
"bik intan dimana?" tanya wily yang baru saja tiba dirumah mertuanya untuk menjemput istrinya
"om wily!" juna yang melihat wily datang langsung berlari dan berteriak kegirangan. layaknya mendapatkan mainan barunya
"saya masuk dulu bik" wily berpamitan pada pembantu mertuanya
"haiii,, juna jangan lari nanti jatuh!" ucap wily menyamakan tingginya dengan juna dan memeluk anak kecil yang membuatnya menginginkan juna seorang anak dari pernikahannya. meski tak ia sampaikan pada intan
namun diwajah dan matanya terlihat jelas bagaimana perasaannya saat ini
"ini om bawakan es krim, tapi jangan kasih tahu tante intan nanti dihabiskan" ucap wily menyerahkan kotak berisi es krim yang dibelinya sebelum pulang dari kantor
"masuk nak!" pak aji menyambut menantunya dan mengajaknya duduk bersama dengan indra yang sedang menyuapi makan istrinya yang sedang menyidam anak keduanya
"apa kabar pa, intan sama mama dimana?" tanya wily duduk dengan memangku juna
"hai ndra apa kabar?" tanya wily juga yang melihat kemerasaan kakak ipar dan istrinya
"mama ada sedang istirahat ditemani intan, mama sedang kurang enak badan" ucap pak aji jujur
"baik wil, sebentar ya ngurusin bumil dulu" ucap indra dengan sabar
"oke lanjutkan! bisa lihat mama pa? mama sakit apa" ucap wily menanyakan mertuanya yang selalu terlihat sehat
"masuk saja, ayo papa antarkan" pak aji mengajak wily menemui istrinya ke kamar
"ngga apa-apa pa, wily masuk kamar papa?" wily merasa canggung dan kurang sopan masuk kamar mertuanya
"santai saja! ini kan kamar orang tuamu juga" jawab pak aji
"ndra, zahra tinggal bentar ya" pamit wily lalu mengikuti pak aji
indra tak menjawab hanya mengangguk dan terus memperhatikan istrinya
tok...tok
"ma, ada anak mu datang nih" ucap pak aji pada istrinya
saat masuk kekamarnya yang ada intan juga disana, sedang menemani mamanya
"mas? kok ngga bilang udah mau jemput" tanya intan yang kaget suaminya tak memberitahu jika sudah tiba
"iya tadi mas lupa, pulang langsung kesini aja. mama kenapa?" wily menyalami mama herlina yang terlihat lemas
pak aji menggelengkan kepalanya tanda tak boleh mengatakan pada wily apa yang terjadi.
"mama hanya kecapean saja nak, kamu gimana kabarnya?" tanya mama herlina menarik tangan wily agar mendekat dan duduk disofa disamping intan
sedangkan pak aji naik keranjang membantu istrinya yang ingin duduk
"ma, istirahat saja. kami akan segera pulang besok kami kesini lagi" ucap wily yang merasa mama herlina masih butuh istirahat
"mama sudah baikan nak, kalian malam ini menginap disini ya! bisakan?" mama herlina bertanya pada wily
"bisa ma, nanti biar wily telfon mama mengabari jika tak pulang" ucap wily mengiyakan permintaan mertuanya yang tak biasanya
"terima kasih, intan bisa tinggalkan kami dulu" ucap mama herlina meminta intan keluar dan intan menoleh pada wily
wily mengangguk meminta intan agar menuruti keinginan orang tuanya
"mas aku keluar dulu ya, ambilkan minum dulu" ucap intan beralasan sekalian keluar dengan perasaan takut
"iya sayang" jawab wily
intan keluar kamar orang tuanya. mama herlina duduk disofa yang ada dikamarnya dan dibantu oleh suaminya
"wil, mama dan papa ingin bertanya. apa kamu tak keberatan ini tentang rumah tanggamu?" tannya mama herlina
"boleh ma, silahkan!" jawab wily
"pa!" mama herlina meminta suaminya yang mewakilkan
"maaf wil, bagaimana hubunganmu dengan intan. maksud papa apakah kalian sudah menjadi suami istri sesungguhnya?
