Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Malu-malu mau


"kak lapar, kita makan dulu ya" ajak wendi yang merasa lapar setelah perjalanan jauh dan lama dipesawat


"kita makan dihotel saja kakak lelah" jawab wily tegas tak mau dibantah seperti biasanya


"berapa jam perjalanan ke hotel?" tanya wendi mengikuti langkah kaki kakak dan asistennya


" sekitar tiga puluh menit wen" jawab tyo yang memang umurnya berbeda sekitar lima tahun dari wendi


dan wendi tak mau dipanggil kecuali namanya saja


"oke lah, setelahnya aku akan makan yang banyak" ucap wendi


.


.


.


.


"hubungi pacarmu sedang apa mereka dikamar" perintah wily pada adiknya


wendi terkejut mendengar kakaknya berbicara, " dari mana kakak tahu aku. ahh maksudnya ya sudahlah. kakak sudah tahu ini dan aku juga ngga mau disuruh putus" ucap wendi pada wily yang tak sabar melihat istinya


"bisa sekarang ngga? atau kamu mau diantar pulang lagi sama tyo" ancam wily


"siap bos" wendi menghubungi puspa yang ada didalam kamar, ia mengatakan sedang mengepak barang agar besok pagi tak kesiangan dan ketinggalan pesawatnya


begitu juga dengan intan dan hani yang membereskan banyak barang belanjaanya


"kaka mereka ada dikamar sedang mengepak barang. kita menginap disini juga kak?" tanya wendi


"kamu pesan berapa kamar tyo?" tanya wily


"tiga pak, saya rasa bapak tak mau kan tidur dengan saya" ucap tyo becanda


"bagus kalau begitu, ayo bawa barang kita istirahat" ajak wily diperjalanan ia bertanya nomer kamar intan dan wily tak langsung kekamarnya melainkan kekamar istrinya dulu


tok...tokk....tok...


"siapa?" tanya seseirang dari dalam kamar


ketukan pintu kembali terdengar, intan yang sudah membaringkan diri dikasur enggan bangun


"tolong bukain dong, kalian berdua deh kalau ada yang macem-macem kan tingagal teriak" ucap intan dengan santainya


mau tak mau hani dan puspa mengendap dan membuka pintuny dengan rasa takut, waktu menunjukan pukul sebelas malam waktu setempat


"pak!" hani mau berteriak tapi wily memberikan kode agar diam dan meminta keduanya untuk menggunakan kamar wily malam ini, bertukar dengan wily yang akan tidur dikamar bersama intan


"ini kunci kamar saya, kalian malam ini tidur disana. dan satu lagi ingat jangan salah kamar dan jangan tidur sama wendi" pesan wily


keduanya mengangguk mengiyakan ucapan wily, dan keluar kamar meninggalkan intan sendirian


"hani, puspa kalian ngapain sih lama banget! siapa yang datang?" intan berteriak tak ada sahutan ia meletakan ponselnya dikasur karena penasaran apa yang terjadi



"siapa itu?" intan mencari tombol lampu dan menyalakannya


"mass....


mas wily?" intan sangat terkejut dengan kedatangan sosok tampan mempesona dihadapannya saat ini


"kamu bukan sih mas? apa aku hanya mimpi tapi belum tidur tadi" ucap intan pada dirinya sendiri


wily mendekat dan memeluk tubuh mungil yang dia rindukan, istri cantik yang sudah sepekan ini tak menemani hari-harinya


"mas kenapa ngga ngabarin mau kesini" intan tetap berada dipelukan suaminya yang juga mulai ia rindukan


keberadaanya sudah mempengaruhi pesarasaanya


"diamlah, jangan cerewet mas mau memelukmu lebih lama lagi" jawab wily merasakan lega dihatinya dapat bertemu wanita yang mulai mengisi hatinya yang kosong


"apa kau merindukanku hemmm?" tanya wily melepaskana pelukannya dan menatap wajah dihadapanya


intan malu mengakuinya jika ia juga merindukan suaminya, bahkan sejak kemarin ia tak bersemangat karena tak ada kabar dari wily


"biasa saja,  kenapa ngga ngabarin dari kemarin dan kesini juga ngga bilang-bilang. kalau aku sudah pulang bagaimana?" intan terus menyerocos seperti biasanya


sebuah kecupan hangat mendarat pada bibir intan yang sejak tadi mempertanyakan banyak hal pada wily


"ini kan!" intan memukul lengan suaminya yang menciumnya lagi saat iya ingin prostes


