
Cinta keluar dari kamar mandi dan mendapati Rangga sudah berdiri di depan cermin. Pria itu sedang sibuk memasang kancing kemeja yang dikenakannya.
"Kamu sudah selesai?" tanyanya pada Cinta tanpa menoleh pada empunya yang ditanya. Dia masih sibuk dengan kemejanya.
"Iya," jawab Cinta lesu.
"Aku minta maaf, sepertinya aku tidak jadi mengantarmu pulang. Kamu bawa mobil sendiri, 'kan?" Rangga melirik Cinta sekilas lalu kembali menatap pantulan dirinya di cermin.
"Aku harus secepatnya bertemu Mario sebelum berangkat ke bandara." Rangga masih sibuk merapikan kemejanya, lalu melewati Cinta begitu saja untuk menuju laptopnya. Sembari memasang dasi, Rangga fokus menatap laptopnya, hingga mengabaikan Cinta yang sedari tadi memperhatikannya.
Sebenarnya Cinta ingin menghampiri Rangga dan memasangkan dasi pria itu seperti yang dulu sering dia lakukan. Namun, dia harus sadar situasinya sudah berbeda sekarang. Dalam ingatan pria itu, dia bukan siapa-siapa.
"Hm, tidak apa-apa," jawab Cinta lemah. Ada nada kecewa dalam suaranya. Dengan malas dia menyeret kakinya menuju ranjang lalu mendudukkan dirinya di sana. Suasana menjadi sangat hening. Untuk menutupi kebosanan Cinta memainkan ponselnya.
Namun, tidak berapa lama bel pintu kamar mereka berbunyi.
"Aku barusan menghubungi bagian room service, kita sarapan dulu sebelum pergi." Rangga tersenyum sekilas sebelum menuju pintu.
"Selamat pagi Tuan," sapa seorang gadis yang mengenakan seragam kerja dari hotel itu. Gadis itu membungkuk sebentar dan tersenyum ramah.
"Selamat pagi," sahut Rangga dengan tersenyum ramah juga.
"Maaf Tuan, apa benar di sini room atas nama Tuan Ben Damian Ezra?"
"Iya betul,"
"Saya dari bagian room service di hotel ini membawa sarapan pesanan Tuan."
"Owh iya, silakan masuk." Rangga tampak berpikir saat pegawai hotel itu hendak memindahkan makanan dari kereta makanan yang dibawa tadi ke atas meja.
"Tunggu sebentar," cegah Rangga, "saya tanya istri saya dulu mau sarapan di mana."
"Baik, Tuan." Pegawai itu mengangguk, sebelum Rangga meninggalkannya menuju kamar utama.
"Cinta," panggil Rangga dari depan pintu.
"Iya," jawab Cinta sumringah saat mendengar Rangga menyebut namanya. Dia segera berdiri dari ranjang untuk menghampiri Rangga.
"Ada apa, Kak?" Cinta menekuk kedua alisnya karena Rangga hanya terdiam memperhatikan dirinya.
"Kamu cantik juga ya," goda Rangga yang baru sempat memperhatikan Cinta.
"Hm, dari tadi ke mana aja?" cibir Cinta yang dibalas senyuman oleh Rangga.
Cinta tampak menimang, "Emm, kayaknya di balkon aja deh Kak, sambil menikmati matahari pagi."
"Ok, aku rasa juga lebih baik begitu."
Rangga keluar lagi untuk memberi tahu gadis tadi agar membawa sarapan mereka ke balkon.
"Bu Cinta?" Gadis itu tampak kaget saat mendapati Cinta di dalam kamar.
"Oh hai," sapa Cinta yang tersenyum ramah kepada gadis yang menjadi karyawan hotelnya.
"Jadi, Tuan Ben ini suami Bu Cinta? Ah, maafkan saya Tuan, karena tidak mengenali Anda tadi." Gadis itu menundukkan kepalanya lagi. Sementara Rangga menepuk dahinya, menyadari dirinya yang sudah keceplosan bicara tadi. Dia yakin setelah ini Cinta pasti mencercanya dengan banyak pertanyaan.
"Tidak apa-apa, letakkan saja makanannya di sana," perintah Rangga pada gadis itu.
"Baik Tuan," sahut gadis itu. Setelah selesai meletakkan semua makanan di atas meja yang ada di sudut balkon, gadis itu ijin pamit pada Rangga dan juga Cinta.
"Mataharinya cerah ya," celetuk Rangga demi mengalihkan perhatian Cinta. Dia tersenyum dan mengedarkan pandangannya, memandang seisi balkon yang terlihat indah karena pantulan sinar matahari pagi. Tetesan embun pagi masih terlihat di pucuk dedaunan dari tanaman hias dan tanaman bunga yang berwadah pot dan tertata rapi di sebelah pagar pembatas balkon. Pria itu Mengabaikan Cinta yang sedari tadi menautkan kedua tangannya di depan dada dan menyorot tajam ke arahnya.
Rangga bukannya tidak sadar tetapi, dia sengaja mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia yakin Cinta akan meminta kejelasan dari ucapan pelayan tadi. Namun, dia tidak ingin menjelaskannya sekarang. Dia tidak ingin rencana yang sudah dia susun bertahun-tahun terbongkar begitu saja.
"Apa maksud pelayan tadi? Kenapa dia bisa tau kalau Kakak adalah suamiku? Apa Kakak yang tadi mengatakan itu padanya?"
Benar, 'kan? Persis seperti yang sudah Rangga duga. Cinta pasti akan menanyakan hal itu padanya.
Hah, mulut ini kenapa tidak bisa dikondisikan?! maki Rangga pada dirinya sendiri.
"Em ... itu ...." Rangga menggaruk alisnya yang tiba-tiba terasa gatal. Dia memutar otak untuk bisa memberikan alasan yang paling masuk akal untuk Cinta. Dia melirik Cinta yang masih menatapnya dengan intens untuk menunggu jawabannya.
"Emm ... tadi aku hanya spontan mengatakan itu padanya, maaf. Dia melihatmu sepagi ini di kamar hotel seorang pria dan hanya berdua saja. Di sini kamu atasan mereka, aku hanya tidak ingin mereka berpikir dan berbicara yang tidak-tidak tentangmu. Aku tidak mau gara-gara aku, kamu kehilangan kehormatan dan wibawamu di depan bawahanmu." Rangga memasang wajah sesantai mungkin, mengurai alasan dengan panjang lebar disertai senyum manisnya. Oh God! Bolehkah sekarang dia mendapat piala oscar? Bagaimana bisa kata-kata itu terlontar begitu manis dari bibirnya?
"Ya, kamu benar. Ck, aku malah tidak berpikir sejauh itu." Cinta berdecak, yang dikatakan Rangga memang benar. Dia adalah atasan di hotel ini. Apa yang akan dikatakan para bawahannya nanti, jika mendapati dirinya bermalam di kamar hotel bersama seorang pria. Ya, walaupun Rangga memang suaminya tetapi, kondisi Rangga yang sekarang sedang tidak mendukung untuk hal itu.
"Sebaiknya kita sarapan. Aku harus secepatnya bertemu Mario sebelum ke bandara." Rangga mendekati Cinta lalu mengusap rambut gadis itu. Membuat Cinta tersenyum bahagia mendapat perlakuan Rangga yang sangat dia rindukan itu.
...****************...
Hay guys makasi yah udah setia ngedukung karya receh dari author remahan ini😑
Jangan lupa like dan comen, bila perlu hadiah juga vote kalian biar author remahan ini lebih semangat lagi up🤣
Ok, thanks all n see u next chapter ya guys🤗