hati wily bagai disambar petir
"tentu saja wily bahagia pa! tapi sepertinya wily gagal membuat anak papa dan mama bahagia" ucap wily menunduk menahan perasaan yang tak bisa ia jelaskan saat ini
"jujurlah pada hatimu nak, kami tak akan marah jika memang kalian berdua tak merasa bahagia, kami tak akan memaksakan apapun. hanya saja papa lihat kalian tidak seperti sedang melakukan pernikahan" ucap pak aji menegaskan
"wily sangat mencintai intan pa, ma! sungguh wily ingin sekali intan juga merasakan hal yang sama. wily sudah berusaha menjadi seorang suami tapi mungkin bukan wily yang diinginkan intan
jika memang intan bisa bahagia dengan yang lain, maka wily akan melepaskan intan ma, pa" ucap wily membendung tangisnya
hatinya perih mengatakan hal yang memang tak mungkin ia lakukan, demi intan ia akan melakukan apapun bahkan melepaskannya
"maafkan intan nak, kami yang salah mendidiknya. jika memang kalian bisa bahagia meski harus berpisah. papa dan mama tetap bangga dan senang pernah memiliki menantu sepertimu! tapi jika masih bisa diperbaiki apakah tidak dicoba sekali lagi agar kalian tak menyesal nantinya" ucap mama herlina
"wily akan ikuti keputusan intan ma, pa! wily akan berusaha lebih keras jika intan memang menginginkannya. tapi rasanya sudah wily lakukan semuanya dan mungkin saat ini adalah waktu yang tepat ma
wily bukan tak mencintai intan lagi, justru karena rasa cinta ini wily ingin intan mendapatkan apa yang ia mau" wily menyampaikan apa yang memang harus ia bicarakan pada orang tua intan
"pa, bagaimana ini?" mama herlina menangis
"kamu yakin wil? apa kamu sudah menyerah" tanya pak aji tak rela kehilangan menantu sebaik ini
"wily hanya bisa menyetujui keputusan intan pa, semua tergantung pada intan" jawab wily
.
.
.
.
.
"ma, pa!" intan masuk dan sempat mendengar sedikit ucapan wily
"duduk nak, kami juga mau bicara denganmu" ucap pak aji
"ada apa mas, ma, pa?" intan bingung mamanya menangis dan wajah wily tak seperti biasanya
"apakah kamu mencintai saya?" tanya wily berterus terang
"mmmm,,,,,,,mmmm aku! mas aku" intan terbata menjawab pertanyaan wily yang tiba-tiba
"ngga apa-apa sayang, jangan dipaksakan!" wily tersenyum dengan hatinya yang begitu sakit
"saat ini, mas mau tanya apakah kamu masih akan menjadi istri mas dan melakukan semua kewajiban dan menadapatkan hak sebagai istri seutuhnya, atau kamu butuh waktu untuk berfikir dan bahkan kamu ingin kita sudahi semua sekarang" wily memegang tangan intan dan menanyakan didepan orang tuanya langsung
sudah terlanjur orang tua tau, wily dan intan tak lagi ingin menutupi yang terjadi dalam pernikahannya
"jawab nak, sesuai kata hatimu kami tak akan marah" ucap mama herlina
sedangkan papa aji hanya diam saja tanpa bicara sepatah kata pun
"mas, ma dan papa. maafakan intan! intan rasa tak ada yang bahagia dalam pernikahan ini. intan ingin semua berakhir saja sekarang. dan intan sedang ingin sendiri sekarang. intan hanya ingin menenangkan diri saat ini
maafkan intan!" intan memeluk papanya dan menangis tersedu
wily mengusap punggung intan. " tidak apa-apa intan jangan menangis! jika ini yang terbaik saya akan ingat kamu pernah jadi bagian hidupku" ucap wily dengan tenang dan berpamitan dan meminta maaf pada mertuanya
wily tak pernah menyangka ini hari terakhirnya melihat istrinya dan kedatangnnya bukan membawa istrinya pulang tapi justru menyerahkan pada orang tuanya.
ia masih tak menyangka jika intan begitu mudah memutuskan semuanya tanpa sedikitpun berat dihatinya
"om mau kemana?" tanya bocah kecil yang memberinya harapan
"om mau pulang dulu, juna jadi anak yang pintar ya dan jaga tante intan untuk om!" ucap wily pada juna yang belum mengerti apa yang diucapkan orang dewasa
"saya pamit ndra" ucap wily berjalan cepat dan keluar dari rumah megah melajukan mobilnya kencang