Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Pemanasan


Hari baru menunjukan jam 10 pagi tetapi, sinar matahari sudah menyorot dengan terang. Menantang siapa saja yang sudah menjalani separuh pagi ini.


Bali sepagi ini sudah panas, apalagi di wilayah Kuta. Orang-orang dan kendaraan saling berdesakan di jalan, menambah padat wilayah Kuta karena orang-orang berebut akses untuk melakukan segudang aktivitas mereka.


Harusnya pagi ini, Cinta sudah duduk manis di ruangan kerjanya, melakukan aktivitasnya seperti biasa. Namun, karena semalam dia melakukan aktivitas tambahan bersama sang suami, pagi ini dia harus melewatkan jam kerjanya sejak 2 jam tadi.


"Aahhh," desah Cinta. Dia merasakan pegal di seluruh badan. Semalam Rangga sudah menghajarnya habis-habisan. Pria itu memang selalu punya cara tersendiri untuk membuat Cinta tidak bisa berkutik di bawah kungkungannya, hingga tanpa malu Cinta mengiyakan saat Rangga memintanya lagi, dan lagi.


Cinta yang tubuhnya masih digulung selimut tebal, merentangkan kedua tangannya lalu menggeliat malas di atas ranjang. Dengan mata yang masih terpejam dia menjatuhkan tangannya ke bagian kasur yang menjadi tempat Rangga terbaring semalam. Cinta menepuk bagian kasur itu karena tidak mendapati tubuh Rangga di sana. Perlahan dia membuka mata lalu terlonjak kaget saat melihat Rangga sudah tidak ada di sampingnya.


"Kak," panggil Cinta tetapi, tidak ada jawaban.


Segera Cinta bangkit dari ranjang lalu menggulung tubuh polosnya dengan selimut.


"Kak Rangga," panggil Cinta lagi di depan pintu kamar mandi. Namun, tidak ada sahutan dari dalam. Cinta membuka pintu dan memang tidak ada siapa pun di dalam sana. Dia mulai cemas dan panik, lalu bergegas menuju nakas untuk meraih ponselnya.


Cinta menghubungi nomor Rangga tetapi tidak dijawab. Dia mencoba lagi dan lagi tetapi, tetap tidak dijawab. Cinta mulai cemas dan panik, dia berpikir jika Rangga meninggalkannya lagi.



Dengan lemas Cinta duduk kembali di ranjang. Kristal bening mulai memenuhi mata indahnya hingga pandangannya menjadi buram. Entah kenapa dia menjadi cengeng dan gampang meneteskan air mata jika menyangkut suaminya.


Namun, tak berselang lama pintu kamarnya terbuka. Cinta segera menoleh lalu tersenyum lega begitu melihat Rangga muncul dari balik pintu. Pria itu tampak menyunggingkan senyum ke arah Cinta.


"Maaf, ponselnya aku silent jadi, baru sadar kamu dapet nelpon pas udah depan pintu."



"Kak," seru Cinta yang detik itu juga segera menghambur memeluk Rangga. Kemudian, terisak di dada suaminya itu.


"Eh, ada apa ini? Aku datang langsung dipeluk begini, kayak udah pisah lama aja," goda Rangga sembari mengusap punggung Cinta.


"Kita memang udah pisah lama," tukas Cinta, "kamu dari mana? Pergi gak bilang-bilang, bikin aku takut aja." Mengeratkan kembali pelukannya.


"Aku habis nyari udara segar di lagoon sambil cuci mata, liatin bule-bule seksi berjemur di pan ... akhhh," teriak Rangga saat Cinta menggigit dadanya. "Kenapa jadi ngigit?" Rangga mengusap dadanya yang bekas gigitan Cinta.


"Itu belum seberapa. Sekali lagi berani melototin tuh bule-bule, aku cekokin sianida kamu."


"Haha, galak banget sih. Aku bercanda, Sayang. Barusan aku habis ngantar Gilang dan yang lainnya ke bandara." Membimbing Cinta untuk duduk di sofa.


"Mereka udah berangkat? Kenapa cepat sekali? Dan gak nunggu aku dulu." protes Cinta. Dia merengut kesal lantaran teman-temannya berangkat tanpa pamitan dulu padanya. Padahal tadinya Cinta ingin berlibur dengan mereka. Bukankah sudah lama sekali mereka tidak bertemu.


"Gilang ada urusan mendadak dengan pekerjaannya. Lagipula, kamu tadi tidurnya nyenyak banget, aku gak tega buat bangunin." Mengusap rambut Cinta dengan lembut.



"Sekarang masih capek?" Cinta mengangguk. "Sayang sekali, padahal aku baru mau mulai lagi."


Sontak Cinta menoleh ke arah Rangga yang sedang menatap Cinta dengan menaik-turunkan kedua alisnya. Mengerti akan maksud suaminya, Cinta memperbaiki selimut yang masih menutup tubuhnya lalu segera bangkit.


"Aku mau mandi." Cinta sudah bersiap melangkah tetapi, tubuhnya tertarik lagi. Dia tidak bisa bergerak maju lantaran ujung selimutnya sengaja diinjak oleh Rangga.


"Cukup Kak, aku ingin cepat mandi, tubuhku rasanya sudah sangat gerah."


"Memangnya aku ngapain?" ujar Rangga dengan tampang bodohnya.


"Kamu menginjak selimutnya, bagaimana aku bisa ke kamar mandi."


"Ya sudah lepas aja selimutnya," jawab Rangga santai yang detik itu membuat Cinta melotot padanya.


"Kenapa malah melotot padaku?" Sudah berdiri dan mendekati Cinta. Tangan Rangga bermain di atas bahu polos Cinta. Membuat darah Cinta kembali berdesir. Tengkuknya seketika meremang membangkitkan kembali gelenyar aneh dalam dirinya.


Entah sejak kapan bibir Rangga sudah berada di leher Cinta, menyusuri setiap inci leher Cinta dengan kecupan-kecupan lembut yang menggairahkan.


"Kak, aku ...," desah Cinta di sela-sela kecupan Rangga yang membuat napasnya tersengal karena berusaha menahan hasratnya yang kembali bergelora.


"Hm, aku sudah menahan ini selama lima tahun. Jadi, untuk saat ini dan seterusnya jangan menyuruhku untuk menahan lagi." Rangga menjilat telinga Cinta hingga Cinta menggelinjang karena geli.


"Kak, bukankah semalam ...."


"Sstttt!" Meletakkan telunjuknya di bibir Cinta. "Semalam hanya pemanasan. Aku belum memulai apa pun denganmu." Cinta ingin menjawab tetapi, bibir Rangga sudah lebih dulu membungkam bibirnya. Menye*sap bibir atas dan bawah bergantian, bahkan sesekali menggigitnya lembut.


Selimut sudah terlepas dari tubuh Cinta. Dengan perlahan Rangga menggiring tubuh polos Cinta menuju ranjang tanpa melepas panggutan bibir mereka.


"Aku mencintaimu," bisik Rangga sebelum menenggelamkan kembali wajahnya di leher Cinta.


Semalam aja badanku rasanya sudah sampai remuk dan dia bilang hanya pemanasan, lalu sekarang apa? Apa yang terjadi dengan badanku setelah ini? Akhhh ....


...****************...


Next gak? πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