Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Empat


Mediz mendapat pertanyaan tersebut hanya nyengir kuda.


Tamat riwayat nilainya sekarang. Beneran ga bakal lulus tahun ini.


"Ehem" Mediz berdehem untuk menghilangkan kegugupan yg luar biasa. "maaf pak. Bapak calon tunangannya Sarah?" Mediz mengalihkan percakapan.


"Sarah?" Zafir menautkan alisnya.


"Ehem" Mediz berdehem kembali.


"Saya penyedia undangan pertunangan bapak dengan Sarah. Apa betul bapak calon tunangannya Sarah?" Tanya Mediz lagi yg melihat raut bingung Zafir.


"Oh jadi Sarah pesan undangannya sama kamu? " tanya Zafir tanpa mempersilahkan Mediz duduk.


Set dah kaki gue lemes ini kenapa ? Ajak duduk dulu napa pak. Dumel Mediz dalam hati.


"Iya pak. Saya sudah membawa contoh undangannya." Mediz spontan langsung mengambil contoh undangannya dan memberikannya kepada Zafir.


"Boleh saya duduk pak?" Pasalnya kakinya sudah benar benar lemas karna gugup tadi.


"Duduklah" jawab Zafir datar.


Zafir memperhatikan beberapa contoh undangan tersebut dengan seksama. Tampak tenang dan serius. Sebelum membuka suata bertanya dengan Mediz.


"Kamu yg punya percetakan undangan ini?"


"Iya pak" jawab Mediz yakin.


Ya dia harus yakin dengan usahanya. Jika tidak yakin akan usahanya sendiri dia tak akan maju dan berhasil. Itu motifasinya.


"Berarti ini bisnis kamu?" Tanya Zafir lagi.


Mati kan gue. Udah ngomong soal bisnis. Beneran mati gue. Sarah cepetan dateng napa? Jerit Mediz dalam hati.


"Iya pak" jawab Mediz lagi.


"Kamu punya usaha. Punya bisnis tapi kamu tidak pernah masuk mata kuliah saya?" Tanya Zafir menatap Mediz mengintimidasi.


Mediz menelan ludahnya kasar.


Ya elah gini amat hidupnya. Cuma mau ngasih sample undangan harus kaya mau sidang aja.


"Baiklah." Ucap Zafir karna dia juga tidak bisa berlama lama.


Setelah Zafir melihat lihat undangannya.


"Jadi menurutmu yg mana harus saya pilih untuk undangannya?" Zafir bertanya sambil menunjuk undangan tadi.


Lho kok jadi tanya gue? Gumam Mediz.


Walaupun bingung dengan pertanyaan dosennya tadi akhirnya dia menjawab juga karna dia tidak mau berlaka lama lagi dengan dosen kalemnya yg sebenarnya lumayan kejam juga itu.


"Kalau menurut saya ya pak mending yg ini saja " sambil menunjuk salah satu undangan yg lebih simple dari contoh yg lainnya. "Karna inikan baru tunangan jadi masih bisa dimaklumi jika undangannya simpel tapi masih terlihat mewah dan elegan." Tambahnya lagi.


"Jika nanti sudah undangan perbikahan baru memilih undangan yg lebih mewah lagi dari yg ini. Ya itung itung sekalian menghemat anggaran" terangnya.


"Baiklah saya pilih yg ini" Zafir menunjuk undangan yg disarankan Mediz tadi.


"Emm jadi yg ini ya pak? Deal?"


"Iya"


"Ok. Nanti setelah DP masuk undangan akan langsung kami cetak. "


"Ada lagi pak?"


"Kenapa kamu jarang masuk kelas saya? Apa kelas saya membosankan ? Jadi kamu lebih suka mendapatkan hukuman dari saya ?" tanya Zafir beruntun.


"kok jadi tanya soal kuliah sih pak?"


"Jawab pertanyaan saya. Karna saya tidak suka ada siswa saya bolos mata kulia saya"


"Jujur ya pak ini saya ya jawabnya. Otak saya tuh ga nyampe kalau dimata kuliah bapak. Ruwet kalau bahasa gaulnya. " terang Mediz.


"Terus jika kamu menghindar trs dimata kuliah saya kamu jadi tiba tiba bisa pintar sendiri ? Bisa dpaat nilai bagus ?"


"Ya ga sih pak. Tapi mau bagaimana lagi. Otak saya mentok" kilah Mediz.


"Ya udah ya pak saya permisi karna urusan undangannya sudah bapak setujui. Undangan akan kami kirim setelah tiga hari dari pembayaran DP awal. Saya permisi pak. Terima kasih"