
"Ocha!" Panggil Windy saat melihat Ocha menuruni tangga.
"Iya Mah..." Menghampiri Windy yang tengah menyiapkan makanan untuk nya dan Ocha sarapan.
"Hari ini kamu sibuk gak? Temenin Mama ke rumah sakit yuk, kita jengukin Anin" ajak Windy.
"Em, kaya nya Ocha gak bisa deh Mah!" Wajah Ocha berubah sendu.
"Tapi, kenapa?"
"Ada banyak kerjaan yang harus Ocha urus di kantor. Lagi pula Ocha kan udah jengukin Anin kemarin" elak Ocha.
"Tapi kan kamu jenguk Anin saat Anin belum sadar. Semalam Mama telfon Tante Alin, dan Tante Alin bilang kalau Anin udah sadar..." Ucap Windi senang.
Ocha menghela nafas nya, Ocha bukan nya tidak tau sebenarnya Ocha sering menghubung Alin untuk menanyakan keadaan Anin, maka dirinya juga tau jika Anin sudah sadar.
Tak sengaja Ocha melihat kartu undangan di ujung meja makan tepat di samping Windy. Ocha mengambil kartu undangan yang ia yakini jika itu kartu undangan pernikahan Anin. Ocha menatap kartu undangan itu seraya tersenyum tipis.
"Undangan nya bagus ya?" Tanya Windy, saat melihat Ocha tersenyum memegang undangan itu.
Ocha mengangguk kecil, ia teringat saat Anin menunjukan picture undangan yang ia pilih pada nya. Undangan yang sama dengan yang ia lihat di gambar. Namun, menurut Ocha ini lebih bagus dari yang di gambar kala nama Anin dan Bastian terukir dengan indah di depan undangan nya.
Ocha duduk di seraya membuka kartu undangan nya, walaupun ia tau isi dalam undangan sama saja. Namun, entah kenapa melihat undangan Anin ada rasa penasaran di hatinya.
Dengan gerakan pelan Ocha membukanya, senyuman kembali terbit di bibir nya. Ocha mulai membaca setiap kata yang tertulis didalam nya, Ocha juga membaca nama lengkap Anin padahal ia sudah tau itu.
Kini mata nya beralih pada nama lengkap Bastian, ekspresi Ocha biasa saja bahkan senyuman masih terukir indah di sana. Namun tiba-tiba Ocha menghentikan kegiatan membaca nya, mata nya kembali tertuju pada nama lengkap calon pengantin pria. Seketika senyuman itu menghilang, tatapan Ocha tak teralihkan dari nama Bastian.
BASTIAN ADELIO WILSON, begitulah untaian kata yang tertulis dengan cetakan tebal di bawah nama Anin.
"Adelio?" Cicit Ocha.
Ocha kembali teringat dengan pembicaraan nya dengan Vina waktu itu.
"Vin, sebenarnya siapa sih nama cowok itu. Gue jadi penasaran?" Tanya Ocha.
Vina tersenyum, "Adelio..." Jawab Vina cepat.
Kesadaran Ocha kembali, ia melihat ke arah undangan itu lagi. Ocha mulai merangkai setiap kejadian yang memang sejak awal mencurigakan menurut Ocha.
Pertama pertemuan Vina dan Bastian saat di rumah Anin. Vina yang membuat disert dari buah yang di sukai Bastian yaitu mangga. Ekspresi Vina yang selalu berubah saat Ocha membicarakan hubungan Anin dan Bastian, dan perempuan yang ia temui waktu itu. Walau Ocha melihatnya dari belakang, namun Ocha merasa kalau wanita itu mirip sekali dengan Vina. Yang paling jelas adalah saat kejadian di cafe, dalam rekaman cctv jelas terlihat jika wanita yang bersama Bastian adalah Vina. Namun, Vina mengatakan jika ia bertemu dengan Adelio.
Otak Ocha benar-benar berputar sekarang, ia mulai merangkai semua nya. 'Deg' Ocha baru ingat jika Vina tinggal di Australia dan kuliah disana.
"Apa sebenarnya Bastian dan Vina itu kuliah di universitas yang sama? Apa yang Vina ceritakan tentang cowok yang bernama Adelio itu sebenarnya adalah..." Batin Ocha, "Bastian?!" Ucap Ocha pelan.
"Ini minum nya Non..." Ucap Bi Asih hendak menyimpan gelas di atas meja.
Ocha yang tengah melamun, memikirkan semua kejadian dan merangkainya. Terkejut mendengar suara Bi Asih, hingga tanpa sengaja Ocha menyenggol lengan Bi Asih.
'Prengg'
Refleks Ocha berdiri, ia melihat gelas yang kini sudah pecah dengan air yang berhamburan dilantai.
"Ocha, ya ampun... Kamu baik-baik aja?" Ujar Windy, melihat kondisi Ocha dengan raut wajah cemas.
"Ocha gak papa Mah! Bi, bibi gak papa kan?" Tanya Ocha melihat Bi Asih nampak terkejut.
"Bibi, gak papa Non!" Jawabnya mengangguk.