"ini yang ketiga, jadi jangan bilang ciuman pertamamu" ucap wily membuat intan terkejut lagi dan lagi


"kapan yang pertama?" ucap intan


"yang juna katakan" jawab wily jujur


"jadi benar kamu sudah mencuri ciuman pertamaku" kesal intan


"ayo duduk mas lelah, kamu sudah makan?" tanya wily membelai wajah intan saat keduanya duduk di sisi ranjang


"hmmm" intan hanya mengangguk


wily tahu intan juga senang dengan kedatanganya, dilihat dari matanya yang memanacarkan kebahagian sama seperti dirinya


wily membawa kepala intan agar menyandar dipundaknya


keduanya terdiam dalam perasaan masing-masing," kita mulai semuanya dari awal, maukah kau menjadi istriku yang sesungguhnya intan pertiwi handoyo?" wily menyatakan keinginananya membangun rumah tangga yang sebenarnya dengan orang yang ia cintai saat ini


wily juga tahu intan mungkin belum bisa sepenuhnya menerimanya tapi dia akan berusaha


"bukankah aku sudah menjadi istrimu mas?" intan menjawab pertayaan wily dengan balik bertanya lagi


"tapi aku tak tahu dimana hatimu dan untuk siapa dulu, sekarang aku ingin kita memulainya lagi dan saling mencoba mencintai satu sama lain, maukah kau melakukan itu bersamaku?" tanya wily memutar badannya agar berhadapan dengan intan


"iyaa mas, aku mau" intan menunduk terlalu malu untuk dapat menatap wajah suaminya yang juga mentapnya intens


matanya saat ini berkaca-kaca namun bukan karena kesedihan melainkan terharu dan senang


"terima kasih sayang, mas janji akan selalu setia padamu dan mencintaimu" ucap wily


tangannya membelai wajah intan dan menangkup dengan kedua tangannya, wily memajukan wajahnya dan cup kedua bibir saling menyatu dalam heningnya malam dan suasana malam yang hangat, pagutan keduanya berakhir saat suara ketukan pintu membuyarkan kedunya


"sial! siapa yang berani mengganggu malam begini" ucap wily beranjak dari ranjang dan membukakan pintu dengan umpatan yang dilontarkan


intan menahan wajahnya yang panas dan mungkin saat ini memerah dengan perlakuan nakal suaminya


"ada apa?" tanya wily kesal


"maaf pak ponsel bapak tertinggal, dan sejak tadi berbunyi" ucap tyo yang mengantarkan ponsel wily tertinggal ditas yang dibawakan oleh tyo


"ada lagi?" tanya wily tak sabar


"jangan lupa pak rapat besok jam sembilan, saya atur dihotel ini agar tak perlu repot" ucap tyo menjelaskan


"ingatkan besok, dan bangunkan jam delapan, jangan kurang dan lebih" ucap wily lalu menutup pintu dan kembali bersama intan


malam yang sangat indah tak dilewatkan begitu saja bagi keduanya. saling berpegang tangan dan intan menyandar pada dada bidang milik suaminya dalam satu ranjang yang sama,


"mas?"


"hemmm? ada apa sayang?" wily mencium tangan intan


darah intan berdesir ketika panggilan sayang terlontar dari bibir suaminya


"mama bilang mas ngga pernah pulang kerumah sejak aku pergi, mas kemana saja" tanya intan yang mendengar dari mertuanya saat keduanya saling menghubungi beberapa waktu lalu


"mas dikantor sayang, kalau tidak percaya tanya saja sama tyo" ucap wily menjelasakan pada istrinyaagar tak overthinking


"selama seminggu? ngapain" intan mengintrogasi


"mas kerja lembur setiap hari samppai malam, biar bisa berlibur dan menjemput istri mas. dan mau pulang juga malas karena ngga ada kamu dirumah. lebih baik tidur dikantor saja" jawab wily


"benarkah? kamu ngga aneh-aneh kan mas?" desak intan


"ya ngga lah, kalau mau aneh-aneh sama kamu kan bisa" jawab wily yang matanya sudah mulai lelah dan mengantuk


"kita lanjut besok gimana sayang introgasinya, mas ngantuk banget " ucap wily


"iya mas, ayo tidur ehh kita tidur bersama" ucap intan


 sudah tak ada jawaban dari wily yang terlelap mungkin karena kelelahan pekerjaan dan diperjalanan


pelukannya begitu kuat, hingga intan tak bisa melepaskannya dan ia menyusul tidru dalam dekapan wily dengan pasrah dan senang tentunya