tangga untuk menuju ruang makan.
"Pagi," sapanya pada wanita paruh baya yang duduk di meja makan yang sedang menyuapi seorang bocah perempuan sekitar umur 4 tahunan.
"Pagi Cinta," jawab wanita paruh baya itu yang tersenyum pada gadis yang menyapanya tadi.
"Pagi Sunny," sapa Cinta pada bocah perempuan yang tengah mengunyah makanannya sembari memainkan boneka barbie di tangan mungilnya.
"Pagi Bunda," jawab bocah perempuan itu dengan suara cadelnya.
"Kamu jadi menjemput tuan Davin di bandara?"
"Jadi Oma, ini perintah dari ayah dan juga permintaan tuan Davin sendiri. Aku tidak mungkin berani menolaknya." Cinta menjawab sembari mengambil sepotong roti yang sudah diolesi selai yang terletak di atas meja makan.
"Hm, tuan Davin banyak membantu kita selama tinggal di sini. Cepatlah berangkat sebelum pesawat tuan Davin lebih dulu tiba di bandara."
"Baiklah Oma, aku berangkat sekarang. Aku titip Sunny ya Oma," ucap Cinta yang dijawab anggukan oleh omanya.
"Sunny, Bunda berangkat dulu, kamu jangan nakal ya sama oma." Bocah kecil itu mengangguk. Cinta lalu mencium kedua pipi putrinya sebelum beranjak dari ruang makan.
Cinta Yasmila Wijaya, gadis cantik yang merupakan putri tunggal dari Reyhan Aditya Wijaya, pemilik Wijaya Group. Hari ini dia akan menuju bandara untuk menjemput tuan Davin, sahabat Reyhan yang baru pulang dari liburannya bersama Reyhan, ayahnya.
Dengan mengendarai mobilnya, Cinta berangkat menuju bandara yang terletak tidak jauh dari villa yang selama ini ditempatinya. Sedikit aneh menurut Cinta, karena orang seperti tuan Davin sampai meminta dirinya untuk menjemput di bandara padahal Davin memiliki puluhan sopir dan ribuan karyawan yang bisa menjemputnya.
Namun, Cinta mengiyakan karena ini adalah perintah dari Reyhan dan juga permintaan Davin, orang yang selama ini mengurus segala kebutuhannya di Bali.
Ya, sudah lima tahun berlalu semenjak Cinta memutuskan meninggalkan kota kelahirannya, juga keluarganya termasuk Rangga, suami yang dicintainya.
Lima tahun ini Cinta menjalani hidup di Bali bersama Soraya, omanya juga putri kecilnya, Miracle Shine. Sunny nama panggilan putrinya yang lahir setelah beberapa bulan mereka tinggal di Bali.
Selama lima tahun ini juga dia hidup tanpa kabar mengenai Rangga. Dia menutup mata dan telinganya dari berbagai cerita apa pun mengenai pria itu, termasuk melarang orang-orang untuk membicarakan Rangga di depannya.
Lima tahun ini dia menjalani hidup dengan menyibukkan diri mengelola salah satu hotel milik Davin yang terletak di daerah Nusa Dua yang tidak jauh dari villa yang ditempatinya. Reyhan khusus menanam saham di hotel itu untuk Cinta dan juga membeli villa yang ditempati Cinta selama tinggal di Bali.
Kini Cinta sudah berada di ruang tunggu terminal kedatangan tamu domestik. Sepertinya dia datang lebih cepat karena belum terlihat siapa pun keluar dari terminal kedatangan tamu domestik. Untuk menghilangkan kebosanan, Cinta meraih ponselnya bermaksud menelepon Sunny tetapi, niatnya dia urungkan karena panggilan video masuk dari Cika.
"Halo Sasa cantik, apa kabar?" sapa Cinta yang tersenyum gemas melihat pipi gembul bocah perempuan dua tahun milik Sasa, putri Cika dengan Gilang.
"Halo tante Cinta, Sasa baik, tante sendiri gimana? Mana kak Sunny tante? Sasa kangen sama kak Sunny," balas Cika yang berbicara seolah dirinya adalah Sasa, putrinya.
"Kak Sunny gak ada di sini, dia lagi di rumah sama eyangnya."
"Lho, memangnya Kak Cinta lagi di mana sekarang?" tanya Cika heran.
"Aku lagi di bandara jemput teman ayah yang kemarin berkunjung ke rumah," jawab Cinta sembari celingukan melihat ke terminal kedatangan, takut jika Davin sudah keluar dari sana.
"Owh." Cika mengangguk, "Kak, ngomong-ngomong kapan kamu kembali ke sini? Ini sudah lima tahun, lagipula kak Rangga sudah tidak ada, kenapa kamu masih harus bersembunyi? Pulanglah Kak, sebentar lagi aniversaryku, kamu harus datang. Ini sebagai ganti karena kamu tidak datang waktu pernikahanku."
Mendengar Cika menyebut nama Rangga juga anniversary, membuat suasana hati Cinta berubah muram. Dia baru menyadari sudah lima tahun dia meninggalkan pria itu tanpa tahu kabar masing-masing. Mereka berpisah bahkan sebelum satu tahun pernikahan. Tidak ada anniversary diantara mereka.
"Kak? Kak Cinta?" Suara Cika membuyarkan lamunan Cinta.
"Eh, iya Cik," jawab Cinta gelagapan.
"Kak Cinta kenapa?"
"Ah, tidak apa-apa. Aku tadi hanya fokus dengerin pengumuman dari operator," bohong Cinta. "Owh ya Cik, sepertinya pintu kedatangan sudah dibuka, aku harus ke sana mencari tuan Davin. Nanti sampai rumah aku telpon lagi ya?" Cinta langsung mematikan panggilan karena tidak mau Cika melihat butiran bening yang mulai menetes di pipinya.
Ya, Cika benar, lima tahun sudah berlalu. Rangga sudah tidak ada bersamanya tetapi, tidak dengan kenangannya.
Pintu terminal kedatangan terlihat sudah terbuka, Cinta segera mengapus sisa air mata di pipinya. Dia memasang wajah tegas dan bangkit untuk mengecek kedatangan Davin.
Namun, langkahnya seketika berhenti saat tanpa sengaja pandangannya tertuju pada pria yang baru keluar dari terminal kedatangan. Pria dengan mantel warna hitam. Dalam sepersekian detik Cinta merasa jantungnya berhenti berdetak saat itu juga.
"Kak Rangga?"