"Maafin Ocha ya Bi ! Tadi, Ocha gak sengaja.." ucap Ocha menyesali perbuatannya.
"Tidak papa Non! Sebentar Bibi bersihin dulu ya," kata Bi Asih lembut.
"Gak papa Bi, biar Ocha aja yang bersihin" menghentikan langkah Bi Asih.
"Eeh... Jangan! Biar Bibi aja" cegah Bi Asih, yang tak mungkin membiarkan anak majikan nya membersihkan pecahan gelas.
"Maafin Ocha ya Bi!" Ucap Ocha lirih.
Bi Asih tersenyum, "Sudah tidak papa. Non sama Ibu lanjutin sarapan nya, Bibi mau ambil peralatan nya dulu" Bi Asih berlalu ke belakang.
"Mah, Ocha pamit duluan ya..." Kata Ocha tiba-tiba.
"Tapi, kamu belum sarapan!"
"Nanti, Ocha sarapan di luar aja..."
Ocha melangkahkan kakinya, "Soal jengukin Anin gimana?" Ujar Windy.
Ocha berbalik menatap Windy, "Mama duluan aja, nanti kalau urusan Ocha udah selesai. Ocha langsung kesana!"
Windy menggelengkan kepalanya, "Yaudah, hati-hati!" Ocha hanya membalas dengan senyuman kemudian berlalu pergi.
Ditengah perjalanan, Ocha menghubungi nomor Vina. Ocha memasang earphone ke telinganya, cukup lama sambungan nya terhubung namun Vina masih belum mengangkat telfon nya. Terdengar suara operator disebrang telfon, Ocha menghubungi ulang. Hingga akhirnya diangkat juga.
"Hallo!" Sapa Vina dengan suara serak khas bangun tidur.
"Lo masih tidur?"
"Enggak!"
Ocha menghela nafasnya, sebenarnya mulutnya sudah gatal namun Ocha berusaha menahannya.
"Vin Lo tau gak kalau Anin dirawat di rumah sakit?" Ucap Ocha.
Mata yang awalnya hendak tertutup lagi, kini membulat sempurna. Vina menyibak selimutnya, ia beranjak duduk.
"Apa? A-Anin dirawat? Tapi kenapa?" Tanya Vina beruntun.
"Dia mengalami Hipotermia. Lo beneran gak tau, padahal Anin udah dirawat dua hari disana?"
"Jadi, ini sebabnya Lio nyuekin gue. Dan, gara-gara Anin juga Lio marah sama gue waktu itu" batin Vina.
"Gue baru tau kalau Anin di rawat" Ucap Vina apa adanya.
"Lo baru tau, atau emang Lo gak mau tau?" gumam Ocha pelan.
"Maksud Lo?" Kini g Vina nampak berkerut.
"Em, gak papa! Yaudah mending sekarang Lo jengukin Anin, kebetulan dia udah sadar. Jangan sampe Anin marah sama Lo, karna Lo gak dateng jengukin dia!" Sambung Ocha.
Sebenarnya Vina enggan bertemu Anin, tapi ia teringat pada Bastian. Vina yakin jika Bastian ada di rumah sakit menemani Anin. Ia tersenyum sinis,
"Iya Cha, sekarang gue kerumah sakit. Em,, Lo sendiri gimana?" Tanya Vina.
"Gue udah jengukin Anin kemarin, hari ini gue lagi banyak kerjaan. Mungkin nanti gue nyusul kalo kerjaan gue udah selesai," sahut Ocha.
Vina mengangguk tanpa curiga, "Yaudah kalo gitu, gue mau mandi dulu."
"Oke!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selesai membersihkan diri, Anin berjalan dengan pelan menuju wastafel. Memanut dirinya dicermin seraya mengeringkan rambut basah nya menggunakan handuk.
Anin melihat kertas di atas wastafel yang tertindih wadah sikat gigi. Anin mengambil kertas tersebut dan membacanya,
..."Selamat pagi sayang... Maaf Mama sama Papa pergi tampa ngasih tau kamu. Begitu banyak yang harus Mama sama Papa urus, mengingat pernikahan kamu tinggal satu minggu lagi. Tapi Mama percaya sama Bastian, dia pasti bisa jagain kamu. Mama juga udah siapkan semua kebutuhan kamu, handuk sampai baju" ...
Anin melihat baju yang ia pakai saat ini di pantulan cermin seraya tersenyum. pantas ada handuk dan baju yang digantung di kamar mandi, Pikir Anin
..."O iya Mama lupa kasih tau kamu. Kemarin Ocha dateng jengukin kamu tapi kamu nya belum sadar. Jadi, Ocha nitipin sesuatu sama Mama. Kotak kecil berwarna cream ada di laci samping tempat tidur kamu. Jaga diri kamu ya sayang jangan lupa makan dan minum obat nya oke!"...
"Jadi, kemarin Ocha ke sini. Tapi dia bawa apa ya? Jadi penasaran," Gumam Anin.
...****************...
Bonus nih... Jangan lupa like, sama komen nya😊
BSC❤️